Polisi Dalami Kasus Penipuan Tiket Konser Coldplay, Sudah 60 Korban Melapor, Kerugian Hampir Rp 200 Juta
Polri masih selidiki kasus penipuan tiket konser Coldplay oleh calo lewat jastip, sudah 60 orang korban melapor
Jakarta, Batamnews - Polri sedang melakukan penyelidikan terkait kasus dugaan penipuan jual beli tiket konser Coldplay lewat calo atau istilah jasa penitipan (jastip). Sebanyak 60 orang telah melaporkan kasus ini ke Bareskrim Polri, dengan kerugian mencapai Rp183 juta.
"Pihak Polri akan mengundang dan meminta keterangan klarifikasi dari pihak vendor yang ditunjuk oleh promotor, yaitu Loket.com," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Ahmad Ramadhan, kepada wartawan pada Rabu (31/5/2023).
Ahmad menjelaskan bahwa Polri sedang menginvestigasi mekanisme penjualan tiket Coldplay yang berhubungan dengan maraknya penipuan melalui modus jasa titip atau jastip.
Sebelumnya, polisi telah memeriksa pihak promotor konser Coldplay terkait dengan kasus penipuan jual beli tiket yang menjadi perhatian publik. Namun, hasilnya menunjukkan bahwa promotor tidak terlibat dalam tindakan pidana tersebut.
"Saya ingin menegaskan bahwa kami telah meminta klarifikasi dan keterangan dari pihak promotor. Hasil klarifikasi menunjukkan bahwa pihak promotor tidak terlibat dalam kasus penipuan penjualan tiket," ungkap Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Ahmad Ramadhan, di Mabes Polri, Jakarta Selatan, pada Senin (29/5/2023).
Menurut Ahmad, telah ada beberapa laporan terkait kasus penipuan jual beli tiket konser Coldplay. Penyidik kemudian menggabungkan semua laporan tersebut yang melibatkan banyak korban.
Baca juga: Coldplay: Kontroversi Dukungan LGBT dan Solidaritas Palestina Sejak Lama
"Beberapa Polda juga menerima laporan terkait penipuan online ini, termasuk Polda Metro Jaya, Polda Kepri, Polda Jawa Tengah, dan Polda Sumatra Selatan. Perlu diketahui bahwa setiap kasus tidak memiliki keterkaitan satu sama lain, dan mereka bukan merupakan bagian dari suatu jaringan," jelasnya seperti dikutip liputan6, Rabu (31/5).
"Ini dilakukan oleh oknum yang memanfaatkan situasi di mana masyarakat berbondong-bondong mencari tiket yang sudah habis terjual. Mereka memanfaatkan situasi tersebut. Tidak ada kaitan antara satu tersangka dengan tersangka lainnya," tambah Ahmad.

Komentar Via Facebook :