Kupas Tuntas Pesan Emas Dibalik Puisi `Tangan` Karya Rida K Liamsi

Kupas Tuntas Pesan Emas Dibalik Puisi `Tangan` Karya Rida K Liamsi

Melan, Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang.

Oleh: Melan

Tangan
(Kepada Melayu)

Jangan bilang punya tangan
Kalau cuma bisa tadah
cuma bisa garuk
cuma bisa raba
cuma bisa kocok

Sebab tangan barulah Tangan
Kalau bisa jadi TANGAN
bisa tangkap
bisa tepis
bisa sepak
bisa tumbuk
bisa tampar

Sebab Tangan barulah Tangan
Kalau tidak jadi t-a-n-g-a-n
Sebab tangan barulah tangan
Kalau malu pada Tuhan
Sebab Tuhan tak tegah

Tangan jadi parang
asal tak sembarang tetak
Jadi pedang
asal tak sembarang tikam
Jadi besi
asal tak sembarang keras

Sebab Tuhan sudah Phuah!
Sebab Tuhan sudah bilang Nah!
Sebab Tangan adalah Anugerah
Maka jangan sembarang Ah!

(1981/1997/2000)

 

Puisi Tangan merupakan satu diantara banyaknya puisi yang ditulis oleh Rida K Liamsi yang dimuat dalam sebuah buku Rose (Antologi puisi dwi bahasa). Rida K Liamsi jika dibaca dari belakang (kanan ke kiri) maka akan muncul nama Ismail Kadir, itulah nama sebenarnya dari penyair ini, beliau juga pernah menggunakan nama pena Iskandar Leo.

Lahir di Dabo Singkep, Provinsi Kepulauan Riau, 17 Juli 1943. Penulis dan penyair asal Dabo Singkep ini memberikan pesan emas (pesan yang berharga untuk kehidupan) yang baik dan menarik melalui beberapa bait saja yang kaya akan makna untuk pesan kehidupan tersusun indah dalam Puisi Tangan karya nya.

Seperti yang tersirat dalam bait pertama;
Jangan bilang punya tangan
Kalau cuma bisa tadah
cuma bisa garuk
cuma bisa raba
cuma bisa kocok

Jangan bilang punya tangan bermakna, seharusnya manusia tak bangga menyebut dirinya punya tangan, kalau hanya bisa meminta tak mampu memberi. Kalau cuma bisa tadah, tadah berarti tangan dibawah, cuma bisa garuk, cuma bisa raba, cuma bisa kocok, tiga larik dalam satu bait yang menggambarkan situasi kacau akibat ulah tangan.

Cuma bisa garuk bermakna meresahkan, karena dengan tangan, perbuatan buruk apapun dapat terlaksana. Cuma bisa raba menggambarkan tangan-tangan hina yang suka mengambil secara perlahan (meraba/raba) sesuatu yang bukan menjadi haknya, berujung pada cuma bisa kocok yang menjadi gambaran akibat kacaunya situasi karena ulah si tangan nakal.

Bait pertama ini menjadi pedang paling tajam untuk menusuk dada para koruptor negara yang memakan uang rakyat tanpa paham, bahwa Allah SWT telah mengisyaratkan sebuah peringatan tentang tangan pula dalam Q.S Yasin ayat 65 yang artinya: ”Pada hari kami tutup mulut mereka, tangan mereka akan berkata kepada kami dan kaki mereka akan memberikan kesaksian terhadap apa yang dulu mereka kerjakan”.

Sudah jelas disini bahwa nanti tangan yang akan memberikan penjelasan dan berkata tentang apapun perbuatan yang pernah ia lakukan selama hidupnya.

Tak hanya itu, rupanya Raja Ali Haji dalam Gurindam 12 nya yang termasyur di negeri ini, pada pasal ketiga bait keempat juga mengisyaratkan tentang tangan yang berbunyi “Bersungguh-sunguh engkau memelihara tangan, daripada segala berat dan ringan” bahwa betapa dahsyatnya tangan bagi manusia, apapun manusia lakukan melalui perantara tangan, untuk itu hendaklah manusia itu memelihara tangannya.

Bait selanjutnya dalam Puisi Tangan ini memberikan gambaran, seharusnya dua tangan yang manusia miliki haruslah menjadi tangan yang dapat digunakan ke arah kebaikan. Bisa tangkap berarti tangan seharusnya mampu menangkap hal-hal buruk yang meresahkan (seperti para koruptor dan penjahat-penjahat lainnya), bukan sebaliknya malah melepaskan.

