Kata-kata Menyebalkan dari Nelayan Asing Pesta Curi Ikan di Laut Natuna, Sampai Minta Rokok ke Nelayan Lokal

Kata-kata Menyebalkan dari Nelayan Asing Pesta Curi Ikan di Laut Natuna, Sampai Minta Rokok ke Nelayan Lokal

Kapal ikan nelayan asing sedang pesta pora mengeruk ikan di laut Natuna. (Foto: Dok. nelayan tradisional Natuna)

Natuna, Batamnews - Kapal Coast Guard China yang intimidatif hingga nelayan asing yang mengeruk ikan di Perairan Natuna bikin jengah para nelayan lokal. 

Beberapa diantaranya sampai susah mendapat tangkapan karena kerusakan terumbu karang akibat pukat trawl yang dipakai nelayan asing yang mencuri ikan di wilayah Natuna. 

Mereka terpaksa menangkap ikan di perbatasan Malaysia yang masih banyak ikan, namun harus siap-siap kena usir Polisi Maritim Malaysia, bahkan hingga kena tangkap.

Baca juga: Dua Nelayan Natuna Ditahan di Malaysia, Ini yang Dilakukan Bupati Siswandi

Dari penuturan para nelayan lokal Natuna, kini mereka sering menjumpai kapal-kapal patroli negara lain saat mereka sedang melaut. 

Dedi, nelayan yang memposting video Coast Guard China yang memotong jalur haluan kapal mereka saat melaut di Laut Natuna Utara dijumpai batamnews, Jumat ( 16/09/22).

Ia mengisahkan jika kejadian itu terjadi Kamis 8 September 2022 lalu. 

"Ketika kami berada di titik koordinat 06'15.394 N 109'37.320 E tiba tiba sebuah kapal Coast Guard mendekati pompong kami dan memotong jalur haluan kami seakan ingin mengusir kami dari area tersebut. Namun tidak kami hiraukan karena saya yakin saya masih jauh berada di wilayah Laut Indonesia. " Ujar Dedi.

Baca juga: Aneh, Laut Kaya Ikan Tapi Nelayan Natuna Malah Tertangkap Mancing di Perairan Malaysia, Ternyata Ini Penyebabnya 

Ketika ditanya apakah sempat ada komunikasi dengan kapal Coast Guard China tersebut, Dedi mengatakan tidak ada, baik komunikasi maupun peringatan. Hal itulah yang menguatkan asumsi para nelayan jika Coast Guard berbendera China tersebut hanya bertujuan untuk mengintimidasi para nelayan Natuna. 

Ternyata kejadian serupa tidak hanya sekali ini, menurut penuturan Dedi hal itu sering terjadi. 

"Kemaren ini kita nampak dua Coast Guard dan satu kapal perang China di sekitar perairan tersebut. Mereka mengawal kapal kapal China yang sedang melakukan penangkapan ikan di wilayah itu," tuturnya.

 

Padahal menurut Dedi dan rekan rekannya, kawasan tersebut masih 70 mill dari batas Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) dan jelas masih masuk kawasan Laut Natuna Utara. 

Selain kapal kapal asing berbendera China, Dedi pun melihat ada beberapa kapal asing lain bendera Vietnam dan Taiwan sedang menangkap ikan menggunakan pukat harimau (trawl).

"Di lokasi itu memang sudah sering kita temukan kapal kapal asing yang mengeruk ikan menggunakan trawl. Bahkan pernah kami didekati dan salah satu ABK mereka sempat meminta rokok ke kami sambil mengatakan, 'Minta rokok, Natuna baik baik ya. Batam the best', " kata Dedi menirukan ucapan nelayan asing itu. 

Menurutnya, ABK yang bisa berbahasa Indonesia tersebut merupakan ABK asal Vietnam yang pernah ditangkap pihak Indonesia ataupun mereka sudah sering menangkap ikan di laut Natuna dan sering berkomunikasi dengan nelayan lokal.

Mereka tidak hanya menangkap ikan menggunakan trawl tapi juga memasang rumpon rumpon dari bambu yang disebar di wilayah laut perairan Natuna. 

"Diantara mereka ada juga yang baik juga, pernah kami dikasih beras dan ikan dari kapal mereka. Tapi tetap saja kami kecewa dengan pemerintah karena tidak bisa mengamankan laut kita. Sementara nelayan asing menangkap ikan saja dikawal kapal patroli mereka," tutur Dedi.

Kekesalan para nelayan Natuna tidaklah tanpa alasan, pasalnya kejadian serupa hampir setiap tahun terjadi dan hingga kini belum ada solusi yang konkrit dari pihak pemerintah. 

"Kasih kami satu kapal perang selama satu tahun. Biar kami tuntaskan masalah ilegal fishing di laut Natuna utara," ujarnya sedikit kesal.

(Yan)