Pulau Panjang Janganlah Diterjang Daratan

Pulau Panjang Janganlah Diterjang Daratan

Dekan Fakultas Hukum Unrika, Rustam, S.H,.M.H saat melakukan kegiatan tanam bakau bersama mahasiswa dan komunitas rumah bakau di Pulau Panjang (foto : ist/dok. Unrika)

Redaksi

BATAMNEWS.CO.ID, Batam - Pulau Panjang, Kelurahan Sijantung, Kecamatan Sembulang, Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Jumlah penduduknya seratus dua puluh lima kepala keluarga, dan umumnya nelayan. 

Untuk mencapai pulau tersebut menghabis waktu tempuh tiga pulih menit dengan kapal kayu 3 GT. Suasana tenang, orangnya ramah, dan umumnya beragama Islam.

“Kami tak pandai kerje di darat, jadi melautlah (cari ikan),” kata salah seorang ibu rumah tangga yang usianya 30 tahun. Oleh sebab itu, tumpuan hidup mereka adalah laut, karena di laut bisa menangkap ikan, kepiting, udang dan lain-lain. 

Apabila terdapat alur air laut kecil di tengah hutan bakau, maka disebut sungai. Sungai ini dimamfaatkan isteri para nelayan mencari udang, dan kepiting bakau, mereka memanfaatkan waktu luang ketika suami pergi ke tengah laut lepas mencari ikan yang bernilai jual tinggi. 

Di kiri-kanan pelantar tampak jemuran ikan asin. Pejalan kaki dari kapal berhenti sejenak melihat jemuran ikan asin produk masyarakat di situ. Pangsa basar ikan asin tersebut adalah masyarakat Batam. “Biasanya ada yang datang, dan membeli ikan asin itu,” kata Samsudin, Ketua RW setempat. 

Harganya senilai Rp. 25.000/kg. Tapi ikan asin itu ringan, jadi apabila membeli satu kilogram, tampaknya banyak sekali. Ikan asin produk ibu rumah tangga di Pulau Panjang ini dijadikan ciri khas, karena selain membantu suami mencari ikan di aliran sungai di tengah bakau, juga membuat ikan asin pengisi waktu luang. 

“Tak de banyak, tapi bise beli beraslah,” kata seorang ibu rumah tangga yang tampak semangat mengelola ikan hasil tangkapan dijadikan ikan asin.

Tapi kini hanya tinggal kenangan karena alur laut di tengah hutan bakau sudah ditimbun. “Habislah tempat cari kepiting bakau tu,” sela ibu yang lain. Ditinggal suami mencari ikan nyaris tak ada aktifitas. Duduk-duduk di “pangking” seukuran meja makan, tapi rendah. Terbuat dari kayu bulat berdiameter lengan orang dewasa. 

Sementara anak usia sekolah dasar asyik bermain “goli” (kelereng) di atas tanah berpasir, dan dibawah pohon kelapa, rindang. Terlihat suka ria dengan dunianya. Anak-anak pun ramah. “Mau kemane nih, biar aku antar,” kata seorang anak perempuan yang mengaku duduk di sekolah dasar kelas III. Tawaran untuk mengantar tamu yang baru datang ini, jarang biasanya ditemui di kota-kota besar. 

Ketika aktivitas ibu rumah tangga mencari ketam bakau dan udang, dipastikan mendapat kepiting sebanyak 5-6 ekor yang rata-rata beratnya delapan ons, artinya bila mendapat 6 ekor kepiting, setara dengan berat 5 kg. Kepiting dijual senilai Rp.45.000/kg dibeli oleh pedagang rumah makan dan restoran di Batam.

Muis (45), hari itu tidak melaut. “Sengaje tak melaut,” katanya kepada penulis. Kedatangan rombongan kuliah kerja nyata (KKN) dari Universitas Riau Kepulauan Batam membuat sebagian nelayan libur. Alasannya ingin melihat kegiatan mahasiswa dari berbagai program studi universitas itu akan menanam pohon bakau, yang sering juga disebut “mangrove”.

Penyuluhan pada masyarakat Pulau Panjang terkait pentingnya melestarikan bakau oleh Direktur Rumah Bakau, Rizaldy, dan Universitas Riau Kepulauan (Unrika) (foto : ist/Dok.Unrika).

