Harga Minyak Goreng Naik, Penjual Gorengan di Batam Dilema

Harga Minyak Goreng Naik, Penjual Gorengan di Batam Dilema

Hendrik, penjual gorengan di kawasan Komplek Greenland, Batam Center. (Foto: Juna/Batamnews)

Batam, Batamnews - Hendrik tetap tenang menyikapi persoalan melambungnya harga minyak goreng di Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Hanya bermodal gerobak, pria paruh baya itu tetap dengan ikhtiarnya mencari nafkah. 

Di sekitaran kawasan Greenland, Batam Centre, ia menghabiskan siangnya. Mulai pukul 07.00 sampai 15.00 WIB. Tak peduli cuaca sedang tak bersahabat. Gigihnya tak berujung. "Selagi masih sehat, masih tetap jualan," kata dia, Rabu (24/11/2021).

Baca juga: Penjual Burger Gerobak di Batam Kini Bisa Raup Rp 700 Ribu per-Hari

Sambil meladeni pembeli, ia bercerita. Semula yang berjualan gorengan ialah orang tuanya, sekitar tahun 2000 silam. Sekarang, Hendrik merupakan penerus usaha itu.

"Sudah lama, mas. Dulu itu bapak saya yang jualan. Saya ini generasi ketiga. Generasi kedua itu abang saya," ujarnya.

Beberapa tahun lalu (sebelum pandemi), Hendrik selalu merasakan angin segar. Pendapatannya di atas sejuta per hari, kisaran Rp 1,5 sampai Rp 2 juta. 

Wajar saja, sebab ekonomi Batam sebelum Covid-19 mewabah masih bergairah dan tak seperti saat ini.

Sekarang pun, katanya, tak begitu jauh penurunannya. Sehari saja kini ia bisa meraup cuan Rp 800 ribu sampai Rp 1 juta.

Baca juga: Tak Kapok, Pria Residivis Embat Ponsel Penjual Gorengan di Pasar Sagulung

"Itu totalnya. Belum pendapatan bersih. Kita harus beli bahan-bahan lagi. Paling bersih yang didapat sekitar setengah dari itu aja. Lumayan," kata Hendrik.

Ditambah lagi, harga sejumlah bahan pokok yang melejit naik jelang perayaan Natal dan tahun baru. Mulai dari sayuran hingga minyak goreng yang jadi bahan utama bagi pedagang gorengan.

"Sehari habis 6 kilo minyak goreng. Sekarang minyak goreng itu naik sekitar 50 persen dari harga normal. Bayangkan, coba. Gimana kita mau dapat untung banyak," katanya.

Tak hanya itu saja, beberapa waktu lalu masih di tahun 2021, harga rawit di Batam mendekati angka Rp 100 ribu per kilo. Membuatnya sempat kewalahan berniaga.

 

"Sekarang rawit mendingan, sekilo udah 30 ribuan. Cuma masalahnya pada minyak goreng aja lagi. Sementara kalau kita naikkan harga gorengan, nanti pembeli komplain. Mereka nggak mau tau masalah naiknya harga bahan-bahan," ujarnya.

Namun Hendrik tetap mengambil langkah pasti. Menjual gorengan dengan harga standar, seribuan. Dia tak mau pelanggan pergi.

Terlepas dari itu semua, dia heran dan mempertanyakan mengapa harga minyak goreng bisa naik drastis. Bahkan itu berlangsung setiap tahun, seperti fenomena alam di bulan November yang kerap diguyur hujan.

"Saya heran minyak naik, kenapa? Padahal Indonesia ini sawit paling banyak. Kalau gini yang kecil (rakyat miskin) makin susah," katanya. 

Ia selaku masyarakat meminta kepada semua pihak, terutama pemerintah untuk segera menyikapi dan mencari jalan keluar mengenai harga bahan pangan yang terus mengalami kenaikan. Jika tidak, maka semakin sulit kehidupan masyarakat kelas bawah.

(jun)