https://www.batamnews.co.id

KPPU: Tiket Pesawat Mahal karena Duopoli Garuda Indonesia-Lion

Ilustrasi. (Foto: Tempo.co)

Batam - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) RI menemukan indikasi awal adanya pembagian pasar antara dua maskapai penerbangan di Indonesia, yaitu grup Garuda Indonesia dan Lion. Hal ini yang menurut KPPU menyebabkan harga tiket pesawat menjadi mahal. 

Dua grup maskapai penerbangan terdiri Garuda Indonesia Group yaitu Garuda Indonesia, Citilink Indonesia, Sriwijaya Air, NAM Air, sedangkan Lion Group yaitu Lion Air, Wings Air dan Batik Air. 

Komisioner KPPU, Dinni Melanie mengatakakan sejak kenaikan harga tiket pesawat pada semester akhir tahun lalu, pihaknya sudah mulai melakukan penyelidikan. 

"Dan untuk sementara waktu ini kami melihat, ada terjadi duopoli, dimana dua maskapai menguasai pasar," ujar Dinni usai forum jurnalis dan buka puasa bersama di Batam, Jumat (24/5/2019). 

Selain itu pihaknya melihat bahwa dua grup maskapai ini mengurangi jadwal penerbangan masing-masing. Misalnya pada slot penerbangan antara pukul 15.00-20.00 WIB sudah tidak ada lagi. 

"Analisis KPPU pengurangan slot, dan juga beberapa rute juga dikurangi, tujuannya efisiensi," kata dia. 

Dinni juga menambahkan duopoli ini terjadi karena memang hanya dikuasai dua grup maskapai. Jika dulu masih banyak maskapai membuat harga tiket bisa saling bersaing, berbeda dengan saat ini. 

"Kalau sekarang pilihan terbatas, sehingga persaingan usaha tidak terlalu besar," katanya.  

Beberapa waktu lalu, Kementerian Perhubungan memutuskan untuk menurunkan harga tiket pesawat sampai dengan 12 persen namun tak berdampak signifikan. Ada indikasi, dua grup maskapai penerbangan menggunakan tarif batas atas (TBA).

Baca: Harga Terbaru Tiket Pesawat dari Batam ke Berbagai Tujuan 

Menyikapi hal tersebut, pihaknya menyerahkan kepada Kemenhub TBA maupun Tarif Batas Bawah. Namun tetap harus waspada pada dua grup maskapai penerbangan. 

"Karena kurangnya persaingan membuat mereka bertahan di TBA," jelasnya. 

Proses penyelidikan kata Dinni terus berjalan dan diusahakan selesai dalam waktu dekat. Akan tetapi proses ini mengalami hambatan karena pihak maskapai penerbangan tidak kooperatif. 

"Beberapa kali pemanggilan, mereka minta rescedule, terkesan mengulur-ulur waktu," katanya, 

Namun demikian, jika nantinya tidak kooperatif juga pihaknya akan memanggil secara paksa, "Jika ada indikasi persaingan usaha tidak sehat, akan dilanjutkan," kata dia. 

(ret)