Berakhirnya Jefridin dkk

Berakhirnya Jefridin dkk

Sekda Batam, Jefridin. (Foto: ist/Batamnews)

Oleh : Robby Patria

JEFRIDIN, meraih prestasi istimewa dalam Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat I angkatan XLIX tahun 2021 yang dilaksanakan Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (LAN RI) pada September lalu. Namun dia tak lulus seleksi Sekretaris Daerah (Provinsi Kepulauan Riau. 

Tak satupun pejabat asal Batam yang masuk ke tiga besar seleksi jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kepulauan Riau. Padahal tiga pejabat Batam yang ikut seleksi bukanlah pejabat kemarin sore. Bahkan ada jebolan UGM.

 Jefridin salah satu yang tak lulus merupakan jebolan Diklat Kepemimpinan tingkat I yang di mana dari Kepri hanya Sardison dan Jefridin yang diizinkan ikut Diklat yang dibuat oleh Lembaga Administrasi Negara itu.

Tentu mendapatkan nilai terbaik untuk 10 orang dari puluhan pejabat kementerian yang ikut Diklat tingkat I itu prestasi hebat tak semua bisa dapat. Sardison yang lulus seleksi Sekda masuk nominasi tiga besar. Namun Sardison tak dapat penghargaan tersebut ketika dia sama sama dengan Jefridin ikut diklat kepemimpinan.

Sekda Kota Batam itu menggaungkan ide dalam proyek perubahannya yakni pembangunan sistem pemantauan kinerja dan anggaran Pemerintah Daerah dalam upaya akselerasi stabilitas perekonomian di Provinsi Kepulauan Riau. Ide menarik mempertimbangkan kebijakan satu data Indonesia yang merupakan upaya pemerintah dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas tata kelola data pemerintah.

Sudah saatnya pelayanan pemerintahan menggunakan sistem teknologi informasi untuk pelayanan publik dan perizinan serta urusan lainnya. E-government bukan menjadi hal yang mustahil. Itulah didorong Jefridin ketika mendapatkan penghargaan level nasional.

Tapi, penghargaan tersebut tak cukup untuk bisa  lulus seleksi tiga besar Sekda Kepri. Ia tersingkir di babak semi final. Kalau di sepak bola, ada empat besar, di seleksi Sekda hanya ada tiga besar. Dan perwakilan Batam terpental. Ia dikalahkan Misni yang tak lain kepala dinas pemberdayaan perempuan Provinsi Kepri.

Jika Raja Azman dan Yusfa Hendri dari Batam tak lulus, mungkin tak banyak yang mempertanyakan. Namun, yang tak lulus adalah Sekda Batam. Sosok berpengalaman menjadi Sekda di Batam tentu saja sering menghadapi 50 anggota DPRD Batam dalam pembahasan anggaran dan masalah lainnya. Timsel Sekda tentu dasar pertimbangan mengacu kepada nilai- nilai hasil asesmen yang mereka buat.

Banyak kasus pemilihan Sekda di Indonesia ada yang diterima kelompok masyarakat. Dan ada juga yang memprotes hingga melakukan aksi demo di Jakarta seperti yang dilakukan warga Papua.

Ketika proses sudah selesai, maka tahapan selanjutnya Presiden akan menentukan siapa yang akan menjadi Sekda Kepri. Penulis memperkirakan Adi Prihantara akan menjadi Sekda karena dia satu satunya dari tiga nama itu yang dekat dan pernah kerjasama dengan Ansar ketika menjadi bupati Bintan 2005-2015.

 Tak mudah memberikan jabatan penting kepada orang baru. Tentulah kalau kita lebih percaya kepada figur yang sudah lama dikenal. Dibandingkan orang baru. Itu sangat manusiawi.

Namun perubahan siapa Sekda terpilih bisa saja terjadi. Karena sebelum nama itu diteken Presiden, semua serba mungkin. 

Seandainya Jefridin lulus tiga besar, maka publik mungkin tak akan bertanya mengapa tak lulus menjadi satu nama dan dilantik. Karena Sardison, Adi Prihantara dan Jefridin pejabat daerah yang sudah mumpuni menduduki jabatan itu. 

Sama halnya ketika Gubenur Muhammad Sani mengirim tiga nama calon Sekda yakni Arief Fadillah, Syamsul Bahrum dan Naharuddin ke Mendagri dan yang terpilih Arief Fadillah jadi Sekda Kepri. Padahal secara senioritas, Syamsul Bahrum dan Naharuddin lebih berpengalaman dari Arief. Lagi lagi yang jadi tetap Arief Fadillah yang tak lain junior Syamsul dan Naharuddin di APDN. Karena bisa jadi gubernur memang menginginkan satu nama yang dia percaya. Yaitu Arief Fadillah yang saat itu Sekda Kabupaten Karimun.

Dan kini, jauh sebelum proses seleksi Sekda dimulai pastilah Gubernur Ansar Ahmad sudah punya harapan tentang satu nama itu.

Perlu diingat, siapapun menjadi Sekda tidak lah mudah di zaman saat ini. Kita masih berhadapan dengan situasi pandemi. Gubernur dihadapkan dengan merealisasikan janji politik selama tiga tahun ke depan. Banyak janji kampanye yang dijanjikan pada pilkada 2020 ditunggu masyarakat Kepri. Contoh sering ditanya masyarakat adalah realisasi sepeda motor untuk RT dan RW.

Memasuki tahun politik tahun 2022 karena dimulainya tahapan pemilu, Sekda ke depan harus berkomitmen menjaga roda birokrasi dan pemerintahan tetap netral dalam segala lini. Inilah ujian Sekda agar tidak terjebak kepentingan politik praktis.

 

Tentang penulis:

Roby Patria

Penulis merupakan Wakil Ketua ICMI Tanjungpinang