Nasib Nahas WNI Terperangkap Jaringan Tenaga Kerja Ilegal, Dijual ke Berbagai Negara

Nasib Nahas WNI Terperangkap Jaringan Tenaga Kerja Ilegal, Dijual ke Berbagai Negara

ilustrasi. (Sumber: Jabar Ekspres)

Batam, Batamnews - Berbagai Modus dilakukan oleh Perusahaan Investasi Bodong di Kamboja agar mendapatkan pekerja dari Indonesia. Dengan iming-imingan yang diberikan, tak sedikit korban yang nekat ke Kamboja untuk bekerja. Padahal sesampainya disana para WNI yang bekerja diperlakukan tak sesuai dengan harapan mereka. 

Kebanyakan dari mereka dijadikan korban perdagangan manusia, mereka diperjual belikan oleh perusahaan-perusahaan investasi bodong dan judi online di negara itu. 

Seperti yang dialami oleh H, warga Batam, Kepulauan Riau, ia kini terdampar di salah satu perusahaan investasi bodong di Kamboja, ia mengalami siksaan hingga disekap. Pihak keluarga yang menerima laporan keadaannya pun bingung harus berbuat apa.

Baca juga: Cerita Warga Batam Diperbudak Mafia Judi Online, Terjebak dari Dubai hingga Kamboja

"Kita tak tau harus berbuat apa, kita akan  mencoba membuat laporan kepolisian dari Batam agar keluarga kita disana mendapatkan pertolongan," ujar WS pihak keluarga korban, Selasa (30/8/2022).

Diceritakan oleh WS, peristiwa tersebut terjadi pada awal Agustus 2022. Korban pamitan kepada keluarga untuk pergi ke Dubai bekerja di sana. Pihak keluarga pun tak mengetahui pekerjaan apa yang dimaksud oleh korban.

Sesampainya di sana, korban mengabari kepada pihak keluarga jika ia mendapatkan perlakuan tak menyenangkan. Ia mengalami siksaan dan barang-barang miliknya berupa paspor dan handphone ditahan pihak perusahaan. 

Menurutnya, pihak perusahaan mengira bahwa korban mampu menguasai Bahasa Inggris dan Mandarin. Namun ternyata korban tak mampu menguasai bahasa tersebut. Pihak perusahaan juga bingung karena korban tak sesuai dengan kriteria yang diperlukan oleh perusahaan.

Baca juga: Polda Kepri Gagalkan Pengiriman Pekerja Ilegal di Batam untuk Jadi Admin Judi Online ke Kamboja

Korban pun akhirnya disuruh mengganti seluruh uang yang telah dikeluarkan oleh perusahaan untuk fasilitas korban sampai berada di Dubai. Mulai dari tiket pesawat, uang makan hingga uang perpanjangan visa selama tiga bulan. Di awal perjanjian pengeluaran tersebut merupakan tanggungjawab perusahaan.

"Korban tak punya uang, dia mengabari ke kita meminta bantuan akan tetapi kita juga tak memiliki uang untuk mengembalikan kerugian perusahaan itu," kata dia. 

 

Lanjutnya, setelah menunggu hingga enam bulan lamanya, pada pertengahan Agustus 2022 lalu korban diberangkatkan ke negara Kamboja bersama seorang WNI lainnya.

Ia menggunakan penerbangan dari Dubai menuju Kamboja dengan transit di negara India dan Thailand.  "Kata perusahaan dipindah tugaskan ke Kamboja dengan perusahaan yang sama," jelasnya. 

Kendati demikian, sesampainya disana dia (korban) ternyata telah dijual ke salah satu perusahaan di Kamboja. 

Pihak perusahaan di Dubai menjualnya dengan alasan korban  mampu menguasai tiga bahasa. Ihwalnya, korban tak mampu menguasai bahasa yang dimaksud tersebut. 

Dikarenakan korban tak sesuai dengan kriteria yang dimaksud, penyiksaan pun kembali diterima oleh korban dari perusahaan barunya itu. 

Ia bahkan dipaksa bekerja berdiri jika tak memenuhi target. Bahkan, ia disuruh mengganti kerugian perusahaan karena telah membeli dirinya dari perusahaan sebelumnya yang berada di Dubai. 

Lanjutnya, karena korban tak mampu membayar, lagi-lagi korban diperjual berlikan kembali ke perusahaan lainnya, beberapa perusahaan yang membelinya tersebut bergerak di bidang yang sama yakni Investasi Bodong.

"Jika ditotal, korban ini harus membayar dengan nominal uang yang mencapai ratusan juta rupiah. Uang tersebut berasal dari kerugian perusahaan-perusahaan yang membelinya," terangnya. 

Tak hanya itu, informasi yang diterima dari korban, bahwa sebanyak sembilan WNI lainnya berada di perusahaan tersebut. Bahkan disebut-sebut terdapat 16 WNI hendak diberangkatkan oleh perusahaan ke negara Kamboja dalam pekan ini.

Atas peristiwa tersebut, pihak keluarga saat ini tengah mencoba melaporkan atas apa yang dialami oleh korban ke Polda Kepulauan Riau (Kepri). Ia berharap pihak kepolisian dapat membantu memulangkan korban ke Negara Indonesia. 
 

(rez)
Komentar Via Facebook :