Industri Properti Masih Bertahan di Tengah Pandemi

Industri Properti Masih Bertahan di Tengah Pandemi

Ilustrasi

Batam, Batamnews - Pandemi Covid-19 membuat kondisi perekonomian Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri) tahun 2020 mengalami penurunan. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), angka pertumbuhan terkontraksi sebesar 2,55 persen.

Berdasarkan struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut lapangan usaha 2018-2020, tercatat struktur real estate 1,32 persen pada tahun 2018. Lalu pada tahun 2019 tercatat 1,25 persen dan pada pada tahun 2020 tercatat 1,04 persen.

Dari kondisi di lapangan, proses pembangunan properti baik untuk permukiman maupun mal tetap berjalan.

Baca juga: Uang THR Numpuk Gara-gara Mudik Dilarang, Waktunya Beli Properti

Menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Batam, Rafky Rasyid sekaligus pengamat ekonomi mengatakan bahwa sektor properti terkena dampak Covid-19, akan tetapi tidak separah sektor pariwisata.

“Hal ini bisa kita saksikan kalau proses pembangunan properti di Batam masih terus berlanjut,” ujar Rafky, Jumat (11/6/2021).

Ia menyampaikan, sektor properti masih tetap eksis karena perusahaan properti sudah mulai mengerjakan proyeknya selama bertahun-tahun. Sehingga walaupun ada pandemi Covid-19, proyek mereka tetap terus berjalan.

“Karena kalau dihentikan, maka kerugian tentunya akan lebih besar lagi,” sebut dia.

 

Rafky mencontohkan pembangunan mal yang membutuhkan waktu relatif panjang, sekitar 5 tahun. Jika proyek dimulai tahun 2018, maka pada saat pandemi dimulai tahun 2020 proyek masih berjalan.

“Maka ketika ada pandemi 2020 tentunya proyek mal tersebut akan terus dilanjutkan pembangunannya. Begitu juga dengan proyek properti lainnya seperti apartemen,” katanya.

Namun ia memperkirakan ancaman bagi perusahaan properti tetap ada, seperti menurunnya kemampuan atau daya beli konsumen. Akibatnya, properti menjadi tidak laku saat pembangunan selesai.

“Walaupun nanti Covid-19 misalnya sudah terkendali, namun daya beli untuk kebutuhan tertentu akan lebih lama pulihnya dibandingkan untuk kebutuhan pokok,” jelas Rafky.

Baca juga: PKP Hadirkan Noble Cove, Hunian Mewah di Jantung Kota Batam dengan View Laut

Maka dari itu, menurutnya pengusaha properti harus jeli dalam berhitung, dengan memperlambat proyeknya sampai bertepatan pemulihan daya beli konsumen. Serta permintaan untuk kebutuhan properti bisa normal kembali.

“Saya yakin setelah nanti pulih, akan ada pertumbuhan signifikan untuk sektor properti ini. Tinggal pengusaha bisa bertahan dan berhitung dengan tepat,” ujarnya.

Sementara itu, mengenai properti jenis mal, Rafki nantinya memperkirakan akan menghadapi risiko tingkat kunjungan rendah karena adanya pembatasan kegiatan masyarakat dari pemerintah.

“Pengusaha mal harus menyiapkan diri untuk menghadapi hal ini jika beroperasi di tengah pandemi Covid-19,” pungkasnya.

(ret)