Kisah Salmi Raup Cuan dari Mi Sagu Khas Meranti
Proses pembuatan mi sagu khas Meranti. (Foto: Juna/batamnews)
Meranti, Batamnews - Mi sagu menjadi peluang usaha yang menjanjikan di Kabupaten Kepulauan Meranti. Ini dibuktikan dari banyaknya masyarakat yang menggeluti bidang tersebut.
Sagu juga menjadi salah satu komoditas terbesar yang ada di kabupaten termuda di Riau itu, bahkan terkenal di seluruh Indonesia maupun dunia. Selain menjadi unggulan, juga menghasilkan cuan yang cukup tinggi.
Sebenarnya, banyak produk olahan sagu yang menjadi peluang usaha bagi masyarakat Meranti. Mulai dari kue sagu, kerupuk sagu, sagu rendang hingga mi sagu.
Salah satu warga Meranti yang jeli menangkap peluang usaha dari komoditas sagu adalah Salmi. Ia adalah salah satu pemilik usaha mi sagu yang berada di Jalan Pusara, Kelurahan Selatpanjang Timur.
Saat diwawancarai, Salmi mengaku usaha yang ia geluti tersebut cukup menjanjikan. Untuk harga mi sagu yang dipatok saat ini merujuk pada tingginya harga tepung sagu. Satu karung tepung harganya sekarang menginjak 360 ribu.
"Dalam satu karung tepung sagu itu beratnya 50 kilo," kata wanita berusia 56 tahun itu, Selasa (30/3/2021).
Mi sagu memang banyak peminatnya. Didukung pola marketing yang baik, usaha tersebut diyakini dapat menopang kebutuhan harian. Terlebih lagi, saat ini harganya lumayan tinggi.
Dalam satu karung tepung sagu, katanya, bisa menghasilkan mi sekitar 90 kg. Harga jual per bungkus Rp 4 ribu dengan berat bersih 450 gram.
Setiap bulannya, dia bisa menghabiskan minimal 8 karung tepung sagu dan menghasilkan sekitar 720 kg mi.
Penghasilannya pun terbilang cukup tinggi. Lebih dari 6 juta per bulan ia dapatkan.
"Itu pendapatan kotor, tidak termasuk modal untuk membeli bahan pokok dan lain sebagainya. Keuntungannya juga lumayan, sebab saya tidak mempekerjakan orang sebagai karyawan, hanya anak saya yang ikut membantu. Tapi karena (pandemi) Corona, pendapatan agak sedikit menurun," jelas Salmi.
Tidak hanya laris di pasar dalam negeri, ketertarikan dengan mi sagu juga terjadi pada masyarakat di luar negeri. Contohnya seperti negara tetangga; Malaysia dan Singapura.
"Biasanya, pelanggan dari luar negeri membelinya untuk dikonsumsi harian dan juga sebagai oleh-oleh. Tapi ada juga yang mengaku untuk peluang usaha restoran di Malaysia," pungkasnya.
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disdagperinkop UKM) Kepulauan Meranti, Ade Suhartian mengaku, sejak dulu mi sagu memang menjadi makanan khas di kabupaten termuda di Riau itu.
Ia juga mengimbau kepada seluruh pelaku usaha untuk tidak menggunakan bahan-bahan berbahaya dalam produk olahan sagu itu.
"Sepengetahuan saya, sagu itu baik untuk kesehatan, apalagi untuk pengidap penyakit diabetes. Jadi jangan sekali-sekali para pelaku usaha memasukkan bahan berbahaya yang tidak dianjurkan di dalamnya. Itu biasanya dilakukan agar produk olahan bisa tahan lama dan efeknya berbahaya bagi kesehatan," terangnya.
Komentar Via Facebook :