KOLOM

Olahraga Sebagai Pembentuk Karakter Bangsa

Olahraga Sebagai Pembentuk Karakter Bangsa

Hasanul Fitrah Alba, M.Pd

Penulis : Hasanul Fitrah Alba, M.Pd

Dosen Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Founder “Zona Raga Bandung”

 

SAAT ini banyak pihak yang mengatakan bahwa bangsa ini mengalami degradasi mental yang sangat luar biasa. Tentu saja hali ini tidak akan terjadi apabila semua unsur bangsa ini kembali kepada nilai-nilai bangsa Indonesia yang sangat terkenal dengan ramah tamah, sopan santun serta berbagai nilai luhur lainnya. 

Kondisi ini juga akan terhindar jika bangsa ini memiliki karakter serta mentalitas yang kuat. Salah satu penyebab terjadinya degradasi mental adalah game online, saat ini game online sudah mewabah mulai dari anak-anak, bapak-bapak, bahkan kaum wanitu pun juga ikut untuk bermain game online. 

Selain itu akses internet tanpa diiringi dengan kesiapan psikologi, maka muncul kecenderungan akan mengisi waktu luangnya dengan bermain game online. Anak-anak yang biasa menghabiskan waktunya untuk bergerak dan bermain di lapangan, saat ini cenderung lebih banyak menghabiskan waktu luangnya dengan bermain game online. 

Game online yang disajikan dengan nuansa kekerasan dan kekejaman berupa: “perang-perangan, pukul-pukulan, tembak-tembaan” dan sejenisnya, menjadi inspirasi dalam kehidupan anak-anak. 

Kekerasan, kekejaman, kejahatan, dan sejenisnya yang dilakukan melalui game online sedikit-demi sedikit akan terpatri dalam pikiran anak, sehingga hal-hal yang luar biasa, jauh dari nilai-nilai karakter bangsa mulai bergeser dan dianggap biasa, “bukan dianggap perilaku buruk yang melanggar nilai-nilai karakter bangsa”.

Menciptakan manusia yang berkarakter tidak semudah membalikkan telapak tangan, ia harus di didik dari semenjak kecil dan karakter tidak dapat diajarkan seperti kita mengajarkan suatu teknik permainan olahraga. 

Karakter merupakan suatu gambaran kepribadian seseorang dalam memahami, peduli, dan bertindak atas nilainilai etika atau moral. Kebiasaan berpikir dan berbuat yang membantu orang hidup dan bekerja bersama-sama sebagai keluarga, teman, tetangga, kelompok, masyarakat, dan bangsa. 

Salah satu modal untuk membangun karakter bangsa dapat melalui pendidikan jasmani dan olahraga. Pengembangan karakter dilakukan melalui tiga tahap pengetahuan (knowing), pelaksanaan (acting), dan kebiasaan (habit). Keberadaan karakter tidak terbatas pada pengetahuan saja. 

Seseorang yang memiliki pengetahuan kebaikan belum tentu mampu bertindak sesuai dengan pengetahuan yang diperoleh, jika tidak terlatih (menjadi kebiasaan) untuk melakukan kebaikan tersebut. 

Karakter juga menjangkau wilayah emosi dan kebiasaan diri. Dengan demikian diperlukan tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu moral knowing (pengetahuan tentang moral), moral feeling atau perasaan (penguatan emosi) tentang moral, dan moral action atau perbuatan bermoral. 

Dengan demikian karakter tidak cukup hanya untuk diketahui, melainkan harus dilakukan dalam bentuk perbuatan moral, yang berujung pada pembiasaan sehari-hari. Karakter akan lebih mudah dan berhasil dilakukan melalui pembiasaan hidup, berbentuk kegiatan sehari-hari yang pada akhirnya akan menjadi sebuah kebiasaan (habit) dan bukan disajikan secara teoritik. 

Penanaman disiplin, jujur, tanggung jawab, dan kerjasama lebih mudah dilakukan dan dibentuk melalui kegiatan bermain, bukan disajikan secara teoritik. “Dengan bermain” seseorang akan kelihatan karakternya, apakah dia disiplin, jujur, tanggung jawab, dan kerjasama atau tidak.

Pendidikan jasmani dan olahraga memiliki peran besar dalam upaya pengembangan karakter, karena kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani melibatkan; kognitif, afektif dan psikomotor. Hal tersebut selaras dengan teori belajar gerak yang meliputi tiga tahapan, (1) kognisi, (2) asosiasi dan (3) otomatisasi. 

Pada bagian asosiasi inilah intervensi terhadap nilai-nilai karakter diasah. Kegiatan olahraga setiap komponen yang terlibat memiliki fungsi dan peran masing-masing. Ada pemain atau atlet, pelatih, wasit, dan penonton. Masing-masing memiliki peran yang berbeda, dan tidak ada yang tumpang tindih, misalnya menjadi pemain sekaligus wasit, atau wasit sekaligus penonton. Karena kejelasan peran tersebut, maka secara ethics, olahraga dapat digunakan sebaga alat dalam membangun karakter bangsa. 

Pemain, pelatih, wasit, dan penonton ketika berada di lapangan mematuhi peraturan yang berlaku, kesadaran mematuhi aturan tersebut menumbuhkan sikap disiplin, sportif dan bertanggung jawab. Seseorang yang melakukan aktivitas tersebut secara berulang-ulang, maka akan menumbuhkan kesadaran taat pada aturan yang berlaku, dan akhirnya memunculkan kebiasaan untuk hidup disiplin, sportif dan bertanggung jawab terhadap apa yang dia lakukan. 

Karakter seseorang akan kelihatan dari kehidupan sehari-hari. Sikap jujur, disiplin, sportif, kerja sama dan bertanggung jawab dibangun melalui perilaku, “BUKAN TEORITIK”, “When Wealth Is Lost, Nothing Is Lost, When Health Is Lost, Something Is Lost, When Character Is Lost, Everything Is Lost”. 

Jika kekayaan kita hilang, maka tidak ada yang hilang. Jika kesehatan kita hilang, maka ada sesuatu yang hilang. Jika karakter kita hilang, maka semuanya akan hilang. ***


Berita Terkait