https://www.batamnews.co.id

"Gigolo Pakistan Belum Seberapa, Ratusan Cungkok kok Tidak Tersentuh..."

Ilustrasi. (foto:ist/net)

BATAMNEWS.CO.ID, Batam - Penangkapan 10 orang imigran asal Pakistan yang menjadi gigolo alias lelaki penjual jasa syahwat di Batam cukup membikin heboh. Namun, beberapa warga Batam menyebut gigolo asal Pakistan tersebut tidak ada apa-apanya dibanding para pekerja seks komersial (PSK) asing yang bertebaran di Batam.

"Gigolo itu hanya 10 orang. PSK impor dari China, Uzbekistan, Vietnam dan beberapa negara lainnya jumlahnya ratusan orang di Batam. Mereka malah hanya memakai visa turis untuk mencari uang di Batam. Takutnya membawa penyakit. Masak Imigrasi dan polisi tidak tahu," kata seorang sumber kepada Batamnews.co.id.

Sejauh ini, Imigrasi Kota Batam belum mampu mengawasi para PSK asing itu.

Anggota Komisi I DPRD Kota Batam bulan Agustus 2016 lalu melakukan sidak PSK impor asal Tiongkok di sejumlah tempat hiburan dan hotel di Nagoya, Batam, Kepulauan Riau.

Namun anggota dewan mengaku tidak menemukan apa-apa. Diduga sidak tersebut sudah "masuk angin."

Sidak anggota Komisi I DPRD Kota Batam dilakukan Senin (15/8/2016) malam di beberapa tempat hiburan. Salah satu tempat yang disasar yaitu tempat karaoke yang terletak di lantai 4 Hotel Formosa, Nagoya, Batam. Di sana, anggota dewan tidak menemukan apa-apa.

Namun, kepada Batamnews.co.id, seorang wanita yang bekerja di karaoke tersebut mengakui keberadaan PSK asal Tiongkok di tempat tersebut.

Pekerja Tiongkok itu biasanya beroperasi sekitar pukul 20.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB, untuk mencari pelanggan di sana. "Ada kok, biasanya kalau ngak dapat pelanggan ya dia pergi ke tempat lain," sebut wanita berinisial RS.

“Sekali short time Rp 1,4 juta,” ujar seorang pegawai karaoke Hotel Formosa Nagoya itu.

Selain Formosa, anggota dewan juga sidak ke tempat hiburan Morena Pub & KTV. Tempat ini disebut-sebut sebagai sarangnya PSK impor. Di sana ditemukan ruangan terisi ranjang dan kamar mandi mini yang terbuat dari kaca. Selain itu, tempat lain yang dikabarkan tempat mangkal PSK asing itu adalah Billiard Centre.

Pihak pengelola beberapa tempat hiburan itu kemudian dipanggil ke dewan untuk rapat dengar pendapat. Namun, hingga kini tidak jelas kabarnya.

Para PSK asal China daratan biasanya lebih dikenal dengan istilah "cungkok". Mereka berlatar belakang pendidikan yang rendah. Tidak bisa bahasa Inggris apalagi Indonesia. Meskipun begitu, mereka menguasai pasar prostitusi atau esek-esek kelas elite di Batam.

Para PSK impor ini terkadang juga mangkal di karaoke-karaoke atau lounge di hotel-hotel di seputaran Nagoya.
 
PSK impor yang didatangkan secara ilegal, menggunakan visa kunjungan atau turis tersebut seperti sudah dipilih. “Untuk LT (long time) Rp 3,5 juta, kalau ST (short time) Rp 1,5 juta,” ujar sumber kepada batamnews.co.id belum lama ini.

Para cungkok ini biasanya diajak kencan di hotel-hotel berbintang di Batam. Selain itu ada juga di karaoke-karaoke tertentu. PSK paling laris biasanya didominasi dari Uzbekistan. “Uzbekistan paling laris,” ujar sumber tersebut.

Kabarnya, aktivitas mereka ini bisa berjalan mulus, setelah adanya upeti-upeti ke sejumlah pihak, terutama pihak berwenang karena beroperasi hanya memakai visa turis.

Para cungkok itu disediakan tempat khusus berbentuk rumah kontrakan. Di sana mereka menghabiskan waktu sebelum beroperasi pada malam hari.

“Para PSK impor ini biasanya menunggu pesanan saja, mangkalnya di sebuah tempat atau tempat kos yang telah disediakan germo,” ujar sumber.

Para cungkok tersebut juga jarang keluar dari rumah kontrakan mengingat aktivitas mereka yang selalu dijaga penuh para majikannya. Bahkan, saat dibooking di luar, ada penjaga yang mengawasi mereka.

Tidak sembarang orang bisa ditemani oleh mereka. Pengusaha cukup berhati-hati untuk melihat calon tamu. Pasalnya, persaingan usaha yang melanggar aturan keimigrasian ini cukup ketat. Hingga diantara pengusaha saling berjaga-jaga dari jebakan.

(ind)