Penyekapan WNI di Kamboja, Polisi: Ada Kemiripan Modus yang Dialami Warga Kepri

Penyekapan WNI di Kamboja, Polisi: Ada Kemiripan Modus yang Dialami Warga Kepri

Mapolda Kepulauan Riau.

Batam, Batamnews - Polda Kepulauan Riau ikut memantau perkembangan kasus penyekapan puluhan WNI yang bekerja di Kamboja. 

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kepri Kombes Pol Jefri Ronald Parulian Siagian, melalui Kasubdit IV Ditreskrimum Polda Kepri AKBP Achmad Suherlan mengungkapkan pihaknya masih menunggu informasi dari Mabes Polri terkait asal dari para WNI yang disekap tersebut.

"Kami masih menunggu informasi terkait warga Kepri apakah ada yang masuk dalam daftar 60 orang korban yang disekap," ujar Suherlan, Sabtu (30/7/2022).

Ia menyebut, modus dalam kasus tersebut hampir menyerupai dengan kasus yang belum lama ini berhasil diungkap Polda Kepri, beberapa waktu lalu. 

Namun sejauh ini, belum diketahui perusahaan tempat mereka bekerja apakah sama atau tidak dengan perusahaan tempat 9 orang asal Kepri yang berhasil dipulangkan.

Baca: Tak Hanya Warga Kepri, Puluhan WNI Korban TPPO Disekap di Kamboja

Ia menyebutkan, korban trafficking asal Kepri dipekerjakan di sebuah perusahaan bernama Hongli Group.

"Kita masih menunggu, apakah 60 orang tersebut bekerja di perusahaan Hongli Group Kamboja atau bukan karena perusahaan itu merupakan perusahaan tempat 9 orang pekerja yang berhasil kita pulangkan," kata Suherlan. 

"Kemudian juga perekrutnya sama atau tidak dengan tiga orang perekrut yang berhasil kita ungkap ini, karena kalau kita lihat korban-korbannya kebanyakan berasal dari luar Kepri," imbuhnya. 

Dari informasi yang diperoleh, Suherlan mengatakan bahwa perlakuan yang dialami oleh 60 orang WNI yang berada di Kamboja tersebut hampir menyerupai dengan 9 orang WNI dari Kepri.

Seperti diketahui, 9 warga Kepri yang menjadi korban perdagangan orang di Kamboja, mengalami eksploitasi bekerja selama 16 hingga 20 jam dalam sehari serta disekap. 

Baca: Diimingi Gaji Gede, Warga Batam Dipekerjakan Jadi Marketing Investasi Bodong di Kamboja

Selain itu, juga mengalami penyiksaan fisik hingga disetrum, jika mereka tak mampu memenuhi target kerja.

"Untuk 9 orang yang berhasil kita pulangkan ini sama seperti itu, mereka disekap juga," imbuhnya.

Sebelumnya, sebanyak 60 orang dikabarkan menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) atau trafficking di wilayah Kamboja. Sejumlah orang dari beberapa daerah di Indonesia itu bahkan disekap di negara tersebut.

Hal ini terungkap setelah WNI ini mengirim pesan ke media sosial milik Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

(rez)