Miliarder Inggis Minta Singapura Batalkan Eksekusi Mati Warga Malaysia

Miliarder Inggis Minta Singapura Batalkan Eksekusi Mati Warga Malaysia

Ilustrasi.

London - Warga Malaysia, Nagaenthran K Dharmalingam akan menjalani hukuman mati terkait kasus narkotika di Singapura. Eksekusi rencananya akan berlangsung pada Rabu (27/4/2022) esok.

Rencana eksekusi mati ini menuai sorotan dari berbagai pihak. Salah satunya adalah miliarder Inggris, Richard Branson.

Dilansir AFP, ia mendesak pemerintah Singapura untuk tidak 'menggadaikan nyawa' warga Malaysia yang menderita cacat mental dengan eksekusi hukuman mati.

Pendiri Virgin Group mengatakan hukuman itu "mengerikan" dan dapat merusak reputasi negara.

Dalam sebuah wawancara video dengan AFP, Branson, yang telah lama berjuang melawan hukuman mati, meminta Presiden Singapura Halimah Yacob untuk memberikan amnesti kepada Nagaenthran K Dharmalingan.

“Saya sangat berharap sore ini hukuman mati tidak dilakukan.

“Kami memohon kepada Presiden agar diberikan grasi kepada orang tersebut. Kami memohon agar hukuman gantung pelaku ditinjau kembali. Hukuman itu sangat tidak manusiawi.

"Saya tidak berpikir negara beradab harus membunuh orangnya sendiri atau siapa pun," katanya dari kediamannya di British Virgin.

Baca: Warga Malaysia Jalani Hukuman Gantung di Singapura Pekan Depan

Halimah memiliki kekuatan untuk memberikan amnesti yang merupakan kesempatan terakhir Nagaenthran untuk diselamatkan setelah menyelesaikan semua proses banding di pengadilan.

Nagaenthran dinyatakan bersalah menyelundupkan narkoba ke Singapura yang akan digantung besok.

Nagaenthran ditangkap pada 2009 karena diduga menyelundupkan 42,72 gram heroin ke negara yang memiliki undang-undang narkoba paling ketat di dunia.

Tersangka ditangkap oleh pihak berwenang Singapura pada 22 April 2009 saat berusia 21 tahun di Woodlands Checkpoint saat melintasi perbatasan Malaysia-Singapura, dengan ditemukan narkoba menempel di paha kirinya.

Eksekusi tersebut memicu kecaman internasional termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Uni Eropa yang menggambarkan eksekusi hukuman tersebut sebagai kejam dan tidak efektif untuk menghalangi kejahatan narkoba.

Sementara itu, Branson mengatakan dia menghormati Singapura sebagai pusat keuangan, tetapi hukuman mati adalah aspek yang 'sangat negatif' bagi negara tersebut.

Dia mendesak negara itu untuk menghapus hukuman mati dan 'mengikuti eksekusi hukuman seperti yang dilakukan kebanyakan negara beradab lainnya'. 

(dod)
Komentar Via Facebook :