Perjuangan Anak Pulau di Lingga Ikut Simulasi ANBK, Arungi Laut Berjam-jam

Perjuangan Anak Pulau di Lingga Ikut Simulasi ANBK, Arungi Laut Berjam-jam

Pelajar SD 013 Senayang dari Pulau Tukul, Desa Pasir Panjang mengarungi laut untuk ikut ANBK di SMA 3 Senayang di pulau yang berbeda. (Foto: Ahmad Yani)

Oleh: Ahmad Yani

Langit mulai gelap, awan hitam menyelimuti pulau Rejai Kecamatan Bakung Serumpun, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepri, Kamis (28/10/2021) siang itu. 

Tampak satu persatu siswa Sekolah Dasar (SD) 013 Senayang berkumpul di pelabuhan karena baru selesai mengikuti simulasi Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK).

Meski diraut wajah mereka mulai tampak capek dan lelah, baju mereka pun ada yang basah dikarenakan gerimis siang itu, namun  siswa ini masih bergairah dan semangat. 

Di wajah mereka terpancar aura ceria dan kebahagiaan, bercerita dan bermain sama-sama temannya sembari menunggu jemputan. Mereka mengikuti simulasi ANBK selama dua hari. 

Bukan mobil apalagi bus sekolah seperti di kota-kota besar yang tiap hari ada menunggu siswa di sekolah, tetapi disini pihak sekolah harus menyewa pompong nelayan dari Sekolah induk  untuk sampai ke Desa Rejai. Perjalanan  ditempuh selama 2 jam. 

SD 013 Senayang ini berada Pulau Tukul, Desa Pasir Panjang, Kecamatan Bakung Serumpun. Selama mengikuti simulasi ANBK, siswa ini harus menginap dua hari dua malam di Desa Rejai. Simulasi ini dilaksanakan di SMA Negeri 3 Senayang. 

Di SD 013 Senayang belum memiliki fasilitas yang memadai untuk mendukung simulasi ANBK layaknya sekolah-sekolah di kota dan Bandar. 

Memang tidak pantas jika kita ingin membandingkan antara sekolah di pulau dan kota. Tetapi mendapatkan fasilitas pendidikan layak adalah harus dimiliki setiap anak-anak di negeri ini. 

Anak di pulau, desa bahkan hutan sekalipun harusnya memiliki fasilitas sama. Mendapatkan hak pendidikan yang sama.

 

Pelajar SD 013 Senayang melakukan ANBK di SMA 3 Senayang

Keterbatasan berupa jaringan internet dan komputer adalah salah satu penghambat untuk langsung melakukan ANBK di sekolah induk. 

Maka, siswa di Tukul ini harus menumpang di SMAN 3 Senayang. Perjalanan laut yang penuh resiko. 

Penulis sempat bertemu dengan guru dan siswa SD 013 Senayang. Ada rasa khawatir di hati para guru membawa siswa SD menyeberang selama 2 jam menggunakan pompong. 

Resiko Angin kencang dan ombak adalah tantangan yang sangat berat yang harus mereka tempuh demi untuk mengikuti ANBK ini.  

Apalagi pada saat datang ke Desa Rejai, basah kuyup dan ada yang sampai menangis lantaran saat perjalanan mereka dihantam ombak dan angin. 

"Kemarin, saat datang ke Rejai, kami berhadapan dengan ombak. Siswa perempuan ada yang menangis. Tapi alhamdulilah, sampai dengan selamat di Rejai," cerita Zulkarnain Guru di SD 013 Senayang. 

Jumlah siswa SD 013 Senayang mengikuti ANBK tidak ramai, hanya sekitar 11 orang. Mereka dibawa 4 orang guru termasuk Kepala Sekolahnya mendampingi siswa ini. Usai selesai Asesmen, mereka diberi makan oleh pihak sekolah.

Di sisi lain, selama simulasi para siswa ini menunjukan kemajuan. Apalagi sebagian siswa hampir sama sekali tidak pernah menggunakan computer dan laptop. 

Pada hari pertama, siswa banyak yang bingung mengoperasikan komputer dan mouse. Pada hari kedua, seluruh siswa sudah bisa menggunakan komputer dan menjawab soal-soal asesemen.

"Ada yang tidak bisa menggunakan komputer sama sekali, tapi saat hari kedua seluruh siswa ini cepat belajar dan mulai memahaminya," ucap Zulkarnain.  

Orangtua murid yang sempat melihat anak-anaknya mengikuti asesmen ANBK juga mengakui jika soal-soal ANBK sulit untuk dijawab anak-anak. Apalagi ANBK adalah program baru. Apalagi anak-anak SD tidak pernah diajarkan komputer.

"Soalnya memang tidak sama dengan soal Ujian Nasional (UN). Pendidikan kita ini memang tidak boleh disamakan dengan anak-anak di Jawa dan di Pulau. Beda jauh. Di Jawa fasilitas bagus, sementara di pulau kan tidak sama," cerita salah satu orangtua murid.

Fasilitas yang lengkap dan bagus adalah salah satu faktor penting bagi kemajuan sekolah. Dengan minimnya akses teknologi ini, penulis berharap pemerintah segera mengambil kebijakan untuk mendorong percepatan pembangunan sekolah di daerah kepulauan. 

Pendidikan adalah salah satu faktor pendukung yang urgen dalam membentuk manusia yang cerdas dan berkarakter. Indonesia adalah Negara yang luas dan besar. Tak hanya hutan-hutanya yang rimbun dan lebat, namun lautnya juga membentang luas dari Aceh hingga  Papua, terdapat puluhan ribu pulau kecil dan besar.  Dengan luasnya ini, bukan pekerjaan mudah membangun Indonesia yang besar ini. 

 

Penulis merupakan guru di SMP Negeri 2 Senayang, Kabupaten Lingga