Aneh, Laut Kaya Ikan Tapi Nelayan Natuna Malah Tertangkap Mancing di Perairan Malaysia, Ternyata Ini Penyebabnya

Aneh, Laut Kaya Ikan Tapi Nelayan Natuna Malah Tertangkap Mancing di Perairan Malaysia, Ternyata Ini Penyebabnya

Suasana di Pelabuhan Sungai Ulu, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna. Para nelayan tradisional biasa menambatkan perahu mereka di lokasi ini (Foto: Yanto/Batamnews)

Natuna, Batamnews - Tertangkapnya nelayan Natuna di perairan laut negara tetangga menjadi hal yang tak terduga. Pasalnya selama ini laut Natuna justri kaya sumber daya laut. Nelayan asing yang biasanya mengeruk hasil laut dan diam-diam mencuri kekayaan laut Natuna.

Miris memang dengan kejadian ini. Nelayan tradisional lokal sampai harus nyasar melaut ke perairan negara tetangga. Konon kini nelayan kerap terintimidasi dengan kehadiran kapal-kapal seperti Coast Guard China yang mengklaim sebagaian wilayah Laut Natuna Utara itu merupakan wilayah mereka.

Wilayah di sekitar perbatasan itu diakui mereka memang akan banyak hasil tangkapan. Sementara di perairan Natuna semakin sulit mendapatkan hasil tangkapan ikan. Diduga hal ini akibat rusaknya terumbu karang karena aktivitas pukat trawl nelayan-nelayan asing tersebut.

Baca juga: Nelayan di Bintan Dilaporkan Hilang usai Kapal Disapu Angin Kencang

Agus, nelayan setempat menceritakan ia dan nelayan lainnya biasa mencari ikan hingga wilayah perbatasan antara Indonesia dan Malaysia. 

Namun tidak sampai memasuki wilayah perairan Malaysia. Biasanya jika mereka hampir mendekati batas laut Malaysia, akan ada kapal Polisi Maritim Malaysia yang berpatroli yang akan memperingatkan mereka dan menyuruh para nelayan ini berputar arah.

"Biasanya mereka memberi peringatan ke nelayan kita untuk pergi dari areal tersebut, tidak sampai ditangkap begitu," terang Agus.

Baca juga: Miris! Nelayan Asing Pesta Pora Keruk Ikan di Laut Natuna, Nelayan Lokal Terusir Coast Guard China

Nelayan asal Desa Sungai Ulu itu pun mengakui jika memang kalau di wilayah perbatasan cukup melimpah hasil tangkapannya. 

"Kita kan mencari ikan kakap merah dan kerisi Bali, nah kalau di dekat dekat ini sudah susah dapatnya, tapi kalau di wilayah perbatasan Alhamdulillah masih banyak. Kita tidak tau kenapa tapi semenjak marak Kapal Ikan Asing (KIA) yang mencuri ikan di laut kita menggunakan alat tangkap jenis trawl, banyak terumbu karang yang hancur jadi mungkin itu salah satu faktornya," ucap Agus menganalisa.

Ia mengaku melaut hingga seminggu lebih, tergantung hasil tangkapan. Agus mengaku dirinya dan teman nelayan lainnya tak begitu paham mana yang masih wilayah perairan Natuna dan mana yang telah masuk perairan negara lain. 

"Kita tidak paham, kita hanya tau pake GPS, di situ tidak ada tanda batas batas wilayah perairan Indonesia atau Luar Negeri. Tapi ya itulah biasa kalau sudah lewat batas perairan terus kita ketemu kapal patroli mereka, kita langsung diminta pergi dari areal tersebut," ucapnya.

Dirinya menduga kedua nelayan yang ditangkap tidak menyadari bahwa mereka menangkap ikan hingga ke perairan Malaysia dan sudah jauh memasuki wilayah laut negeri jiran itu sehingga langsung diamankan Polisi Maritim setempat. 

Agus dan kawan kawan sesama nelayan terutama yang berasal dari Desa Sungai Ulu berharap Pemkab Natuna bisa mengupayakan jalur diplomasi kepada pemerintah pusat melalui Kemenlu agar kedua nelayan tradisional rekan mereka itu dilepas.

"Kasihan keluarga mereka, khawatir menunggu kepulangan mereka. Apalagi nelayan itu merupakan tulang punggung bagi keluarga," sebutnya.

(Yan)