600 Akademisi Irlandia Minta Universitas Putus Hubungan dengan Israel atas Konflik Gaza

600 Akademisi Irlandia Minta Universitas Putus Hubungan dengan Israel atas Konflik Gaza

Jalur Fital di Gaza yang ikut menjadi sasaran Israel. (Foto: Sauki)

Nurjali

Jakarta, Batamnews - Sebanyak 600 akademisi di Irlandia telah menandatangani sebuah surat yang menyerukan universitas-universitas di negara tersebut untuk memutuskan hubungan dengan lembaga-lembaga Israel. 

Alasan di balik permintaan ini adalah "skala dan kekejaman perang Israel di Jalur Gaza melewati tingkat kekerasan yang pernah ada selama pendudukan berkepanjangan dan brutal Israel di Palestina."

Surat yang telah dikutip oleh para akademisi di Irlandia dan diberitakan oleh Irish Times pada Sabtu lalu, mengutuk serangan Israel di Gaza sebagai "operasi pembersihan etnis dan menurut banyak pakar dianggap kekerasan genosida."

Para akademisi dalam surat tersebut menyatakan bahwa banyak universitas di Irlandia dan proyek penelitian yang dibiayai oleh Uni Eropa bekerja sama aktif dengan universitas-universitas Israel. Oleh karena itu, mereka menyerukan agar "kemitraan institusional atau afiliasi dengan institusi Israel yang saat ini ada" segera dihentikan.

Baca juga: China Menghapus Israel dari Peta Maps Baidu dan Alibaba Sebagai Bentuk Protes Serangan ke Gaza

Dalam surat tersebut, para akademisi menjelaskan bahwa kerja sama dengan institusi Israel harus dihentikan hingga beberapa kondisi terpenuhi, yaitu pengakhiran pendudukan di wilayah Palestina, pemberian hak kesetaraan dan penentuan nasib sendiri bagi warga Palestina, serta fasilitasi hak pengungsi Palestina untuk kembali.

Surat itu juga mencatat bahwa "Serangan kelompok bersenjata Palestina pada 7 Oktober termasuk serangan kriminal terhadap warga sipil." Namun, para akademisi menekankan bahwa hukum internasional tidak membenarkan bombardemen sistematis dan hukuman kolektif terhadap warga sipil di wilayah pendudukan yang terkepung.

Dalam konteks penggunaan bahasa dan kiasan yang dianggap tidak manusiawi oleh para pemimpin Israel terhadap masyarakat Palestina, surat tersebut menggambarkan bahwa hal ini mencerminkan hasutan dan niat genosida.

Surat ini juga menyoroti angka kematian anak-anak di Gaza, yang telah mencapai lebih dari 3.700 anak-anak akibat serangan Israel. Ini melebihi jumlah tahunan anak-anak yang terbunuh dalam gabungan konflik bersenjata di seluruh dunia. 

Para akademisi juga menekankan kekurangan bahan bakar, air, listrik, dan obat-obatan sebagai akibat dari blokade yang disengaja.

Baca juga: Ratusan Orang Serbu Bandara di Dagestan, Rusia, Mencari Penumpang Israel dan Yahudi

Selain itu, para akademisi mencatat bahwa rumah sakit di Gaza hampir tidak berfungsi karena kekurangan listrik untuk ventilator, penggunaan cuka sebagai antiseptik, operasi tanpa pembiusan, dan serangan berulang dari Israel. Mereka menggambarkan situasi ini sebagai sangat tidak manusiawi.

Para akademisi dalam surat tersebut merujuk pada pendapat para pakar Holocaust dan genosida, yang menyebut situasi ini sebagai 'kasus genosida seperti dikenal dalam buku teks.' Para ahli genosida Bosnia juga menyatakan bahwa "apa yang terjadi di Gaza adalah genosida."

Surat itu juga menyatakan keprihatinan mengenai hancurnya sejumlah universitas Palestina di Gaza dan tewasnya para akademisi dan mahasiswa di sana. Mereka menegaskan bahwa kekejaman yang terjadi saat ini di Gaza hanya memperkuat penjajahan dan pendudukan selama 75 tahun oleh Israel di tanah Palestina, yang membuat hidup normal menjadi mustahil.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :