Film Avatar Picu Kemarahan Warga Asli Selandia Baru, Ini Sebabnya
Adegan dalam sekuel film Avatar: The Way of Water. (Foto: via CNN Indonesia)
California - Kemunculan sekuel film Avatar: The Way of Water memancing kemarahan masyarakat Aborigin Selandia Baru yang mengecam naskah tersebut karena hanya glamor.
The Washington Post melaporkan bahwa mereka marah karena film yang disutradarai James Cameron justru mengangkat isu kolonialisme dan penggambaran rasisme dan budaya yang salah.
Kritikus, Cheney Poole, 27, mengatakan bahwa adegan yang menjebak film ini muncul saat pembuatan film Na'vi, yaitu spesies alien yang terinspirasi dari beberapa suku Orang Asli di seluruh dunia.
Ia mengatakan, suku Na'vi yang menjadi tokoh utama dalam film ini banyak dipengaruhi oleh suku Maori, yaitu suku Aborigin Polinesia di Selandia Baru.
Baca: Liburan Akhir Tahun di Singapura, Bisa Ketemu Doraemon sampai Avatar
Poole, yang berasal dari Christchurch, Selandia Baru, menggambarkan pembuatan film tersebut sebagai contoh lain dari mengagungkan kolonialisme.
“Film ini mencoba meromantisasi gagasan tentang apa yang dialami oleh suku Maori dan sebagian besar budaya Orang Asli di seluruh dunia, bahkan menghina penderitaan yang mereka alami,” tegasnya.
Cameron menyebut film ini Avatar karena merupakan fiksi ilmiah yang menceritakan kembali sejarah Amerika Utara dan Selatan pada masa awal kolonial.
Dalam wawancara baru-baru ini dengan Unilad, dia menanggapi serius orang Aborigin Selandia Baru dan mencoba melakukan perbaikan melalui film berikutnya.
Film Avatar pertama dirilis pada tahun 2009 dengan teknologi 3D dan visual yang luar biasa yang menjadikannya film terlaris sepanjang masa.
Setelah 13 tahun, film yang menelan biaya lebih dari US$350 juta ini sukses besar dengan koleksi rekor US$175 juta pada hari pertama peluncurannya, 14 Desember 2022 lalu.
Komentar Via Facebook :