Terciduk Polisi, Dokter Jual Sertifikat Vaksinasi Palsu Seharga Jutaan
Ilustrasi.
Trengganu - Polisi Terengganu, Malaysia mengungkap penjualan sertifikat vaksinasi Covid-19 palsu. Seorang dokter sebuah klinik swasta ditangkap dalam kasus ini.
Kapolsek Terengganu, Datuk Rohaimi Md Isa mengatakan, penggerebekan pada Minggu (9/1/2022) dilakukan atas informasi yang diterima adanya dugaan kegiatan penipuan berupa penerbitan sertifikat vaksin kepada mereka yang tidak mau divaksinasi atau antivaksin.
Dia mengatakan tersangka diduga melakukan penjualan online sejak September lalu, dengan masing-masing sertifikat dikatakan dikenakan biaya antara RM400 hingga RM600 atau sekira Rp 2 jutaan.
Sejauh ini, ada sekitar 1.900 orang yang diyakini telah memperoleh sertifikat dan polisi sedang menyelidiki apakah semuanya asli atau tidak.
Dalam penggerebekan itu, polisi juga menyita dokumen terkait, kartu janji vaksinasi, laptop, telepon, dan lain-lain.
"Penyelidikan akan dilakukan dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk mengevaluasi dan memeriksa aplikasi MySejahtera dari individu yang terlibat," katanya dilansir Berita Harian, Senin (10/1/2022).
Lebih lanjut, kata Rohaimi, hasil pemeriksaan diketahui tersangka mendapat izin pada September tahun lalu untuk memberikan suntikan vaksin Covid-19.
Ia mengatakan tersangka diduga menyebarkan aktivitas tersebut melalui kenalannya, dengan penyelidikan awal menemukan ada dokumen yang juga melibatkan pelanggan dari Kedah dan Kuala Lumpur.
“Kami melihat ada dokumen yang melibatkan pelanggan dari luar Terengganu, tetapi tidak logis mereka datang ke negara ini untuk mendapatkan suntikan vaksin di sebuah klinik di Marang, dan itu menjadi salah satu faktor yang diselidiki oleh Depkes.
"Tersangka sekarang ditahan untuk membantu penyelidikan lebih lanjut sesuai dengan Pasal 420 KUHP," katanya.
Rohaimi mengatakan, pihaknya menganggap serius isu tersebut karena tidak hanya dicurigai adanya kecurangan tetapi juga terkait dengan bencana atau bencana kesehatan kepada masyarakat luas.
Dia juga memperingatkan bahwa polisi akan terus bekerja sama dengan Depkes untuk mendeteksi aktivitas semacam itu di lokasi lain.
Komentar Via Facebook :