Pakar Tata Kota Sebut Banjir di Batam Akibat Pengembang Abaikan Tata Ruang

Pakar Tata Kota Sebut Banjir di Batam Akibat Pengembang Abaikan Tata Ruang

Banjir. (Foto: ilustrasi)

Batam, Batamnews - Warga Kawasan Kavling Baru, Bida Kabil, Nongsa dilanda banjir beberapa waktu terakhir. Selain permukiman, banjir juga mengintai titik jalan protokol di daerah itu. Sehingganya akses jalan dari dan menuju Pelabuhan Domestik Punggur kerap terganggu jika banjir terjadi di titik tersebut.

Warga mengatakan, banjir yang terjadi imbas dari pematangan lahan oleh pengembang pembangunan di sekitar kawasan. Terjadi penyempitan drainase dan perubahan struktur aliran alir.

Baca juga: Langkah Bina Marga Atasi Titik Banjir Jalan Menuju Pelabuhan Punggur

Hal ini sebenarnya banyak terjadi di wilayah lainnya di Kota Batam. Sehingga, problematika banjir selalu menjadi masalah utama.

Pakar Tata Kota, Supriyanto menganalisa, banyak titik banjir di Batam disebabkan oleh pengaruh pembukaan lahan. Sehingga mengakibatkan area tangkapan air ikut terbuka.

Dengan terbukanya area tangkapan air, maka debit air yang bertambah karena hujan mengalir ke daerah-daerah sekelilingnya. 

Untuk mencegah hal itu, perlu dibangun saluran sementara tempat air agar dapat mengalir ke saluran kota atau saluran drainase lainnya yang lebih besar.

"Pembukaan lahan dapat membuat air mengalir ke mana-mana, termasuk ke permukiman warga. Maka ketika lahan baru dibuka, perlu dibuat juga saluran sementara," ujar Supriyanto kepada Batamnews, Senin (8/11/2021).

Ia mengimbau para perusahaan pengembang untuk turut memperhatikan hal ini ketika membangun. Biasanya, antisipasi saluran air ini juga tercantum dalam proposal desain yang diajukan dalam tahap perizinan.

Pemerintah Daerah, sebagai pemberi izin juga mengemban peran penting dalam hal pengawasan dan pengendalian pembangunan yang dikerjakan. 

Diharapkan pemerintah dapat memberikan pengawasan, teguran dan bahkan sanksi kepada perusahaan pengembang yang tidak mematuhi desain tata ruang yang telah ditetapkan.

"Sanksi itu juga bisa berupa kompensasi terhadap warga yang selama ini terdampak," kata Supriyanto.

Selain itu, Supriyanto menyoroti sistem drainase di Batam yang belum saling terkoneksi satu sama lain.

Baca juga: Amsakar Panggil Pengembang PT Kaliban terkait Banjir di Kabil 

Padahal, Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, menurutnya selalu memberi perhatian dalam pengerjaan dan pelebaran drainase di beberapa titik Kota Batam, namun pengerjaan itu dapat menjadi percuma jika tidak saling terhubung menjadi suatu sistem yang utuh.

Ia mencontohkan, banjir yang baru-baru ini terjadi di ruas jalan menuju Pelabuhan Punggur, Kabil adalah salah satu contoh ketidaksinkronan pembangunan drainase dengan kondisi jalan. 

Kondisi Jalan Pattimura, Kabil, Nongsa, yang berbentuk cekungan membuat genangan air dengan mudah terbentuk.

"Solusinya adalah, jalan yang berbentuk cekungan itu ditinggikan, kemudian saluran drainasenya diperbesar dan diarahkan langsung ke laut," ucap Supriyanto. 

(ude)