Gelombang PHK di Batam, Apakah Sudah Mengkhawatirkan?

Aksi buruh di depan Gedung Graha Kepri. (Foto: Ilustrasi/Batamnews)

Batam - Ribuan pekerja di Batam, Kepulauan Riau, terkena PHK akibat penutupan pabrik PT Foster Electronic Indonesia yang merelokasi perusahaan ke luar negeri.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Batam, Rudi Sakyakirti mengatakan karyawan PT Foster Electronic Indonesia berjumlah sekitar 1.000 orang. Mereka didominasi oleh karyawan kontrak.

"Itu sudah diselesaikan semua, kalau karyawan kontrak ya, tidak diperpanjang," katanya.

Jumlah PHK di Batam akan bertambah setelah PT Unisem berencana menutup perusahaan pada akhir September 2019. Namun, rencana itu diundur sebab manajemen mempunyai orderan yang harus diselesaikan sampai 6 bulan ke depan.

Namun, Rudi mengatakan sesuai kesepakatan PT Unisem akan mengurangi 700 karyawan mereka dari total 1505 orang. Sisanya yang akan mengerjakan orderan sampai selesai.

Terkait PHK ini, Rudi mengklaim bahwa mereka yang terkena PHK telah diserap ke perusahaan baru di Batam. Perusahaan itu di antaranya Pegatron Technology dan Simatelex Factory.

Adanya investasi yang masuk ke Batam membuat persoalan PHK menjadi sesuatu yang tidak terlalu mengkhawatirkan. Menurut Rudi, tahun ini saja ada 4 perusahaan berinvestasi ke Batam.

"Selain itu ada perusahaan ekspansi, artinya biasanya karya 1.000 ditambah dua ratus, seratus. Jadi sebenarnya terhadap PHK ini mereka berputar-putar di sini saja. Ada yang tutup yang buka," katanya.

Sementara itu, pemerintah Batam juga menganggarkan dana APBD sebesar Rp 19 miliar untuk program pelatihan karyawan PHK. Target peserta sebanyak 2.000 orang.

"Untuk orang Batam sendiri, kita punya program, kita adakan pelatihan. Macam-macam ada las, sesuai industri di Batam," katanya.

Saat disinggung jumlah perusahaan yang tutup, Rudi tidak membeberkan secara jelas. Ia hanya mengatakan tutupnya PT Foster dan PT Unisem tidak terlalu berdampak pada perusahaan lain. "Hanya itu, yang lain tidak terpengaruh," kata Rudi.

(*)

SHARE US :