Akulturasi Masjid di Batam

Akulturasi Masjid di Batam

Masjid Tanjak di Batam. (Foto: ist)

Oleh: Irvan Pratama Hervi*

DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) akulturasi adalah Proses masuknya pengaruh kebudayaan asing dalam suatu masyarakat, sebagian menyerap secara selektif atau banyak unsur kebudayaan asing itu, dan sebagian berusaha menolak pengaruh itu. Secara sederhana, akulturasi adalah adanya budaya asing yang masuk ke dalam budaya sendiri sehingga perlahan-lahan akan diterima oleh anggota masyarakat tanpa harus menghilangkan karakter kebudayaan itu sendiri.

Kota Batam adalah sebuah kota di Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Wilayah Batam yang merupakan penduduk asli Melayu yang dimana pemeluknya beragama Islam, tidak hanya suku Melayu namun kini memiliki banyak sekali keragaman suku yang datang dari berbagai daerah. Tapi dengan berpayungkan Kecerdikan budi Melayu dan menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika, Batam menjadi kondusif dalam menggerakan berbagai perkara terutama agama.

Berdasarkan data kependudukan tahun 2020, Islam adalah agama mayoritas di Kota Batam, dengan jumlah penganut sebanyak 71,96%. Diikuti oleh penganut Kristen Protestan (17,81%), Buddha (6,75%), Katolik 3,30%, Konghucu 0,10%, Hindu 0,06% dan kepercayaan 0,02%. Dan Hasil Sensus Penduduk (SP) 2020 Secara spasial, Kota Batam merupakan wilayah dengan jumlah penduduk terbanyak di Kepulauan Riau, yakni mencapai 1,2 juta jiwa atau lebih dari separuh dari total penduduk Kepulauan Riau. Dengan rincian 609,4 ribu jiwa penduduk berjenis kelamin laki-laki dan 586,99 ribu jiwa perempuan.

Dengan masyarakat yang terdiri dari berbagai suku bangsa serta adat istiadat beragam dan bermacam-macam agama, agama Islam menjadi agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat di Kota Batam. Simbol masyarakat Kota Batam yang religius salah satunya dituangkan dalam bentuk masjid dengan nama Masjid Raya Kota Batam/Masjid Agung yang terletak berdekatan dengan alun–alun Kota Batam dan kantor pemerintahan Kota Batam.

Walaupun demikian, Budaya Melayu yang identik dengan Islam masih begitu kental di Kota Batam yang kemudian menjadi akar akulturasi budaya masjid selanjutnya yaitu Masjid Tanjak yang akan segera selesai dibangun dan Budaya Tiongkok Oriental yang menyatu dengan konsep masjid,kemudian dikenal dengan nama Masjid Muhammad Cheng Hoo.

MASJID TANJAK

Akulturasi Budaya Melayu digabungkan dalam konsep masjid, maka terciptalah Masjid Tanjak. Konsep dari bangunan Masjid Tanjak terinspirasi dari bentuk Tanjak, karena Tanjak memiliki lambang kewibawaan dan identitas di kalangan masyarakat Melayu.

Tanjak, yang juga merupakan penutup kepala yang biasanya dikenakan pria Melayu Kepulauan, yang terbuat dari lipatan khusus kain songket. Jika kita perhatikan dari luar, seluruh bangunan masjid menyerupai songkok khas Melayu. Tidak terdapat kubah layaknya masjid pada umumnya, melainkan lekukan tanjak yang meninggi ke atas. Dan inilah yang membuat masid ini menarik.

MASJID CHENG HOO

Masjid Muhammad Cheng Hoo atau yang lebih dikenal dengan Masjid Cheng Hoo merupakan masjid yang menarik. Keberadaan masjid tersebut membuktikan akulturasi antara budaya China, Islam, dan Indonesia terjalin begitu erat di kota Batam. Masjid ini juga dibangun untuk mengenang jasa Laksamana Cheng Hoo dan dibangun oriental khas dengan budaya Tiongkok.

Perlu diketahui bahwa masjid bernuansa Tionghoa tersebut dibangun sebagai upaya mengenang sejarah perjalanan seorang Laksamana Tiongkok dan anak buahnya ke Indonesia dalam membawa ajaran Islam.

Cheng Hoo adalah seorang laksamana laut yang jauh-jauh datang dari Tiongkok. Ia merupakan seorang Muslim tulen, dan anak dari Haji Ma Ha Zhu serta ibunya berasal dari marga Oen (Wen) Tiongkok. Laksamana Cheng Ho lahir di Yunnan pada 1371. Ia adalah keturunan Suku Hui, suku minoritas di China yang mayoritas beragama Islam dan ia juga diketahui memimpin ekspedisi pelayaran dengan membawa lebih kurang 27.000 anak buah ke Indonesia.

Masjid Muhammad Cheng Ho beratapkan atap segi delapan yang mirip pagoda. Di puncak pagoda terdapat lafaz Allah dalam tulisan Arab yang menegaskan bahwa bangunan ini adalah masjid. Di bagian depan bangunan masjid ini terdapat tulisan Masjid Muhammad Cheng Hoo, dilengkapi dengan aksara China di bawahnya. Selain itu, relief berbentuk naga juga menghiasi dinding masjid ini.

Dengan berbagai akulturasi budaya yang ada di Batam. Masjid yang awalnya hanya terkesan monoton karena di atasnya selalu berbentuk kubah biasa, menjadi lebih indah dan menarik. Bukan hanya sekedar bisa memberikan kenyamanan saat beribadah namun juga bisa memberikan akulturasi budaya yang baik. Ini adalah salah satu contoh keragaman budaya di Indonesia yang di akulturasikan dengan bermacam-macam budaya. Semoga kedepannya makin banyak masjid yang ber-akulturasi dengan berbagai budaya di Batam namun tidak mengubah fungsi dan peran dari masjid itu sendiri.

*) Penulis adalah mahasiswa semester 2 UIN Maliki, Malang dan tinggal di Batam.
 


Berita Terkait