Sektor Properti Batam Masih 'Dihantui' Kendala Perizinan

Sektor Properti Batam Masih

ilustrasi.

Batam, Batamnews - Pasca keterpurukan ekonomi di masa pandemi Covid-19, ada hal lain yang jadi sorotan di sektor properti Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri) hingga kini.

Salah satunya pengurusan perizinan yang kerap jadi hambatan. Bagi pengusaha properti, kesulitan itu tentu jadi pemborosan dari sisi waktu dan lainnya.

Baca juga: Industri Properti Masih Bertahan di Tengah Pandemi

Sekretaris Real Estate Indonesia (REI) Khusus Batam, Robinson Tan mengatakan, banyak sektor yang mempengaruhi perkembangan properti di Batam diantaranya perizinan.

"Yang paling penting perizinan. Kita urus perizinan itu dari dulu susahnya luar biasa," ujar Robinson saat berbincang dengan Batamnews, Selasa (7/12/2021).

Meski sudah ada sistem pelayanan satu pintu berupa Online Single Submission atau OSS, namun pengoperasiannya masih belum maksimal. Sistem OSS kerap terjadi gangguan.

Tentu bagi pengusaha properti itu jadi hambatan serius. Karena harusnya pengurusan perizinan itu dipermudah atau setidaknya tak memakan waktu lama.

Baca juga: Di Bulan Nataru, PKP Luncurkan Easy Pay `Everyone Can Buy`

"Kita harus apresiasi pemerintah lewat sistem OSS. Tapi sejauh ini saya lihat itu belum berjalan dengan baik," kata dia.

Ditambahkan Robinson, dirinya memaklumi terjadinya hambatan di sistem tersebut. Ia pun menyarankan pemerintah harus mempersiapkan langkah antisipatif jika terjadinya gangguan pada OSS.

Selanjutnya: Prediksi Perkembangan Properti Batam di 2022...

 

Robinson tentunya bukan pemain baru di dunia properti Kota Batam. Dia cukup jeli membaca situasi terkini dengan apa yang akan terjadi di masa mendatang.

Menurut dia, sektor properti di Batam pada tahun 2022 bisa kembali naik seperti dimasa sebelum pandemi melanda. Kenaikannya diprediksi bisa mencapai 10 persen.

"Properti bisa menunjukkan tren positif di 2022 seperti kembali ke masa sebelum pandemi. Bisa tumbuh sekitar 10 persen," katanya.

Sementara sejauh ini, seiring melandainya kasus Covid-19, sektor properti sudah mulai menunjukkan perkembangan yang baik. Ia juga berharap tak terjadi lagi gelombang selanjutnya untuk kasus Covid-19 di Batam seperti tempo lalu.

"Di masa pandemi lagi parah-parahnya menghantam Batam, keterpurukan mencapai sekitar 10 sampai 20 persen untuk sektor properti," ujar dia.

Meski sektor tersebut diperkirakan menunjukkan tren positif di tahun depan, namun kembali lagi bergantung pada kebijakan pemerintah. 

"Saya tidak membicarakan kebijakan pemerintah yang merugikan pebisnis properti atau sebaliknya. Yang jelas kita berbicara mengenai kebijakan yang bisa mendorong perkembangan properti di Batam. Tergantung orang melihat dari aspek yang mana," kata Robinson.

Berbicara mengenai properti, tentu tak lepas dari sisi lahan, baik itu status lahannya dan lain-lain. Kemudian juga dari sisi pajak.

"Kalau untuk properti mungkin berbeda dari beberapa golongan. Kalau kelompok bawah yang penghasilannya terbatas, barangkali pemerintah harus memikirkan developer yang konsumennya menengah ke bawah itu pajaknya harus diringankan. Termasuk juga biaya listrik dan air yang sama besarannya, itu menyebabkan tidak adanya keseimbangan," ujarnya.

Di sisi lain, Robinson tetap optimis bahwa selalu ada kans untuk perkembangan ekonomi di Batam kembali membaik. Seiring dengan itu, tentunya juga akan berimbas pada seluruh sektor bisnis termasuk properti. 

(jun)