Kepri Inflasi 0,81 Persen, Kenaikan Harga Daging dan Telur Ayam Jadi Pemicu

Kepri Inflasi 0,81 Persen, Kenaikan Harga Daging dan Telur Ayam Jadi Pemicu

Penjual daging ayam di pasar tradisional Batam.

Batam, Batamnews - Indek Harga Konsumen (IHK) Kepulauan Riau (Kepri) pada Mei 2022 mengalami inflasi sebesar 0,81 persen, lebih rendah dibandingkan bulan April 2022 yang mengalami inflasi sebesar 1,09 persen. 

Secara spasial, Kota Batam dan Kota Tanjungpinang mengalami inflasi masing-masing sebesar 0,79 persen (mtm) dan 1,02 persen (mtm). 

Wakil Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kepri, Musni Hardi K Atmaja menyebutkan IHK nasional tercatat mengalami inflasi sebesar 0,4 persen, sebelumnya tercatat 0,95 persen. 

Dengan perkembangan tersebut, secara tahunan Kepri pada Mei 2022 mengalami inflasi sebesar 4,88% (yoy), atau meningkat dibandingkan April 2022 sebesar 4,28% (yoy), dan berada di atas sasaran kisaran inflasi Nasional sebesar 3 ± 1% (yoy).

Inflasi didorong oleh kenaikan harga kelompok makanan bergejolak (volatile food) yaitu daging dan telur ayam. Sementara kelompok komoditas yang harganya diatur pemerintah (admistered prices) yaitu tarif angkutan udara.

Serta kelompok inti yang didorong oleh kenaikan harga air kemasan, tiket bioskop dan kopi bubuk. 

“Kenaikan harga daging dan telur ayam ras utamanya didorong oleh kenaikan harga pakan, sementara kenaikan harga sayur-sayuran dan aneka ikan disebabkan oleh kondisi cuaca yang berpengaruh terhadap penurunan pasokan,” ujar Musni dalam siaran pers yang diterima Batamnews, Jumat (3/5/2022). 

Pada bulan Juni 2022, diperkirakan terjadi inflasi namun akan melemah. Beberapa risiko inflasi yang perlu diwaspadai, antara lain: Kenaikan permintaan bahan pangan khususnya daging sapi menjelang hari raya Idul Adha pada bulan Juli 2022 di tengah isu penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Kemudian penurunan pasokan cabai akibat penurunan produksi di sentra penghasil akibat kondisi cuaca yang kurang kondusif dan munculnya hama tanaman cabai dan dampak lanjutan dari kenaikan harga bahan bakar minyak global yang dapat berpengaruh terhadap tiket angkutan udara. 

Oleh karena itu, TPID akan memfokuskan untuk memantau harga dan pasokan serta meningkatkan pengawasan terhadap kondisi ternak yang didatangkan dari luar wilayah Kepri. 

Selanjutnya menjaga kelancaran distribusi barang termasuk aktivitas bongkar muat, serta mengoptimalkan kerja sama antar daerah (KAD). 

Dalam jangka panjang, TPID akan terus mendorong upaya pengendalian inflasi dengan meningkatkan kapasitas produksi lokal melalui penguatan kelembagaan nelayan/petani, perluasan lahan dan implementasi teknik budidaya yang lebih baik seperti Program Lipat Ganda, program urban farming, integrated farming dan digital farming.
 


Komentar Via Facebook :
close

Aplikasi Android Batamnews