Peran Masjid Cegah Stunting

Peran Masjid Cegah Stunting

Masjid Dompak, Tanjungpinang.

Oleh: Robby Patria*

STUNTING masih menjadi permasalahan serius yang dihadapi Indonesia khususnya di bidang kesehatan. Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 menyebutkan, angka kasus stunting di Indonesia mencapai 24,4 persen. Stunting merupakan permasalahan gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu yang lama. 

Dalam rangka menekan angka percepatan penurunan stunting Presiden Indonesia menerbitkan Perpres No 72 Tahun 2021 tentang Penurunan Stunting di Indonesia. Ketika peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) di Sleman, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Dudung Abdurachman dikukuhkan sebagai Duta Bapak Asuh Anak Stunting, Rabu (29/6/2022). 

KSAD berjanji akan menggerakkan seluruh kekuatan TNI AD untuk mendukung penanganan stunting. Secara simbolis pengukuhan dilakukan oleh Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo dengan menyematkan selendang Duta Bapak Asuh Anak Stunting. Penyematan selendang itu sekaligus menandai program Bapak Asuh Anak Stunting.

Di Kepri tahun 2021 angka stunting mencapai 17,6 persen angka stunting. Pemprov Kepri dan stakeholder terkait ditargetkan menurunkan stunting 10 persen pada 2024 mendatang. 

Apa itu stunting? Kasus stunting sering dikorelasikan dengan pendek. Menurut pelbagai sumber, kasus stunting tidak hanya sebatas pendek namun juga disertai kekurangan asupan nutrisi, kemudian juga karena masalah gizi. Sebaliknya, jika kondisi pendek disebabkan karena hormon dan genetik maka hal itu bukanlah stunting.

Penyebab stunting di antaranya kekurangan gizi Faktor utama penyebab stunting pada anak adalah kurangnya asupan gizi dan nutrisi sejak 1.000 hari pertama kehidupan (HPK). Akibatnya, anak mengalami keterlambatan tumbuh kembang dan perkembangan otak yang terhambat. 1.000 hari pertama kehidupan (hpk) itu berlangsung sejak janin terbentuk hingga balita usia 2 tahun. 

Periode ini disebut periode emas karena perkembangan otak bisa mencapai 80 persen sendiri. Generasi stunting kasus stunting sering terjadi tanpa disadari sehingga terlambat ditangani. Akibatnya, kinerja otak anak tidak maksimal dan pertumbuhannya terlambat. Jangka panjangnya, seseorang yang mengalami stunting berpotensi melahirkan generasi stunting dan berisiko terkena penyakit kronis. 

Faktor lingkungan tempat pertumbuhan anak juga bisa mempengaruhi terjadinya stunting. Misalnya, lingkungan tidak higienis, sanitasi air kurang baik, dan infeksi akibat makanan yang kurang bersih. Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Indonesia (UI) bersama Imperial College London, Inggris menyebutkan bahwa paparan asap rokok bisa menyebabkan anak mengalami stunting. 

Peran Masjid Cegah stunting

Dari banyak literatur, langkah pencegahan stunting pada anak yang perlu dilakukan di tengah masyarakat. 
1. Pemeriksaan calon pasangan Pencegahan stunting pada anak bisa dilakukan sejak dini, yakni dengan melakukan pemeriksaan bagi pasangan yang ingin menikah. Calon pasangan yang akan menikah bisa melakukan pemeriksaan lingkar lengan atas, berat badan, indeks massa tubuh, dan Hemoglobin (Hb) untuk mencegah kelahiran bayi stunting. 
2. Pemenuhan gizi ibu hamil pencegahan stunting bisa dilakukan dengan pemenuhan asupan gizi ibu hamil. Disarankan yang paling utama adalah dengan mengonsumsi nutrisi alami, seperti protein hewani, zat gizi, dan nutrisi lainnya. Vitamin dan suplemen bagi ibu hamil sifatnya hanya pendukung. Vitamin dan suplemen ini bisa menjadi pilihan alternatif bagi ibu hamil yang alergi terhadap makanan tertentu. 
3. Pemantauan perkembangan anak Pencegahan stunting pada bayi bisa dilakukan dengan melakukan pengecekan tinggi badan dan berat badan bayi secara berkala di Posyandu. Tujuannya, agar stunting pada bayi bisa diketahui sedini mungkin.
4. Pemberian ASI eksklusif ASI mengandung protein whey dan kolostrum yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi. Oleh karena itu, pemberian ASI eksklusif sebaiknya diberikan sampai bayi berusia 6 bulan. Pemberian ASI mempengaruhi pertumbuhan bayi karena mengandung gizi yang dibutuhkan bayi. 

 Dari empat point penting itu, pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di mana saja dapat menggunakan dana dana kas masjid yang masih tersisa untuk memberikan bantuan kepada warga di dekat lingkungan masjid kalau ada yang menderita stunting. Keluarga yang ada anak stunting di sekitar lingkungan masjid harus diberikan makanan tambahan gizi. Dananya bisa dari infak jemaah. DKM masjid bisa menjadi Orang Tua Asuh untuk anak anak stunting seperti yang dilakukan KASAD Dudung.

Jika semua masjid masjid menyisihkan sedikit dari infak jemaah untuk anak anak stunting ini mudah mudahan secara gotong royong, angkan stunting di Indonesia dan Kepri khususnya bisa berkurang sesuai dengan target yang sudah ditetapkan pemerintah. Pemerintah di tahun 2022 telah mengalokasikan dana Rp44 triliun untuk penurunan stunting di Indonesia. Kerjasama pentahelix lintas sektoral di tahun 2022 hingga 2024 diharapkan mampu menekan angka stunting Indonesia dan Kepri khususnya.

Bahkan bagi jemaah yang mampu, bisa bergotong royong sesama jemaah untuk memberikan bantuan rutin selama 6 bulan kepada anak stunting. Harapannya dengan adanya intervensi gizi secara terus menerus akan memperbaiki anak anak yag semula stunting bisa menjadi lebih baik.

Itulah menjadi tanggungjawab sosial DKM dan jemaah untuk memperhatikan jemaah sekitar masjid. Karena peran masjid tidak hanya terbatas pada relasi peribadatan antara manusia dengan Maha Pencipta, namun tak kalah penting adala relasi sosiologis sesama manusia.

Ada pemikiran menarik dari tokoh Islam Muhammad Natsir soal peran masjid. Ia menyebutkan peran masjid bukan hanya tempat ibadah, namun juga masjid sebagai tempat membangun karakter. "Masjid dapat berperanan membangun, dan memang tugasnya membangun manusia. Yaitu membangun kepribadian manusia untuk membangun. Membangun pribadi manusia merupakan unsur terpenting dalam tiap kegiatan pembangunan."

Kemudian kata Natsir, masjid sebagai Benteng Pertahanan Umat Islam. Keberadaan masjid sangat diharapkan dapat memberikan "tameng yang kuat" kepada para jamaah sehingga dapat membedakan mana yang hak dan mana yang bathil. Ini adalah bekal mental dan pikiran. 

Oleh karena itu, jika ada anak stunting di lingkungan masjid, sudah sewajarnya pengurus DKM memberikan perhatian agar di lingkungan masjid tidak ada anak anak stunting. 

*) Penulis adalah:
- Pengurus Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kepulauan Riau
- Sekretaris Masjid As Sakinah Tanjungpinang.


Berita Terkait