Cerita Parasian, Porter Bandara Hang Nadim yang Menjerit Akibat Pandemi

Cerita Parasian, Porter Bandara Hang Nadim yang Menjerit Akibat Pandemi

Porter di Bandara Hang Nadim Batam yang sedang menunggu penumpang datang.

RASA cemas menghantui Parasian Napitu. Kadang ia juga merasa kesal dengan situasi saat ini. Pasalnya, tak ada jaminan pasti dirinya dapat penghasilan lebih dari upah angkut barang penumpang untuk dibawa ke rumah.

Parasian merupakan porter di Bandara Hang Nadim Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Ia tahu persis bagaimana kondisi para porter akibat terimbas Covid-19.

"Tak ada penumpang, tak ada yang," kata dia saat dijumpai di bandara, kemarin.

Sebelum di Bandara Hang Nadim, ia sempat jadi kuli angkut barang penumpang di Pelabuhan Pelni pada 2017 silam. Di sana, ia seperti jalan di tempat, tak ada perubahan. Pendapatan hanya sekadar cukup makan, bahkan acap kali kurang.

Kemudian, berselang 2 tahun, ia pindah ke Bandara Hang Nadim hingga sekarang. "Awalnya enak di sini, pas sebelum Corona. Eh, tiba-tiba langsung macam meletup virus ini di Batam. Matilah kita kan," katanya dengan logat khas Batak.

Sambil duduk bersilang kaki sambil bersandar di troli. Menunggu ada penumpang lagi yang datang dan harap-harap jasanya dipakai. 

Lelaki itu cukup sabar. Seragamnya sebenarnya lusuh tapi tertutupi karena keringat yang menyucuri baju. Warnanya sudah tak bisa ditebak, antara biru atau abu. Wajar saja, sudah beberapa tahun belakangan tak diganti. 

Matanya agak merah, menahan panas, mungkin. Sesekali ia mengusap misainya yang tebal. "Puasa? Maaf, ya. Saya haus," kata pria berusia 53 tahun itu.

Ia cerita tentang apa yang ia alami selama pandemi mendera. Hasil porter saja tak cukup untuk makan. Bayangkan, sehari hanya dapat sekali mengangkut barang bawaan penumpang.

"Gimana itu, coba. Susah kita, kan. Orang-orang kasi duit itu sukarela aja, kita pun tak mematok harga. Tapi kadang ada yang kasi cuma Rp 10 ribu," kata dia sambil tertawa.

Ya, mungkin hidup ini sesekali perlu ditertawakan. Tertawa juga tak dilarang negara. 

Kemudian, Parasian juga mengatakan jika iuran per bulan juga harus dibayar. Besarannya pun tergolong besar untuk profesi sekelas porter yang pendapatannya tak seberapa.

Kata dia, iuran itu masuk ke kas BP Batam. Setiap porter di bawah kuasa otorita wajib membayar uang itu per bulan.

Dulunya, ia mengatakan penghasilan dari porter lumayan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Besarannya bisa mencapai Rp 200 ribu.

"Rp 200 ribu udah besar itu. Mau dapat berapa lagi kita, kan. Itu aja udah bersyukur kali," kata Parasian.

Saat ditanya mengenai pendapatannya saat ini, ia tak mau menjawab. Lagi-lagi pria itu hanya tertawa, namun kali ini kepalanya sambil merunduk ke bawah.

Di Bandara Hang Nadim sendiri, porter memang terhitung banyak. Sejauh ini ada 64 orang. Setiap orang dibagikan plot-plot wilayahnya.

"Kita kayak ada pos. Jadi tandanya tiang-tiang tepi jalan ini. Kalau ini wilayah kekuasaan saya, haha," sebut Parasian.

Beda dari kebanyakan orang yang menginginkan harapan ke depan jadi lebih baik. Parasian tak ingin berharap apa-apa. 

"Nggak usah berharap, kawan. Kita ini orang bawah. Bagus hidup biasa-biasa aja, pergi subuh, pulang sore. Ada makanan dimakan, kalau nggak ada, ya, mau gimana lagi. Berharap itu cukup sama Tuhan, selain dari itu jangan," kata dia.

Dari sosok Parasian kita dapat belajar, jika hidup tak melulu harus diratapi. Kondisi yang sulit juga bisa jadi bahan tertawaan, setidaknya untuk meringankan beban di hati.

(jun)