In Memoriam: Jejak Karir Putra Pantai Timur Batam, Ruslan Ali Wasyim

In Memoriam: Jejak Karir Putra Pantai Timur Batam, Ruslan Ali Wasyim

Ruslan Ali Wasyim semasa hidup. (Foto: dok/ist)

"Yang bulat tak datang bergolek, yang pipih tak datang melayang." Peribahasa yang selalu dipakai Ruslan M Ali Wasyim mengambarkan cerita panjang perjalanan karir politiknya.

Pria kelahiran 7 Juli 1969 kini itu telah tiada. Berita duka itu datang, Selasa (19/10/2021) malam. Ruslan Ali Wasyim dipanggil Yang Maha Kuasa, usai berjuang dari kondisi kritisnya di RSBP Batam sejak Senin (18/10/2021).  

Sosok Ruslan Ali Wasyim tinggal kenangan. Namun jejak perjalanan politiknya cukup layak dijadikan acuan.

Tiga periode jabatan sebagai wakil rakyat di DPRD Batam diembannya. Bagaimana perjalanan karir Ruslan Ali Wasyim?

Dunia politik sebenarnya bukan hal baru saat ia mulai menapakinya. Ayahnya pernah menjadi Komdes (Komisi Desa) di Partai Golkar.

Kecintaannya pada dunia politik sama besar seperti kecintaannya kepada Partai Golongan Karya (Golkar) yang menjadi tempat dirinya bernaung semasa hidup.

Suami dari Ade Sulistiani ini merupakan orang tempatan yang membangun karir politiknya dari akar rumput.

Ruslan lahir di Kabil Teluk Bakau, Kelurahan Kabil, Kecamatan Nongsa, Kota Batam. Ia bahkan sempat digadang-gadang menjadi calon Wali Kota Batam.

Apalagi, ia didapuk menjabat Ketua DPD II Golkar Kota Batam. Tentunya sudah dikenal cukup mumpuni di kancah politik terutama di Kota Batam saat itu.

Karirnya pun ditapaki dari nol. Mulai dari partisan, hingga menjadi anggota partai Golkar. Dan, memegang tampuk ketua.

"Waktu masih kecil-kecil sering bantu bapak mengantar surat yang berkaitan dengan partai, dan waktu SMA saya sudah mengantongi kartu anggota (KTA) Partai Golkar," ujar Ruslan Ali Wasyim saat berbincang-bincang dengan Batamnews pada 2019 lalu.

Oleh karena itu pula, Ruslan menganggap pencapaiannya saat ini berkat dari proses panjang. Tidak datang tiba-tiba.

Kerja keras dan perjuangan menempanya menjadi sosok yang mandiri. "Saya pernah hidup di pasar. Saya tahu lah bagaimana kehidupan di pasar," ujar Ruslan.

Tidak saja sepak terjangnya di dunia politik yang penuh lika-liku. Kehidupannya sejak kecil pun punya banyak cerita.

Sejak kecil Ruslan sudah jauh dari orangtua. Saat masih duduk di Sekolah Dasar, ia tak tinggal lagi bersama orangtua.

"SD waktu itu (1975) hanya ada di Sekupang, SD Kartini Sei Harapan. Saya tinggal bersama paman, setahun sekali pulang ke Batu Besar. Itu pun di saat Lebaran," ujarnya kala itu.

Maklum saja, di masa tersebut transportasi dan komunikasi ke Batu Besar sangat sulit, jauh dari kondisi saat ini yang serba modern.

Ruslan merasakan bagaimana rasanya jauh dari orangtua sejak kecil. Usia 7 tahun ia sudah merantau.

Setelah tamat SD, pada tahun 1982, Ruslan bersekolah di SMP Tanjunguban yang jauh lebih dekat dari Nongsa.

Apalagi setiap pagi orangtuanya yang bekerja sebagai nelayan hampir kerap mengantar hasil tangkapan.

Saat sekolah SMP 1 Tanjunguban itu lah Ruslan juga mengenal kehidupan keras di pasar. Berkawan dengan orang yang lebih tua dan para pedagang, sopir dan orang dari berbagai latar belakang.

