Mantan Kabais TNI Soroti Insiden Penurunan Sejumlah WNA Awak Kapal MT Arman 114 di Batam

Mantan Kabais TNI Soroti Insiden Penurunan Sejumlah WNA Awak Kapal MT Arman 114 di Batam

Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS), Laksda TNI (Purn) Adv Soleman B Ponto. (Foto: ist)

Batam, Batamnews - Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS), Laksda TNI (Purn) Adv Soleman B Ponto yang juga merupakan aktivis Kemaritiman Indonesia menyoroti insiden penurunan 21 awak kapal MT Arman 114 yang diduga dilakukan oleh oknum Bakamla RI di hotel Grand Sydney, Batam, pada Jumat, 10 Mei 2024 kemarin.

Soleman B Ponto menyebut, tindakan oknum Bakamla RI terhadap awak kapal ini terindikasi melaksanakan penculikan dengan alasan bahwa awak kapal tersebut bukanlah tahanan atas kasus dugaan pencemaran lingkungan hidup atas aktivitas pembuangan limbah B3 di perairan Natuna pada Agustus 2023 lalu.

"Yang ditahan (Proses hukum) itu kaptennya. Sedangkan mereka adalah kru kapal harus tetap berada diatas kapal. Nah, ketika dia diambil, dipindahkan, dan dimasukkan ke situ (hotel Grand Sydney Batam) jadi dia diduga melakukan penculikan. Perlu diingat juga Bakamla naik ke atas kapal itu sudah merupakan suatu pelanggaran karena kapal itu adalah suatu Negara, untuk itu Bakamla tidak punya hak untuk naik ke atas kapal," ungkapnya kepada Batamnews.co.id melalui sambungan telepon WhatsApp, Sabtu, 11 Mei 2024.

Jika dilihat dari perkaranya, lanjut dia, kapal MT Arman 114 ini sudah berada dibawah kekuasaan penyidik KLHK. Sehingga Bakamla, ia nilai sudah membuat suatu kesalahan karena sudah naik ke atas kapal MT Arman 114 dan juga dapat diduga terindikasi sebagai perbuatan perompakan kapal.

Baca juga: WNA Awak Kapal MT Arman 114 Terpantau Bersantai di Hotel Batam Kota, Siapa Yang Bertanggungjawab?

"Karena apa? Karena orang yang tidak punya kewenangan naik ke atas kapal itu sudah merupakan suatu perompakan. Kemudian, kru kapalnya diambil dan ditaruh di hotel itu sudah merupakan tindakan penculikan," ujarnya.

Apalagi, kru kapal yang diambil ini diketahui juga tanpa memiliki dokumen pasport (Keimigrasian) karena masih ditahan oleh penyidik Gakkum KLHK.

"Perihal Imigrasi mengatakan bahwa ada pengecualian terhadap kru kapal yang inap di hotel Batam tersebut perlu dipertanyakan. Karena yang diperiksa atau yang diproses hukum itu kan hanya kapten kapal, anak buahnya tidak diperiksa. Padahal jelas mereka bilang sendiri, pengecualiannya itu untuk orang-orang yang sedang masa tahanan untuk kepentingan proses penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan," bebernya.

Kata dia, kru kapal yang diturunkan ini bukanlah seorang tahanan atau orang yang sedang berproses hukum. "Mereka orang bebas (Merdeka) yang ditahan itu hanya kapten kapal," ucapnya.

Baca juga: Dokumen WNA Awak Kapal MT Arman yang Naik ke Batam Dipertanyakan, Imigrasi: Ada Pengecualian!

Disinggung perihal sanksi militer atau hukum pidana terkait aksi penurunan sejumlah anggota kru kapal MT Arman 114 ini yang diduga dilakukan oleh oknum Bakamla RI, ia mengungkapkan hal itu jelas ada.