Penanaman bakau secara perdana sebanyak 250 pohon dari rencana 3.000 pohon di daerah itu. “Bakau ditanam secara bertahap,” kata Direktur Rumah Bakau Batam Rizaldy Amanda. Tujuannya, melihat berapa banyak bakau yang ditanam itu tumbuh dan mati, atau rusak.

Umumnya mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjol yang disebut akar nafas (pneumatofor). Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen atau bahkan anaerob. 

Mangrove tersebar di seluruh lautan tropik dan subtropik, tumbuh hanya pada pantai yang terlindung dari gerakan gelombang, bila keadaan pantai sebaliknya, benih tidak mampu tumbuh dengan sempurna dan menancapkan akarnya.

Daun mangrove yang jatuh akan terurai oleh bakteri tanah menghasilkan makanan bagi plankton dan merupakan nutrien bagi pertumbuhan algae laut. Plankton dan algae yang berkembang akan menjadi makanan bagi berbagai jenis organisme darat dan air di habitat yang bersangkutan.

Menanam bakau itu sekilas tampak mudah. Tapi, kata Rizaldy, ia pernah menanam 4.000 pohon bakau dan kebanyakan rusak dan mati. “Perlu komitmen masyarakat setempat,” kata Rizaldy yang telah bergelut dengan menanam bakau di pesisir Batam. 

Bila warga setempat tidak menjaganya, maka penanaman akan sia-sia. Oleh sebab itu, pemerintah daerah juga harus membantu masyarakat dalam hal menanam dan menjaga. Maksudnya, tidak sembarang pula memberi ijin pembukaan lahan yang bakal merusak lingkungan seperti penimbunan alur air laut di tengah hutan bakau itu. 

Ia menjelaskan, tujuan pembangunan untuk mensejahterahkan rakyat. “Jangan sampai menyengsarakan rakyat,” katanya.

Nelayan di Pulau Panjang ratusan tahun berada di sana, dan semuanya nelayan. Nelayan identik dengan kehidupan di laut, sangat kecil kemungkinan mereka akan mampu bertahan di darat, apalagi bekerja di industri yang diikat dengan waktu  seperti mulai kerja pukul 07.00 WIB pagi dan pulang pukul 17.00 WIB sore hari. 

Kebiasaan “mengaso/istirahat” usai mencari ikan sulit diubah. Kebiasaan yang telah beranak-pinak ini tak mungkin dapat diubah dalam sekejap. Kemungkinan berubah apabila anak mereka keluar dari pulau itu sejak usia dini, dan sekolah di daerah lain.

Dekan Fakultas Hukum Universitas Riau Kepulauan, Rustam, S.H.,M.H. meminta warga di Pulau Panjang menjaga bakau (mangrove) yang ada. Banyak manfaat mangrove seperti menjaga terpaan angin kencang, abrasi pantai, dan tempat serta bakau (mangrove) sebagai “shoreline stabilizer” dari pada sebagai “island initiator” atau sebagai pembentuk pulau. 

Beberapa manfaat dan fungsi hutan bakau (mangrove) dapat dikelompokan manfaat dan fungsi fisik yakni, menjaga agar garis pantai tetap stabil, melindungi pantai dan sungai dari bahaya erosi dan abrasi, menahan badai/angin kencang dari laut, menahan hasil proses penimbunan lumpur, sehingga memungkinkan terbentuknya lahan baru, menjadi wilayah penyangga, serta berfungsi menyaring air laut menjadi air daratan yang tawar, mengolah limbah beracun, penghasil O2 dan penyerap CO2.

Warga setempat berharap pulau tempat mereka itu tetap lestari, dan tidak sulit mencari ikan, dan pembangunan di seputaran Pulau Panjang tidak berdampak buruk pada ekositem dan menggangu biota laut di sana sehingga mencari ikan, udang dan kepiting berjalan baik. Bolduzer penghancur pulau tidak menerjang pula itu. Semoga.!!!

Rumbadi Dalle, S.H.M.H.

Wakil Dekan Fakultas Hukum Universitas Riau Kepulauan Batam.  

 

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :