Tudingan Rasis Membuat Batin Bobby Jayanto Terluka

Tudingan Rasis Membuat Batin Bobby Jayanto Terluka

Bobby Jayanto. (Foto: Batamnews)

Tanjungpinang - Nama tokoh tionghoa Tanjungpinang, Bobby Jayanto menjadi buah bibir. Hal ini setelah ia dilaporkan ke polisi atas dugaan pidato berbau rasis.

Bobby mengaku tertekan menghadapi hukuman sosial akibat kasus dugaan ungkapan rasis yang menyeretnya itu. Tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri, tapi juga berdampak kepada keluarganya.

Ia mengatakan, bahwa kasusnya itu menjadi pelajaran berharga dalam hidupnya. Sebab banyak kasus yang ia hadapi, tapi kasus dugaan ungkapan rasis ini yang paling berat baginya. Ia mengaku mendapat hukuman sosial.

"Saya disibukkan masalah ini, tidak tenang, terkadang di rumah itu menung saja, sampai istri aja mengungsi ke kamar sebelah nonton tv. Coba lah sampai kehidupan pribadi juga terganggu, saya lebih banyak diam," ungkap ketua DPD Partai Nasdem Tanjungpinang tersebut.

Ia menuturkan, saat ini dirinya serasa sungkan berkomunikasi dengan siapa pun. Ia pun mengaku akan lebih berhati-hati dalam berbicara. Menurutnya lebih baik banyak bekerja. Apalagi ia juga terpilih sebagai anggota DPRD Kepri 2019-2024. Tentu saja jika kasus hukum ini benar-benar menyeretnya, sudah dipastikan karir politiknya tersandung.

Sebelum adanya kasus ini, Bobby Jayanto sangat kritis dan konsen dalam masalah-masalah di Kota Tanjungpinang. Namun pasca-kasus digaan pidato rasis ini membuat dirinya sedikit terpukul dan kepribadian diamnya mulai terbangun.

"Saya menjadi orang yang tidak girang seperti dulu, saya betul-betul beda sekali, lebih banyak diam, dulu paling rajin nonton tv tapi kalau sekarang nonton berita udah malas," sebutnya.

Menurut Bobby, ia pernah beberapa kali melewati kasus hukum bahkan hingga ke tahanan. Namun kasus kali ini benar-benar berat baginya. Secara psikis ia mengaku terpukul.

"Jadi saya jujur, lebih enak saya dihukum ditahanan dari pada dihukum seperti itu, saya pernah ditahan juga lah ya, saya tidak pernah merasa sesulit ini, ini sulit betul, banyak ngurung diri dan banyak melamun, tidak bisa komunikasi politik," ujarnya ketua DPD Nasdem Kota Tanjungpinang ini.

Ia menjelaskan, bahwa pidatonya pada saat acara sembahyang laut warga tionghoa di Tanjungpinang itu tidak bermaksud menyinggung perasaan orang lain. Katanya, ucapannya itu secara spontan dan tujuannya menyosialisasikan jangan memilih karena uang.

"Apakah salah saya selaku ketua partai menyosialisasikan itu, saya tidak ngomong (orang tionghoa) jangan memilih (wakil rakyat) kulit hitam (pribumi), itu salah yang menerjemahkan," ujarnya.

Menurut Bobby, tujuannya pidato seperti itu untuk mengingatkan masyarakat Tionghoa terus melestarikan tradisi-tradisi seperti dragonboat yang tidak digelar pada tahun ini.

"Saya hanya mengatakan tidak mungkin kita meminta aspirasi untuk kepentingan klenteng dan kepentingan budaya dragonboat kepada saudara kita kulit hitam, yang mana arti kulit hitam yang saya maksud itu non tionghoa," sebutnya.

Bobby selama ini dikenal kritis sebagai wakil rakyat di Kota Tanjungpinang. Ia pernah menjabat DPRD Tanjungpinang periode 2004-2009. 

Ia juga merupakan pengusaha handal. Pernah menjabat Ketua Kadin Tanjungpinang hingga 2014. Asam garam kehidupan pernah dilaluinya. Termasuk merasakan dinginnya sel tahanan akibat terseret kasus hakum. Kehidupannya sedari kecil memang keras dan kelam. 

Namun putra asli Tanjungpinang yang lahir dari orangtua keturunan tionghoa ini punya prinsip. Ia mengabdikan diri menjadi tokoh masyarakat dan politisi yang memperjuangkan hak-hak warga khususnya dari kaum minoritas etnis tionghoa.

Nasionalisme pernah diangkat Bobby lewat puisi "Jangan Panggil Aku Cina" yang menyatakan kecintaannya kepada Indonesia.

Dalam sebuah puisinya yang lain berjudul, "Hanya Satu Kata", Bobby mengajak warga keturunan Tionghoa untuk tidak merasa rendah diri, melainkan bangkit bersama membangun Indonesia.

Ia "mengaum" bahwa etnis Tionghoa dari dulu berjuang dengan tulus di saat ibu pertiwi bersedih.

"Wahai Indonesia, lihatlah wajah kami Tionghoa polos tekun dan ulet. Di tubuh kami mengalir darah Indonesia sejati. Kita semua adalah pemilik negeri ini, Indonesia. Jangan ada lagi perbedaan, tidak ada lagi minoritas. Kita punya hak yang sama," kata Bobby dalam puisinya yang dibaca saat peluncuran buku "The Tiger From Archipelago" delapan tahun silam.

Buku itu cukup menginspirasi, bercerita tentang kehidupan Bobby Jayanto yang tak pernah terbayangkan oleh siapa pun. 

(adi)