Menggugat Berita-berita Seremonial

Menggugat Berita-berita Seremonial

Ilustrasi

Oleh: Bersihar Lubis

MAAF, jemu juga kita membaca berita yang merupakan peristiwa seremonial. Berita-berita upacara sering menghiasi media cetak, dan online. Mulai dari HUT sebuah lembaga, reuni, mutasi dan serah terima pejabat, seminar, pelantikan pengurus partai politik, bantuan sembako, peringatan hari besar dan lain-lain yang sejenis.

Jika ditilik-tilik, isinya lebih cenderung semacam pers rilis. Memberitakan kegiatan internal, yang isinya tidak selalu berkaitan dengan edukasi-literasi, apalagi pencerdasan masyarakat. Lebih merupakan kepentingan penyelenggara agar kegiatannya diketahui masyarakat.

Berbeda dengan peristiwa yang bukan seremonial.  Misalnya, kecelakaan lalu lintas, kejadian kriminalitas, kebakaran, banjir, perdebatan dalam sebuah seminar, pertunjukan kesenian atau pagelaran musik yang dahsyat dan bermutu, event final pertandingan olahraga, atau penderitaan rakyat di desa terpencil dan sebagainya. Jenis berita ini, sangat ingin diketahui publik.

Berita jenis terakhir ini, selain sangat informatif, masyarakat juga ingin mengetahui penyebabnya. Menjadi “pembelajaran” bersama, dan berbagai sisi yang bermanfaat bagi kepentingan umum.

Memang, jika ditinjau dari definisi berita, kedua jenis berita tadi sama-sama memenuhi kriteria berita. Yakni, laporan atas suatu peristiwa dilengkapi unsur 5W dan 1 H.

Yang membedakannya adalah tingkat kepentingan publiknya. Berita jenis pertama, lebih fokus kepada kepentingan penyelenggara, meskipun ada unsur informatifnya agar publik mengetahuinya, misalnya siapa pejabat lama dan baru yang serah terima.

Tapi rasanya berita-berita seremonial kurang, jika tak dikatakan tidak menarik untuk dibaca. Terlalu formal dan kaku. Biasanya membaca judulnya saja, orang cenderung melewatkannya. Tidak membaca sampai tuntas.

Jika kuantitas berita-berita seremonial ini banyak pula,  betapa banyak berita yang dilewatkan para pembaca. Betapa sayangnya halaman-halaman yang terpakai justru di masa harga kertas mahal pula.

Bukan Humas

So, pertanyaannya harus bagaimana. Apakah berita-berita seremonial ini tetap dimuat atau sebaliknya. Rasanya terpulang kepada kebijakan redaksional masing-masing media.

Saya merasa diperlukan evaluasi plus minusnya memuat berita-berita seremonial. Saya cenderung untuk meniadakannya jika tampil sebagai berita.

Namun agar lebih moderat, disediakan saja kolom khusus untuk berita-berita seremonial. Namun diperlakukan sebagai iklan atau advertorial dengan tarif yang bersahabat.

Tentu saja tidak dengan kebijakan yang yang “hitam-putih.” Jika berita-berita seremonial tersebut dikemas mendalam, boleh saja dimuat sebagai berita.

Serah terima pejabat misalnya dilengkapi dengan menampilkan profil pejabat baru. Dideskripsikan pengalaman kerjanya yang penting dan menarik, pendidikannya, apa hobinya, istri dan anaknya hingga apa komentarnya dengan jabatan baru tersebut. Pembaca mungkin merasa perlu membacanya dan akan tertarik.

Berita seminar jika dilengkapi dengan jalannya seminar, perdebatan menarik yang muncul, atau cuplikan makalah pembicara yang menarik, dan apalagi merupakan hal yang baru, tetaplah layak ditulis sebagai berita. Bukan advertorial.

Tentu saja berita seremonial yang sangat penting, seperti peresmian proyek nasional yang besar layak dimuat. Dilengkapi dengan deskripsi proyek yang perlu diketahui pembaca, apa makna strategis dan dampaknya bagi masyarakat juga ditampilkan.

Jangan lupakan jalannya upacara yang melukiskan suasana seakan-akan pembaca merasa hadir langsumg pada peristiwa tersebut.

Termasuk tidak mengabaikan pengesahan APBN atau APBD. Lukiskan posturya, bedanya dengan APBN-APBD sebelumnya. Cuplikkan hal-hal baru atau proyek yang menarik. Legkapi juga dengan tanggapan para pengamat anggaran, atau setidaknya komentar anggota legilatif. 

Jenis-jenis berita seremonial yang sangat penting, tentu bisa dirumuskan dalam sebuah kebijakan redaksional. Meskipun fleksibel tapi tetap terukur dan tidak rumit menerjemahkannya.   

Dengan demikian, media cetak dan online, kembali kepada identitasnya sebagai media berita. Bukan buletin pemeritah atau in house newspaper. Kembali setia kepada adagium berita sebagai orang menggigit anjing. Bukan anjing menggigit orang.

Para wartawan pun semakin konsisten melakukan profesi jurnalistik yang sejati. Sebagai reporter, sebagai pelapor atas berbagai peristiwa. Bukan laiknya humas atau public relation sebuah instansi, korporat dan organisasi. Tabik!