https://www.batamnews.co.id

Konflik Perbatasan Malaysia-Singapura

PM Malaysia Mahathir Mohamad Tolak Permintaan Singapura

Mahathir Mohamad (Foto: Nikei)

Singapura - Malaysia akan bernegosiasi dengan Singapura mengenai sengketa maritim yang sedang berlangsung antara kedua negara. Namun Malaysia menolak menarik kapal-kapal mereka. 

Hal itu diungkapkan Perdana Menteri Mahathir Mohamad pada Senin, 10 Desember 2018.

"Kami akan bernegosiasi dengan Singapura," kata Dr Mahathir dari Malaysia kepada wartawan setelah kunjungan ke Institute of Integrity di Kuala Lumpur seperti dilansir dari Channel News Asia.

"Kami tidak ingin 'bertarung' dengan Singapura-terkadang ada klaim yang tumpang tindih, kami bisa menyelesaikannya melalui negosiasi," katanya, berbicara dalam bahasa Melayu.

Negosiasi ini akan dimulai sesegera mungkin. Dan akan ditangani pihak urusan luar negeri Malaysia. Ujar Dr. Mahathir dalam bahasa Inggris.

Ketika ditanya apakah akan ada upaya untuk menarik kapal pemerintah Malaysia di wilayah yang disengketakan, Dr Mahathir mengatakan belum diputuskan.

"Saat ini karena tidak ada keputusan, kapal-kapal itu (tetap) ada di sana," katanya. "Kapal Singapura ada di sana, kapal-kapal Malaysia ada di sana."

Secara terpisah, kementerian urusan luar negeri Malaysia pada hari Senin mengeluarkan pernyataan yang mengatakan akan mengambil "semua langkah efektif untuk mengurangi situasi di lapangan".

Namun, pemerintah Malaysia "tidak dapat mengakses" ke "proposal-balik" Singapura untuk kembali ke status quo sebelum 25 Oktober 2018, katanya.

Malaysia pada hari Jumat mengusulkan pertemuan dengan Singapura pada pertengahan Desember untuk membahas masalah batas maritim antara kedua negara, bersama dengan proposal berhenti-dan-putus, yang ditolak Singapura.

Kementerian pada hari Senin mengatakan bahwa hal itu disebut Komisaris Tinggi Singapura pada hari Senin untuk membahas perkembangan terbaru, dan menyambut penekanan Singapura yang terus menerus pada pentingnya dialog, dan kesediaannya untuk terlibat dengan Malaysia dalam menyelesaikan masalah secara damai.

Ia mengatakan, bahwa itu sesuai dengan tanggal yang diusulkan di Singapura pada bulan Januari 2019, dan menyambut pertimbangan Singapura tentang usulan agenda Malaysia untuk diskusi bilateral.

(snw)

 


Berita Terkait