Safari 'Politik' Ramadan, Menebar Citra di Tengah Kerumunan Umat

Safari

ilustrasi

Batam - Ramadan menjadi fenomena di mana banyak unsur politik seperti parpol, khususnya parpol-parpol besar melakukan safari ke masjid-masjid.

Mulai dari bagi-bagi sarung, bingkisan partai berlogo bakal calon presiden yang akan diusung pada Pilpres 2024.

Mengutip analisis dari Ardi Winangun, Ketua FASPPB-Megawati Institute, safari 'politik' Ramadan menjadi geliat politik di bulan Ramadan untuk kepentingan Pemilu, baik pemilu legislatif maupun pemilu presiden. 

Baca juga: Rakerda PKS Batam: Hasilkan Rekomendasi Politik dan Persiapan 2024

Tak hanya safari Ramadan untuk membangun citra, selama Ramadan ini di televisi, koran, majalah, dan media massa bentuk lainnya, para ketua umum partai atau ketua dewan pembina partai, menyampaikan pesan Selamat Menjalankan Ibadah Puasa.

Pencitraan ini akan meningkat ketika menjelang Hari Raya Idul Fitri tiba. Menjelang Hari Raya Idul Fitri, biasanya partai politik sudah menyiapkan banyak program, misal mudik bareng atau mudik gratis.

Dekatnya politisi dan partai politik kepada masyarakat selama Ramadan ini tentu menguntungkan masyarakat, sebab masyarakat diperhatikan dan dijamu. 

Tak hanya urusan 'perut' diperhatikan oleh partai politik selama Ramadan ini, bahkan ada partai politik yang menjanjikan membangun ribuan masjid.

Baca juga: Singapura Larang Peredaran Buku Kartun Politik Berisi Gambar Menghina Nabi Muhammad SAW

Ramadan digunakan untuk membangun citra sebab dalam bulan yang suci ini geliat umat Islam sangat tinggi. 

Dalam bulan ini pemerintah memberi keistimewaan bagi umat islam untuk menjalankan ibadahnya. Keistimewaan seperti jam sekolah di sekolah negeri atau di lingkungan pegawai negeri sipil yang lebih pendek dibanding hari-hari umumnya. 

Dalam bulan Ramadan ini, umat islam melakukan pertemuan-pertemuan yang melibatkan puluhan, ratusan, bahkan ribuan, setiap subuh, buka puasa bersama, dan saat salat taraweh.

Dalam pertemuan massa yang jumlahnya mencapai ribuan ini dilihat oleh politisi sebagai media yang empuk untuk berkampanye dan membangun citra. 

Baca juga: Putra Siregar: Saya Tak Terlintas Pengen ke Politik

Sehingga dalam moment ini para politisi menebar citranya di tengah kerumunan ummat. Apa yang dilakukan oleh politisi itu bukan sebagai wujud keimanan pada diri, namun untuk kepentingan politiknya. 

Lihat saja, selama Ramadan para politisi mampu mengubah sikapnya, yang biasanya tidak pernah taraweh dan puasa, tiba-tiba melakukan hal yang demikian. Politisi yang masuk dalam katagori abangan dan priyayi, tiba-tiba menjadi santri.

Menggunakan bulan Ramadan untuk berkampanye, dalam era reformasi bukan monopoli salah satu kekuatan partai politik. 

Bandingkan dulu di masa Orde Baru di mana yang menggunakan bulan Ramadan untuk kampanye hanya Golkar. Dengan Safari Ramadan-nya, Ketua Umum Golkar, Harmoko, dengan bebas dan gesitnya blusukan ke berbagai kabupaten dan pondok pesantren. 

Baca juga: Gerindra Ingatkan Golkar yang Begitu Berambisi di 2024

Dampaknya? Ya ada, di mana citra Golkar semakin populer dan dirasa semakin dekat dengan umat islam.

Meski ideologi dirasa tidak penting lagi, di mana masyarakat sekarang memilih partai berdasarkan program, namun sentimen ideologi masih penting. 

Bangsa Indonesia yang mayoritas berpenduduk Islam merupakan potensi yang selalu didekati dengan sentuhan-sentuhan emosi agama. Sentuhan agama ini harus diakui mampu mendongkrak perolehan suara. 

Buktinya salah seorang calon gubernur yang maju dalam putaran kedua dalam sebuah pilkada, untuk menepis isu-isu yang memojokan dirinya atas keislamannya, ia dalam bulan Ramadan ini melakukan umroh. 

Baca juga: Wan Siswandi Ungkap Fokus Pemda Natuna Saat Safari Ramadan Wagub Marlin

Dengan umroh itulah maka selain menunjukan identitas dirinya juga sebuah upaya untuk mendulang suara dari kalangan Ummat Islam.

Dengan semakin ketatnya persaingan dalam pemilu dan tak ada lagi istilah mencuri start kampanye, membuat demokrasi semakin mahal. 

Bayangkan, dengan beriklan selama Ramadan, sebulan penuh, pastinya memerlukan biaya yang tinggi. Dari sinilah partai politik dan politisi yang mempunyai dana besar atau memiliki media, ia akan royal beriklan selama Ramadan. 

Namun bagi partai dan politisi yang dananya cekak atau pas-pasan, mereka kebingungan untuk memanfaatkan moment Ramadan ini untuk bagaimana bisa mendekatkan diri kepada rakyat. Toh kalau mereka mau beriklan, paling tayangan yang ada terbatas. 

Dengan tayangan iklan yang muncul selama Ramadan ini kita bisa menilai partai mana dan politisi mana yang siap dalam Pemilu.

Baca juga: Masih Pandemi, Safari Ramadan Bupati Karimun Digelar Terbatas

Kondisi yang demikian, membuat politisi akan semakin banyak membutuhkan dana untuk mempopularitaskan diri. 

Dalam posisi yang demikian, bila politisi di-back up oleh pengusaha atau dirinya sebagai seorang pengusaha, ia bisa menjadi politisi yang popular.

Dalam menggalang dana untuk Pemilu, memang banyak cara yang dilakukan oleh partai politik. Bila tidak ada back up pengusaha, mereka memperolehnya lewat potongan gaji dari anggota DPR dan DPRD. 

Bahkan yang lebih gila, ada dorongan dari partai agar politisi Senayan mencari proyek yang besar di mana komisi yang ada dibagi untuk diri dan untuk partainya. Di sinilah maka korupsi itu marak.

(fox)
Komentar Via Facebook :