Indonesia Penyumbang Terbesar Cuan Rumah Produksi Animasi Malaysia

Indonesia Penyumbang Terbesar Cuan Rumah Produksi Animasi Malaysia

Upin dan Ipin. (Foto: ist)

Kuala Lumpur - Pandemi Corona sering dianggap 'kiamat kecil' bagi pengelola dunia hiburan. Pendapatan merosot dan tak sedikit perusahaan yang gulung tikar.

Namun, hal itu tak berlaku bagi Les' Copaque Production (LCP) Sdn Bhd. Rumah produksi film animasi di Malaysia ini justru mencatatkan lonjakan pendapatan 40 persen, selama dua tahun terakhir.

Managing Director LCP, Burhanuddin Md Radzi mengatakan, pencapaian impresif tersebut berdampak positif bagi industri animasi lokal.

“Selama pandemi, kami mendapatkan pendapatan lebih tinggi karena selama periode itu, orang-orang duduk di rumah, tidak bisa kemana-mana.

"Jadi, mereka banyak menonton televisi (TV) dan saluran YouTube kami," katanya situs berita Malaysia, BH Online.

Burhanuddin mengatakan perusahaan mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 40 persen untuk tahun buku 2020 dan 2021 dengan Indonesia menjadi kontributor tertinggi.

Hal ini berkat film animasi Upin & Ipin yang begitu disukai oleh pemirsa televisi di Indonesia.

Melihat kesuksesan satu demi satu, LCP khususnya di Indonesia, Burhanuddin tidak memungkiri bahwa brand Upin & Upin semakin kuat.

Baginya, kekuatan karakter Upin & Ipin terletak pada konten yang dekat dengan kehidupan banyak orang.

“Kami membuat cerita sehari-hari dan cerita rakyat di mana setiap orang dapat berhubungan dengan kehidupan mereka. Di Indonesia, yang menonton bukan hanya anak-anak, tetapi seluruh keluarga.

“Siapa pun yang saya temui di Indonesia, pasti akan bercerita tentang kisah Upin & Ipin yang terkait dengan kehidupan mereka.

"Artinya mereka menonton dan mengapresiasi. Tidak mudah untuk mencapainya. Jujur saja, jika tidak ada penggemar di Indonesia, jangan bermimpi mencapai 10 juta pelanggan di YouTube," katanya.

Burhanuddin mengatakan, studio animasi perlu menciptakan karakter animasi populer untuk menghasilkan pendapatan.

"Pada saat yang sama, jika Anda ingin mengharapkan penonton di Malaysia saja, sulit untuk menghasilkan pendapatan. Penduduk negara ini tidak banyak," katanya.

Burhanuddin mengatakan, produk animasi yang diproduksi studio lokal harus dibawa ke luar negeri untuk meraup keuntungan lebih besar. Itulah yang dicapai karakter Upin & Ipin yang kini ditonton di India, Inggris Raya (UK) dan Australia.

“Pada tahun 2019, Disney India menghubungi kami karena ingin menayangkan serial TV Upin & Ipin di sana. Ketika ditayangkan di tahun yang sama, kami mendapat laporan bahwa serial tersebut menempati peringkat kesembilan di antara serial animasi lainnya.

“Pada tahun 2020, seri Upin & Ipin berhasil menempati posisi ketiga,” ujarnya.

Burhanuddin mengatakan platform streaming, Netflix juga tertarik dengan serial animasi Upin & Ipin.

"Awalnya serial Upin & Ipin tayang di Netflix Asia. Namun, tahun lalu tayang di Inggris dan Australia," ujarnya.

Burhanuddin mengatakan, musim ke-15 Upin & Ipin yang siap bulan depan akan tayang di Netflix.

Taman Upin & Ipin

 

Terkait proyek taman hiburan Upin & Ipin yang sebelumnya direncanakan di Pelabuhan Puteri, Johor, Burhanuddin mengatakan, usulan tersebut batal.

Baru-baru ini, pihaknya mendapat tawaran dari pengelola Taman Sireh di Iskandar Puteri, Johor untuk mengembangkan theme park di lokasi tersebut.

“Taman Sireh merupakan kawasan hutan lindung yang dikembangkan untuk kegiatan rekreasi. Perusahaan menawarkan lahan seluas 40 hektar.

“Selain theme park, kami sudah memberikan ide untuk mengembangkan taman kanak-kanak dan fasilitas lainnya secara bertahap. Kami masih menunggu surat kesepakatan dari pihak-pihak terkait,” katanya.

Burhanuddin mengatakan, untuk tahap pertama, pihaknya berencana mengembangkan Kampung Durian Runtuh, rumah Opah, pendopo dan patung Upin & Upin.

"Saya yakin ketika pemerintah membuka perbatasan, penggemar Indonesia dan Singapura akan datang. Ketika menarik pengunjung, kami dapat menarik keuntungan untuk berinvestasi untuk tahap kedua," katanya.

Sementara itu, Burhanuddin berbagi pengalamannya dalam mengembangkan LCP melalui buku berjudul Atok Ranggi Is Talking.

Ia menambahkan, buku yang ditulisnya sejak 2019 dan diharapkan bisa dipasarkan Maret mendatang.

Didirikan pada tahun 2005 dengan misi untuk memimpin industri animasi lokal. Selain Upin & Ipin, LCP memproduksi serial animasi On Ancient Times, Princess, DaDuDiDo, Helping Heroes dan Iqra.

Muncul dengan film animasi pertama Gang: Petualangan Dimulai pada September 2007 disusul film Upin & Ipin Jeng, Jeng, Jeng! pada tahun 2016.

Upin & Ipin: Keris Siamang Tunggal mengumpulkan RM26 juta atau lebih dari Rp 89 miliar pada 2019.

(dod)