Kanker Anak Kambuh Ketiga Kali, Keluarga Indonesia Ini Mohon Uluran Tangan di Singapura

Kanker Anak Kambuh Ketiga Kali, Keluarga Indonesia Ini Mohon Uluran Tangan di Singapura

Gadis 13 tahun yang sudah dua kali kambuh dari leukemia kini harus menjalani perawatan intensif lagi di Singapura. Orang tuanya tak punya biaya.

Nurjali

Singapura, Batamnews - Gadis 13 tahun yang sudah dua kali kambuh dari leukemia kini harus menjalani perawatan intensif lagi di Singapura. Orang tuanya tak punya biaya.

Fadli (43) dan Gema (42) hanya bisa terdiam ketika dokter memberi kabar bahwa leukemia putri mereka, Graceline Famlevina, kembali kambuh untuk ketiga kalinya. Saat itu, Graceline sedang menjalani kemoterapi pemeliharaan di Singapura.

"Kami sangat hancur dan tidak tahu harus berbuat apa," kata Fadli kepada MS News.

Tapi mereka memilih untuk menguatkan diri. "Kami coba mengatur emosi dan terus berjuang untuk kesembuhan Graceline."

Baca juga: Zarubezhneft Siap Lanjutkan Proyek Blok Tuna di Laut Natuna Juni 2026

Gadis 13 tahun itu menderita acute myeloid leukaemia (AML), sejenis kanker darah dan sumsum tulang belakang. Untuk bertahan hidup, ia butuh kemoterapi intensif, *Donor Lymphocyte Infusion* (DLI), dan transplantasi sumsum tulang kedua.

Biayanya sangat besar. Keluarga ini memperkirakan pengobatan tahap baru ini mencapai 350.000 hingga 450.000 dolar Singapura (sekitar Rp4,2 miliar hingga Rp5,4 miliar). Mereka pun meluncurkan penggalangan dana di Give.Asia dengan target 363.700 dolar Singapura.

Gejala Graceline pertama kali kambuh lagi pada April 2025. Tiba-tiba ia demam tinggi. Hasil tes darah menunjukkan trombositnya turun drastis, sementara sel ledak—penanda sel kanker—melonjak.

Keluarga itu segera membawa Graceline ke National University Hospital (NUH) Singapura pada 23 April 2025. Harapan sempat muncul. Pada 25 Juli 2025, hasil aspirasi sumsum tulang Graceline menunjukkan sel ledaknya negatif. Ia siap menjalani transplantasi.

Transplantasi pertama pun berhasil dilakukan pada September 2025. Tapi setelah beberapa putaran kemoterapi pemeliharaan, kanker kembali muncul.

Kini Graceline menjalani kemoterapi oral setiap hari, kemoterapi intravena lima hari setiap bulan di rumah sakit, dan tes darah dua kali seminggu. Kemoterapi intensif dijadwalkan mulai Rabu (20 Mei) mendatang, dan transplantasi sumsum tulang kedua direncanakan pada Juli.

Fadli bekerja di perusahaan farmasi, Gema di perusahaan susu. Keduanya bekerja di bagian kontrol kualitas. Gema kini tinggal di Singapura sebagai perawat penuh waktu Graceline. Untungnya, kantornya mengizinkan dia bekerja jarak jauh.

Sementara itu, Fadli hanya bisa datang ke Singapura sebulan sekali karena tuntutan pekerjaan.

"Biaya pengobatan Graceline jauh di luar kemampuan gaji kami sebagai karyawan di Indonesia," kata Fadli. "Kami orang asing yang berusaha terbaik untuk kesembuhan putri kami di negara orang dengan biaya yang sangat tinggi."

Pengobatan pertama Graceline—transplantasi sumsum tulang pada September 2025—sudah menghabiskan sekitar 300.000 dolar Singapura (Rp3,6 miliar).

Duka semakin berat. Dua tahun lalu, saat Graceline menjalani kemoterapi, adik laki-lakinya, Sean, meninggal karena meningitis. Penyakit itu berkembang cepat.

"Kami mengubur putra kami sementara putri kami masih berjuang untuk hidupnya di bangsal," tulis keluarga itu dalam penggalangan dana.

Fadli dan Gema harus terus merawat Graceline di rumah sakit sambil berduka. Kini Graceline adalah satu-satunya anak yang mereka miliki.

"Kami berjanji pada Sean tidak akan membiarkan kakaknya menyusul dia. Kami berjanji pada diri sendiri tidak akan menjadi orang tua tanpa anak."

Meski sakit, Graceline masih punya mimpi. Ia ingin kembali ke sekolah, mendapat beasiswa, dan melanjutkan studi di Singapura.

"Ia bercita-cita menjadi pengisi suara," kata Fadli. Graceline juga ingin membuat konten daring yang bisa menghibur pasien lain, seperti video-video yang selama ini menghiburnya selama perawatan.

Namun penyakit telah merampas masa kecilnya. Ia kehilangan waktu bermain dengan teman-teman, belajar, dan bersekolah seperti anak seusianya. Meski begitu, sekolahnya tetap mendukung dengan mengirimkan materi pelajaran. Graceline mengerjakan dan mengumpulkannya agar tetap mendapat nilai.

Baca juga: Siapkan 100 KNMP di Kepri! Instruksi Menteri Trenggono Diteruskan Gubernur Ansar

Keluarga ini mengaku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dijual dan tidak punya tempat lagi untuk meminjam.

"Kami sangat bersyukur atas kebaikan semua orang," kata Fadli. "Kontribusi Anda, sekecil apa pun, akan sangat berarti bagi dia."

"Graceline sangat butuh bantuan dari kita semua," ujarnya. "Dia pantas mendapatkan perawatan yang dia butuhkan untuk sembuh total."

Donasi bisa disalurkan melalui Give.Asia. Seluruh dana akan dikelola langsung oleh platform tersebut dan dibayarkan ke rumah sakit untuk keperluan pengobatan.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :