Kisah Heroik Raden Sadjad, Pilot TNI AU yang Disegani Pasukan Sekutu

Kisah Heroik Raden Sadjad, Pilot TNI AU yang Disegani Pasukan Sekutu

Peresmian Lanud Raden Sadjad di Ranai, Natuna dan foto inset Raden Sadjad. (foto: fox/istimewa)

BATAMNEWS.CO.ID, Natuna - Saat pertama kali datang ke Natuna, Raden Sadjad masih berpangkat kapten. Ia lah yang berjasa dalam merintis pembangunan pangkalan udara pada era 1955-1958 di Ranai.

Memori terakhir perjumpaan dengan tokoh ini pun masih terekam oleh Basri yang saat itu masih sekolah di SMA Ranai. Pria yang kini menjabat sebagai Asisten III Bidang Administrasi Pemkab Natuna ini mengakui, dirinya masih ada kaitan saudara dengan istri Raden Sadjad. Istri Raden Sadjad merupakan orang asli Natuna beretnis Tionghoa.

"Beliau itu dulu yang merintis Lanud Ranai pada 1955 sampai 1958. Tapi saya sempat berjumpa pada 1981, saat itu beliau datang dengan petinggi TNI dan panglima ABRI saat itu meresmikan sekolah dan beberapa bangunan lain di Natuna," kenang Basri.

Bahkan saat itu, karena dulu belum ada teknologi yang mumpuni di Natuna membuat spanduk selamat datang, Basri masih mengingat menggunakan karton dan membuat tulisan sambutan kepada petinggi militer yang hadir ke Natuna pada saat itu.

"Ya saya yang megang karton dengan dua orang teman saya. Karton itu kemudian yang ditulis dengan tangan. Dulu kan nggak ada spanduk," ujarnya yang sempat menjadi aktivis semasa kuliah di Jakarta.

Selain nama Lanud Ranai, nama Raden Sadjad sebenarnya juga dijadikan nama sebuah lapangan sepakbola di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Letnan Udara Raden Sadjad ternyata bukan sembarang orang. Ia cukup dikenal berawal sebagai pilot pituin Tasikmalaya-Sumedang. Karena kemampuannya menonjol, Sadjad menjadi dihormati pihak Sekutu, terutama kalangan angkatan udara pada Perang Dunia II.

Boleh jadi, nama Raden Sadjad sebenarnya terlupakan disamping ketenaran pilot asal Madura, Halim Perdanakusuma, yang ikut menerbangkan pesawat pengembom Lanchester Inggris pada tahun 1943-1944. Saat itu, Angkatan Udara Inggris melakukan pengeboman Kota Berlin Nazi Jerman yang dikenal untuk menghancurkan berbagai sasaran.

Nama tenar Sadjad dimulai pada Januari 1942 saat masih kadet penerbang, ia "ditantang" taruhan gaji sampai ratusan Gulden Belanda dengan kadet Belanda, Noordraven.

Saat itu, Sadjad ditantang untuk menerbangkan manuver pesawat pembom terbaru milik Angkatan Udara Hindia Belanda, yaitu B-25 Mitchell.

Saat itu, Belanda dipasok sejumlah pesawat B-25 Mitchell dari Amerika dan Australia ke Lapangan Terbang Andir, untuk memperkuat pertahanan Kota Bandung dari ancaman serbuan Jepang.

Sadjad kemudian menang taruhan, karena mampu menerbangkan B-25 Mitchell bermanuver jungkir balik, di atas pemakaman Sirnaraga dekat Lapangan terbang Andir. Segera saja nama Sadjad menjadi perhatian pasukan Amerika dan Belanda, walau kemudian Lapangan Terbang Andir jatuh ke tangan Jepang pada Maret 1942.

Pasca penyerahan di Kalijati Subang, 8 Maret 1942, Belanda bersama Inggris, Amerika, dan Australia melanjutkan perang dengan Jepang di perairan Indonesia dan daratan Asia Tenggara. Sadjad direkrut sebagai co-pilot pesawat pembom yang ditugaskan ke Burma (kini Myanmar).

Pesawat tersebut tertembak pesawat pemburu Jepang dan jatuh di hutan, namun ia selamat. Lima bulan kemudian, Sadjad pulang ke Tasikmalaya, padahal keluarganya sudah tahlilan karena menyangka sudah gugur.

Pasca perebutan Pulau Morotai, Kep. Maluku, pada tahun 1945, pasukan Amerika dibawah komando Jenderal Mac Arthur mempercayakan Sadjad menjadi penguasa Lapangan Terbang Morotai. Para penerbang Amerika dan sekutu segan kepada Sadjad, yang juga sangat disukai penduduk pribumi, sehingga tentara Amerika menjulukinya sebagai "King Sadjad".

Saat era Perang Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1946, Sadjad kembali ke Bandung, lalu merakit dan mengaktifkan kembali sebuah pesawat pembom Bristol Blenheim eks Belanda dengan memasang mesin Sakai eks Jepang. Walau kemudian pesawat tersebut sempat terperosok di Pemakaman Sirnaraga Bandung dan Maospati Madiun, Sadjad memperoleh "hadiah" satu slof rokok jadul Kansas dari Panglima Jenderal Soedirman.

Menjelang tahun 1947, Sadjad pula yang memulihkan empat pesawat pemburu Messerschmidt Bfio9 E7 eks AU Jepang pasokan Luftwaffe (AU Nazi Jerman) untuk digunakan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Pada tahun 1941, Jepang memperoleh lima buah Bfi09 E7 eks Jepang yang dipasok Nazi Jerman, di mana empat di antaranya berbasis di Lapangan Terbang Andir Bandung.

Namun keempat pesawat Bfi09 E7 AURI tersebut tamat riwayatnya saat serbuan pasukan Belanda melalui Operasi Gagak pada 10 Desember 1948 di Yogyakarta. Berbagai pesawat tempur milik AURI dihancurkan Belanda saat berada di Lapangan Terbang Maguwo, termasuk keempat Bfiog E-7 itu.

Pada tahun 1952, Sadjad ditugaskan kembali menjadi Komandan Lapangan Terbang Morotai, yang kali ini sudah dikelola AURI. Sadjad kemudian dijadikan andalan AURI untuk mengembangkan lapangan terbang tersebut menjadi pangkalan udara, dengan bantuan masyarakat pribumi karena sangat menyukainya, dan sering mengadakan pertunjukan layar tancap di sana.

Raden Sadjad pula lah, yang bersama Letkol Salatun, yang berhasil "mengompori" Presiden Soekarno agar membeli pesawat pembom tercanggih masa itu, TU-16 Badger buatan Uni Soviet yang berkemampuan membawa senjata nuklir. Saat itu keperluannya untuk Operasi Trikora Pembebasan Irian Barat tahun 1961-1962, lantaran Belanda mengirimkan kapal induk Kareel Doorman.

Disebutkan, Raden Sadjad sudah meninggal karena usia tua dengan terakhir berpangkat terakhir mayor udara. Namun tak seperti umumnya tokoh yang dianggap berjasa bagi perjuangan Indonesia lainnya, Raden Sadjad dimakamkan di makam umum Karang Nangka, pinggiran Lapangan Sepakbola Sukamantri, Kec. Ciawi, Kab. Tasikmalaya.

Raden Sadjad juga dikenal sebagai perintis AURI (kini TNI-AU) sekaligus peletak dasar penerbangan, yang juga memperoleh Bintang Sakti, Bintang Swabhuana Paksa, Nararia, Bintang Gerilya.

[Fox]