Menurutnya, kalau anggota Bakamla RI yang militer tentu akan dilaporkan ke POMAL dengan laporan penculikan, perompakan kapal, dan penyelundupan manusia. Itu akan dibawa ke Pengadilan dan Pengadilan akan memutuskan.

"Perihal penyelundupan manusia ini kan mereka bawa masuk tanpa proses imigrasi. Jadi, jika pihak imigrasi juga perlu dipertanyakan mengeluarkan pernyataan bahwa ada pengecualian terhadap insiden ini," tanya dia.

"Jangan-jangan Imigrasi telah mendapatkan sesuatu, karena yang sebagaimana kita tahu dalam berita acaranya itu cuma satu orang saja tersangka/terdakwa dalam kasus MT Arman 114 ini. Imigrasi ini bisa bermasalah kalau tidak tanggap mengenai hal ini," dugaannya.

Baca juga: Bakamla Diduga Pindahkan WNA Awak Kapal MT Arman 114 Tanpa Pemberitahuan ke Hotel di Batam

Selain itu, terkait permintaan KLHK kepada Bakamla untuk bantuan pengamanan seharusnya kepada pihak yang punya teritorial yaitu Polisi (Polair) bukanlah Bakamla karena Bakamla bukanlah penyidik dan juga bukan militer.

"Itu benar tidak KLHK minta (Pengamanan) ke Bakamla? Dia seharusnya minta kepada Polisi bukan kepada Bakamla karena wilayah teritorial itu kewenangannya di Polair," menurutnya.

Informasi yang diperoleh di lapangan bahwa sebelum terjadinya insiden penurunan sejumlah kru kapal ini, PT OMS selaku pemilik kapal mengajukan permintaan pergantian 6 orang kru kapal baru warga negara Iran untuk menggantikan 6 orang kru kapal yang sudah habis masa kontraknya.

Pengajuan permintaan pergantian kru sebanyak 6 orang ini disetujui oleh Dirjen Gakkum KLHK. Hal ini dibenarkan oleh Penasehat Hukum PT OMS, Sailing Viktor kepada Batamnews, Jumat, 10 Mei 2024 malam.

Baca juga: Bakamla RI Uji Fungsi Senjata SMASH 30 MM di Pulau Petong Batam

Kata dia, 6 orang WNA Iran yang saat ini berada di Batam itu merupakan anggota kru kapal baru dari pihak owner dan mereka saat ini tidak diizinkan naik ke atas kapal MT Arman 114.

"Informasi yang saya dapat mereka diungsikan juga oleh agen ke salah satu tempat penginapan di Batam. Cuman, lokasinya di mana saya masih belum tahu," jelasnya.

Disisi lain, pihak agen kapal MT Arman 144 dari PT GASS ketika dikonfirmasi oleh Batamnews.co.id perihal 6 orang anggota kru kapal baru dari PT OMS ini enggan berkomentar.

"Kita tidak mengetahui, kalau ingin lebih ingin tau, silahkan ke Bakamla ya," ujarnya singkat, Jumat, 10 Mei 2024 malam.

Baca juga: Mayor Bakamla Insan Aulia Gantikan Mayor Slamet Handhi Rahadiyono di Bakamla Karimun

Pergantian 6 orang crew kapal MT Arman 114 ini juga mendapat tanggapan dari, Soleman B Ponto. Menurutnya, pihak Bea Cukai bisa bertindak di sini (MT Arman 114) sebelum pergantian 6 orang crew kapal tersebut. Yang sebagaimana diketahui, pada kapal MT Arman 114 ini terdapat 272.569 metrik ton minyak mentah senilai Rp4,6 triliun.

"Karena itu kan ada minyak di atas kapal dan minyak itu harus disegel terlebih dahulu. Bisa saja modus pergantian crew ini untuk mempermudah penyelundupan minyak. Jadi, ini harus betul-betul diperhatikan," tegasnya.

(CR2)


Komentar Via Facebook :
close

Aplikasi Android Batamnews