Konflik Malaysia dan Singapura, Pengamat: Ujung-ujungnya Soal Keuntungan

Iskandar Zulkarnaen, pengamat politik internasional. (Foto: Dok. Pribadi)

Batam - Sengketa batas maritim dan ruang udara antara Malaysia dan Singapura dinilai merupakan langkah dan strategi politik ekonomi Malaysia. Negara itu ingin mendapatkan bagian keuntungan dari Singapura. 

Pengamat politik internasional Iskandar Zulkarnaen mengatakan, ketegangan antara Singapura dan Malaysia adalah langkah federal Malaysia mengajak Singapura berunding terkait pembagian keuntungan dari pengelolaan perbatasan. 

"Kalau beberapa waktu instrumen yang dipakai mereka suplai air, sekarang soal perbatasan laut dan udara," kata pria lulusan S2 Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) itu, Rabu (12/12/2018).

Menurut Iskandar, sengketa ini sengaja diciptakan Malayasia karena mereka ingin meningkatan pendapatan negara. 

"Ini kan cara, Mahathir Mohamad (Perdana Menteri Malaysia) juga ingin mendapatkan keuntungan perbatasan laut maupun udara dari Singapura, artinya ingin dapat sharing keuntungan lah," ujarnya. 

Sampai saat ini, sebagian ruang udara Johor Malaysia dikuasai Singapura dengan sedikit kontribusi diberikan kepada negara itu.

"Ya seperti Indonesia dan Singapura lah, di bagian laut dan udara kita itu dikuasai Singapura. Seharusnya kan kontrol harus kita, seperti yang diinginkan Malaysia terhadap Singapura sekarang," katanya. 

Apalagi saat ini Malaysia mengalami kesulitan dari sisi ekonomi. "Termasuk, karena perdana menteri mereka juga baru," katanya. 

Intinya kata Iskandar, Malaysia menjadikan perbatasan udara dan laut itu dijadikan instrumen meminta biaya keuntungan Singapura selama ini. "Ya Malaysia ingin ada perundingan, jangan Singapura main untung sendiri dong," kata Iskandar. 

Iskandar mengatakan, kondisi ini tidak akan berpengaruh terhadap Indonesia terutama Batam. "Itu kan soal kawasan mereka, kita tidak ada pengaruh," katanya.

(tan)

SHARE US :
Komentar Via Facebook :