Bisa tepis, bisa sepak mengisyaratkan seharusnya tangan adalah sarana penegak kebenaran yang mampu menepis dan menyepak bermaksud mampu menghalau, menghindari segala bentuk kecurangan dan sogokan demi jalannya hukum atas mereka yang bersalah, alhasil mampu memberikan hukuman yang pantas untuk mereka yang bersalah atas bentuk kejahatan apapun seperti dalam makna pada bisa tumbuk, bisa tampar.

 

Dan pada bait selanjutnya, yakni bait ketiga dengan bunyi sebab tangan barulah tangan, kalau tidak jadi t-a-n-g-a-n, bermakna bahwa tangan memang harus difungsikan sebagai tangan, dan fungsi tangan yang sebenarnya (yakni hanya untuk berbuat kebajikan), terlihat penekanan makna pada penggalan kata tangan, yakni t-a-n-g-a-n.

Kemudian bait selanjutnya sebab tangan barulah tangan, kalau malu pada tuhan, sebab tuhan tak tegah, bermakna bahwa tangan yang sebenarnya adalah tangan yang malu kepada tuhan jika berbuat hal-hal yang jahat, tidak sesuai dengan aturan agama dan pastinya merugikan orang lain, apalagi itu perihal mengambil hak orang lain, atau korupsi, melalui tangan lah segala perbuatan dapat terlaksana, yang kemudian disambung makna dari bait selanjutnya tuhan tak tegah, memang sebenarnya tuhan tidak melarang (tegah) manusianya memfungsikan kan tangan kedalam bentuk aktivitas apapun asalkan itu berbicara perihal kebaikan dan untuk membantu orang lain.

Tangan jadi parang
asal tak sembarang tetak
jadi pedang
asal tak sembarang tikam
jadi besi
asal tak sembarang keras

Tangan jadi parang, bermakna bahwa tangan diibaratkan sebagai senjata tajam (titik penting untuk berbuat segala hal) bagi kebanyakan orang. Namun ia bisa jadi berbahaya jika (sembarang tetak) difungsikan untuk hal-hal yang tidak baik pastinya akan membahayakan pemiliknya sendiri dan merugikan orang lain, seperti pada contoh kasus maraknya korupsi oleh koruptor negara. Dia akan membahayakan diri dengan terjerat hukum nantinya, kemudian juga akan merugikan orang lain/negara karena yang dia ambil oleh tangannya adalah hak orang lain, dan makna yang sama juga diulangi pada bait selanjutnya yakni jadi pedang asal tak sembarang tikam.

Kemudian jadi besi asal tak sembarang keras, besi disini dalam KBBI pun sangat sesuai makna dengan apa yang hendak disampaikan yakni sesuatu yang keras dan banyak sekali gunanya, sehingga umpama ini mampu mengisyaratkan tangan bak besi jika sesuai dan pandai menggunakannya.

Sebab Tuhan sudah Phuah!
Sebab Tuhan sudah bilang Nah!
Sebab Tangan adalah Anugerah
Maka jangan sembarang Ah!

Dan pada akhirnya sampai pada bait terakhir yang tiap maknanya selalu mendalam, yakni Sebab Tuhan sudah Phuah! (tuhan sudah menyatakan ketidaksukaannya pada mereka yang salah memfungsikan tangan). Sebab Tuhan sudah bilang Nah! (tuhan sudah memberikan tangan mu dengan gratis tanpa syarat, maka gunakanlah untuk manfaat yang baik ), Sebab Tangan adalah Anugerah (dan pemberian itu adalah anugerah), Maka jangan sembarang Ah! (bermakna jangan sembarang memfungsikan tangan) bahkan Allah SWT telah pun memberikan isyarat bagi mereka yang sengaja salah memfungsikan tangan melalui Q.S Maidah ayat 38 yang artinya “Adapun orang laki-laki maupun perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya sebagai balasan atas perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha perkasa, Maha bijaksana”.

Dan dengan begitu pun, betapa berat tanggung jawab mu untuk mengarahkan tangan mu untuk selalu berbuat baik, ingatlah bahwa jika pun hukuman itu tidak berlaku diakhirat, maka hukuman itu pasti menanti mu diakhirat kelak. Akhirat itu terlalu nyata, kepada hati yang tidak buta (Gurindam Dua Belas pasal ke dua belas bait terakhir karya Raja Ali Haji).

Penulis adalah Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang.