Terimbas Pelebaran Jalan, Akankah Pujasera Golden Land Tutup?
Pengelola membongkar Pujasera Golden Land di dekat Simpang Kara akibat terkena proyek pelebaran jalan.
Batam - Pemerintah Kota Batam, kembali melaksanakan proses pengerjaan pelebaran jalan di Batam. Saat ini giliran kawasan Batam centre dan Sungai Panas area SMP 6 yang akan dilakukan proses pengerjaan tersebut.
Untuk pengerjaan di Batam Centre, proses pelebaran mulai di lakukan dari Pom Bensin Plamo Garden hingga lampu merah Simpang Kara. Proses pelebaran ini mulai dilakukan dari penebangan pohon hingga pemerataan lahan atau tanah seluas 30 meter dari badan jalan.
Pemerataan lahan yang saat ini dikerjakan di Batam Centre seluas 30 meter, berdampak pada keberadaan tempat makan yang ada di sekitar wilayah tersebut seperti Pujasera Golden Land. Pujasera ini sudah berdiri 12 tahun di kawasan tersebut, dan menjadi wilayah pusat jajanan yang sudah melegenda di Batam.
"Kami di Batam ini sudah 11 tahun lebih, dan Agustus nanti ulang tahun ke-12 tahun, karena ini memang dari Pemerintah bahwa akan membuat pelebaran jalan, sejak semalam kami langsung bergerak, mulai dari pembongkaran paving block, baru pembongkaran area tempat makan seperti panggung," Tutur Kepala Pengawasan Goldenland Pujasera, Philip.
Pembongkaran ini langsung dilakukan oleh pengelola Golden Land sendiri. Mereka melakukan tersebut begitu tenggat waktu mereka habis.
"Kami memang sudah diinformasikan sejak lama adanya pelebaran jalan tersebut. Oleh karena itu sejak kemarin kami langsung membongkar sendiri tanpa bantuan dari Pemerintah," katanya.
Dampak dari digusurnya Golden Land akibat pelebaran jalan ini, belum bisa dipastikan apakah akan menjadi akhir dari keberadaan pujasera legendaris tersebut, atau mungkin mereka akan pindah lokasi.
"Ini tergantung pemerintah, kita juga masih belum tahu seberapa luas area yang akan diratakan. Kalau memang tidak sampai menggerus pedagang, kami akan tetap biarkan pedagang berjualan. Tapi kalau memang sampai habis lahan pedagang. Berarti kita tutup. Tapi untuk selanjutnya akan pindah tempat atau seperti apa, itu masih menjadi kebijakan owner," ujarnya.
Yati, salah satu pedagang yang membuka lapak di Golden Land mengatakan, mereka memang sudah legowo jika harus terpaksa digusur. Terlebih lagi mereka mendengar informasi lahan Golden Land akan tergusur habis.
"Kami memang sudah dengar dari lama, jadi sudah mengantisipasi kalau nanti digusur," kata Yati.
Yati membuka lapak dengan nama Raja Soto di Golden Land. walaupun baru berjualan selama 1 tahun 8 bulan, dia sudah merasakan banyak hal yang dia dapat di tempat jualannya tersebut, termasuk ramainya pembeli.
"Kalau malam tamu yang di depan order juga ke belakang makan di depan. Lumayan ramai, totalnya tidak menentu. Tapi bisa 20 porsi untuk soto dan ayam sambel petir lebih dari 20 masing-masing menu tidak tentu," ujarnnya.
Semenjak pembongkaran dan pelebaran jalan dilakukan, Yati mengakui tamu yang datang mulai berkurang dan beralih ke Go-Food.
"Go-Food masih ramai tapi kalau pengunjung sudah mulai berkurang. Semenjak dibongkar yang rame Go-Food saja. Orang mau datang ke sini karena terganggu jadi malas," terangnya.
Semenjak desas-desus penggusuran beredar, Yati banyak menerima keluhan dari pelanggan tetapnya. Mereka khawatir akan kesulitan menyicipi masakan buatan Yati.
"Maka dari itu harus dekat-dekat sini jadi tetep bisa dijangkau pelanggan. Kita bersyukur sekarang ada banyak media, terutama media sosial jadi nanti kalau pindah kami pun tidak risau pelanggan akan kesusahan mencari kami," pungkasnya.
(das)
Komentar Via Facebook :