Ketangguhan Sultan Mahmud Riayat Syah, Pahlawan Nasional yang Bersemayam di Lingga

Ketangguhan Sultan Mahmud Riayat Syah, Pahlawan Nasional yang Bersemayam di Lingga

Gambar Sultan Mahmud Riayat Syah. (foto: istimewa)

Lingga, Batamnews - Bagi masyarakat Kabupaten Lingga khususnya dan Kepulauan Riau (Kepri) umumnya, tentu kenal akan Sultan Mahmud Riayat Syah. Beliau adalah pemimpin Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang.

Pada tahun 2017 lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah pun menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada empat tokoh yang berasal dari daerah berbeda. Satu diantaranya yakni, Sultan Mahmud Riayat Syah.

Pemberian gelar tersebut berdasarkan Keputusan Presiden nomor 115/TK/TAHUN 2017 sekaligus dalam rangka memperingati Hari Pahlawan Nasional yang diperingati setiap tanggal 10 November.

Adapun keempat tokoh yang dinobatkan meraih gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2017 itu yakni, Almarhum TGKH Muhammad Zainuddin Madjid (Tokoh Provinsi Nusa Tenggara Barat).

Baca juga: Sah, Presiden Jokowi Anugerahi Sultan Mahmud Riayat Syah III Pahlawan Nasional

Kemudian, Almarhum Laksamana Malahayati (Tokoh dari Provinsi Aceh), Almarhum Sultan Mahmud Riayat Syah III (Tokoh Kepulauan Riau), dan terakhir Almarhum. Prof. Drs. Lafran Pane (Daerah Istimewa Yogyakarta).

Berbicara soal Sultan Mahmud Riayat Syah, dilansir dari berbagai sumber, beliau yang juga dikenal sebagai Sultan Mahmud Syah III adalah Sultan yang di-Pertuan Besar Johor-Pahang-Riau-Lingga. Ia memerintah dari tahun 1770 sampai 1811. 

Ia melawan Belanda dengan strategi perang gerilya laut, sehingga kedaulatan Sultan Mahmud Riayat Syah diakui oleh Belanda sebagai penguasa terbesar kesultanan Lingga-Riau-Johor-Pahang. 

Sultan Mahmud Riayat Syah lahir di Hulu Riau, 24 Maret 1756. Ayahnya adalah Sultan Johor ke-13 bernama Abdul Jalil Muazzam Syah. Sang ibu adalah Tengku Puteh binti Daeng Chelak.

 

Meskipun Sultan Mahmud Riayat Syah adalah anak bungsu, sejak usia 14 tahun ia telah menjadi sultan. Ketika ia akhirnya memimpin menjadi Sultan, Sultan Mahmud Riayat Syah memiliki empat orang yang di-Pertuan Muda (YDM). 

Keempat orang tersebut adalah YDM Daeng Kemboja, YDM Raja Haji Fisabilillah, YDM Raja Ali, dan YDM Raja Jaafar. 

Abdul Malik, Dosen Universitas Maritim Raja Ali Haji (Umrah) dalam tulisannya yang berjudul "Sultan Mahmud Riayat Syah: Berhijrah ke Lingga demi Kelangsungan Perjuangan mengutip cerita E.Netscher, residen Belanda di Riau (1861-1870) dalam bukunya De Nederlanders in Djohor en Siak 1602 tot 1865."

Kala itu, tanggal 13 Mei 1787 pasukan Sultan Mahmud Riayat Syah menyusup ke selatan Terusan Riau melalui Penyengat dan Senggarang. Saat malam tiba, pasukan Sultan mulai terlihat dari benteng kecil di bukit.

Baca juga: Sultan Mahmud Riayat Syah: Si "Hantu Laut" yang Ditakuti Armada Belanda

Tidak lama kemudian pasukan Sultan maju dari arah gunung merapat ke pencalang atau kapal besar yang mengangkut barang dagangan sehingga pertempuran tak terelakkan lagi. 

Akibat dari serangan itu banyak pasukan Belanda yang melarikan diri. Bahkan, seorang residen Belanda di Tanjungpinang kala itu, David Ruhde, melarikan diri ke Malaka.

Mengetahui armadanya dibuat tidak berdaya, Belanda kembali menyerang Tanjungpinang dengan angkatan perang yang lebih banyak di bawah pimpinan Pieter Jacob van Braam. Namun sekali lagi, Belanda harus pulang dengan tangan kosong.

Hal ini lantaran pasukan Belanda tidak menemui Sultan beserta rakyatnya di pusat kesultanan di Pulau Bintan.

 

Sultan Mahmud sudah tahu rencana Belanda untuk menyerang balik. Karenanya, Sultan memindahkan pusat kesultanan ke Daik, Lingga. Sultan membawa rakyatnya dengan 200 perahu ke Lingga, ada yang ke Pahang, Bulang, Trengganu, Kalimantan dan kawasan lain di bawah kekusaaan Sultan Mahmud Riayat Syah.

Taktik ini sengaja Sultan pilih untuk mengantisipasi jika satu kawasan diserang, maka tentara dan rakyat dari kawasan lain akan menyerbu musuh secara bersama-sama.

Dengan perpindahannya ke Lingga, Sultan menjadi penghalang besar bagi perdagangan Belanda di Selat Malaka sehingga Kejayaan Belanda di Malaka pun runtuh.

Pada 1795 Inggris mengakui kedaulatan penuh Sultan Mahmud Riayat Syah. Pengakuan itu akhirnya diikuti oleh Belanda. Sultan Mahmud Riayat Syah wafat pada 1812 setelah memimpin Kesultanannya selama 51 tahun. 

Baca juga: Siapa Sultan Mahmud Riayat Syah? Nama Masjid Agung II Batam

Sultan Mahmud Syah III dikenal sebagai pejuang yang pantang menyerah melawan penjajah Belanda. Ia bahkan satu-satunya pejuang yang punya kemampuan bertempur dan bergerilya di laut. Sosoknya sangat disegani dan ditakuti dalam pertempuran di laut.

Bahkan, dalam sebuah pertempuran melawan Belanda pada tahun 1784, pasukan Kerajaan Riau-Lingga yang dipimpin panglimanya Raja Haji Fisabilillah berhasil menenggelamkan kapal perang Belanda. 

Dalam peristiwa itu, sekira 800 tentara VOC Belanda tewas. Ini merupakan pertempuran bersejarah Kerajaan Riau-Lingga. Peristiwa itu terjadi pada 6 Januari 1784.

Tanggal itulah yang kemudian dijadikan sebagai Hari Jadi Kota Tanjungpinang karena pertempuran tersebut berada di wilayah sekitar perairan Tanjungpinang, Pulau Bintan.

Sultan Mahmud Riayat Syah wafat di Daik Lingga, 12 Januari 1812. Jenazahnya kemudian dimakamkan di belakang Majid Sultan, Daik Lingga, dan hingga kini masih ramai diziarahi masyarakat hingga para tokoh ternama.

(ruz)