Review Seminggu: Rupiah Merosot Akibat Asing Bawa Kabur Rp 5 Triliun saat Data Ekonomi AS Memanas
Rupiah tersungkur terhadap dolar Amerika Serikat dalam sepekan ini (ilustrasi)
Jakarta, Batamnews - Nilai tukar rupiah mengalami penurunan tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam pekan ini. Kondisi ini dipengaruhi oleh data ekonomi AS yang masih sangat positif, sehingga investor asing memilih untuk menjual aset berdenominasi rupiah dan beralih ke aset berdenominasi dolar.
Pada penutupan perdagangan pekan ini, Jumat (15/9/2023), nilai tukar rupiah berada pada posisi Rp 15.350/US$1. Nilai ini tidak mengalami perubahan signifikan dibandingkan dengan hari sebelumnya.
Dalam satu minggu terakhir, rupiah terdepresiasi sebesar 0,19%. Pelemahan ini merupakan kelanjutan dari penurunan rupiah sebesar 0,56% pada pekan sebelumnya.
Rupiah kini menghadapi tekanan berat setelah data-data ekonomi AS masih menunjukkan kinerja yang kuat, termasuk dalam hal inflasi dan klaim pengangguran. Data tersebut membuat pelaku pasar percaya bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), kemungkinan tidak akan mengubah kebijakan moneter ketatnya.
Kondisi ini mendorong investor asing untuk meninggalkan pasar keuangan Indonesia, dengan menjual surat berharga dan aset berdenominasi rupiah mereka serta membeli aset berdenominasi dolar AS.
Indeks dolar AS mencapai puncak tertingginya sejak awal Maret tahun ini, dengan mencapai angka 105,41.
Data dari Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa pada tanggal 11 September 2023, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 4,45 triliun atau hampir mencapai Rp 5 triliun. Transaksi net sell ini terjadi baik pada pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 3,98 triliun maupun pada pasar saham senilai Rp 0,47 triliun.
Baca juga: Waketum MUI Kritik Kebijakan Negara, Hanya Sejahterakan 5.550 Pengusaha Besar
Meskipun jumlah net sell ini lebih rendah daripada awal bulan September (4-7 September) yang mencapai Rp 7,57 triliun, total net sell selama bulan September telah mencapai lebih dari Rp 11 triliun.
Data dari Kementerian Keuangan juga menunjukkan bahwa kepemilikan asing pada SBN pada tanggal 13 September mencapai Rp 838,89 triliun atau sekitar 15,28% dari total kepemilikan. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan bulan Agustus 2023 yang mencapai Rp 846,3 triliun atau sekitar 15,37% dari total kepemilikan.
Keputusan investor asing untuk meninggalkan pasar Indonesia didorong oleh proyeksi bahwa The Fed masih akan menjalankan kebijakan ketatnya, terutama setelah data ekonomi AS yang melampaui ekspektasi.
Data menunjukkan bahwa inflasi AS mencapai 3,7% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada bulan Agustus 2023, meningkat dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 3,2% YoY. Ini merupakan tingkat inflasi tertinggi dalam tiga bulan terakhir dan hampir dua kali lipat dari target The Federal Reserve (The Fed).
Baca juga: PKS Riau Bergerak untuk Kemenangan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar di Pilpres 2024
Namun, inflasi inti AS melandai sesuai dengan ekspektasi menjadi 4,3% YoY, dibandingkan dengan periode bulan sebelumnya yang mencapai 4,7% YoY.
Data mengenai klaim pengangguran AS untuk pekan yang berakhir pada 9 September 2023 juga mengalami kenaikan menjadi 220.000, dibandingkan dengan angka sebelumnya sebesar 217.000. Meskipun terjadi kenaikan, angka ini masih berada di bawah ekspektasi pasar yang memproyeksikan angka klaim dapat mencapai 225.000.
Selain itu, data penjualan ritel AS untuk bulan Agustus 2023 menunjukkan pertumbuhan sebesar 0,6% secara bulanan (MoM), mengalahkan angka bulan sebelumnya yang hanya mencapai 0,5% MoM.
Sementara itu, data mengenai inflasi produsen atau producer price index (PPI) untuk bulan Agustus 2023 menunjukkan peningkatan sebesar 1,2% (yoy), melebihi konsensus yang hanya mencapai 1,2% dan angka bulan sebelumnya sebesar 0,8%.
Baca juga: Mengenal Kopi Kapal Tanker: Kelezatan Kopi Khas Kepulauan Riau yang Menggoda di Kota Batam
Meskipun data ekonomi AS menunjukkan performa yang kuat, pasar sepertinya telah memasukkan kemungkinan bahwa The Fed akan tetap mempertahankan suku bunga pada pertemuan minggu depan, sehingga kekhawatiran mereda dan harga emas pun menguat.
Perangkat CME Fedwatch menunjukkan bahwa 99% investor yakin The Fed akan menjaga suku bunga acuan di kisaran 5,25%-5,5% dalam pertemuan minggu depan. Angka ini mengalami peningkatan dari sebelumnya yang hanya mencapai 97%.

Komentar Via Facebook :