Setelah tamat SMP, Ruslan kemudian melanjutkan jenjang pendidikan ke jenjang SMA. Pilihannya SMA 1 Tanjungpinang di tahun 1985.

Ketika sudah mendaftar, Ruslan diminta orang tuanya untuk pindah sekolah ke SMK 1 Batam, yang ketika itu menjadi SMK pertama dibuka.

Keinginan Ruslan sebenarnya bukan di sekolah eksak. Apalagi ia tak begitu suka dengan hitung-hitungan. Kendati demikian, ia memilih balik ke Batam, menghargai keinginan orangtua. Pilihan berat itu ia ambil. Ia masuk ke jurusan kelistrikan.

Namun tak lama setelah itu, Ruslan pindah ke SMA Kartini Batam. Akhirnya tahun 1988 Ruslan tamat di SMA Kartini.

Setelah tamat SMA, banyak teman-teman Ruslan memilih merantau ke Jakarta, Jogja dan lainnya, tapi tidak dengan dirinya. Ia memilih bekerja demi adik-adiknya yang masih butuh biaya sekolah.

Padahal ia menyebut ingin sekali sekolah di Fakultas Ilmus Sosial dan Politik. Apalagi sejak kecil sudah akrab dengan politik.

Ruslan memendam keinginannya itu. Ia mencari kerja di Batam. Ia pun diterima di Pertamina Tongkang.

Disamping itu, ia juga mencari tambahan penghasilan dari menjadi sopir taksi pelabuhan. Di sana kehidupannya semakin ditempa. Pergaulannya bersama sopir-sopir.

Ruslan juga pernah ikut menjadi perekrut tenaga kerja untuk di Malaysia. Melalui jasa pengerah tenaga kerja milik saudara, ia merekrut orang-orang untuk bekerja di Malaysia.

Tidak cukup lama setelah itu Ruslan pindah lagi ke sebuah perusahaan PT Batam Mas Megah di Batam. Ia mendapat kontrak enam bulan.

Setelah cukup uang, ia berniat melanjutkan cita-citanya yang terpendam. Tapi kali ini ia nyasar ke Akademi Manajemen Perusahaan di Yogyakarta pada tahun 1993. Tiga tahun kemudian Ruslan meraih gelar Diploma tiga (D3).

Setelah itu 1997 ia kembali ke Kota Batam. Ketika itulah pemilu singkat berlangsung pada tahun 1999.

Di saat itu ia memutuskan masuk Partai Golongan Karya (Golkar). Ia berkecimpung di dunia politik. Tidak hanya itu ketika itu Ruslan juga aktif beberapa organisasi.

Pendiri Perpat

Bersama beberapa kawannya Hasannudin, Saparuddin, Sastra dan Jupri, Ruslan juga sebagai salah satu pendiri organisasi masyarakat Persatuan Pemuda Tempatan (Perpat) Kota Batam.

Pergerakan Perpat cukup dikenal. Terutama membela hak-hak masyarakat Melayu yang terpinggirkan.

Perpat Kota Batam pernah menurunkan massa yang besar memprotes mengenai sejarah terbentuknya Batam ke BP Batam kala itu bernama Otorita Batam. "Ada sejarah menyebutkan Batam itu dahulunya adalah hutan dan yang ada hanya monyet dan ular," ujar Ruslan.

Seiring berjalan waktu sampai 2004 Ruslan terus menjalani proses dengan ikut organisasi kepemudaan. Pada tahun 2004 itu juga ia mendaftarkan diri pemilu legislatif.

Ketika itu masih pakai nomor urut. Suara yang ia peroleh banyak. Tetapi nomor urut keliru. Golkar ketika itu mendapat dua kursi, sedangkan ia berada nomor urut tiga.

Tak pantang menyerah, pada tahun 2009 Ruslan mencoba lagi. Pada percobaan kedua ini Ruslan berhasil duduk di bangku DPRD Kota Batam.

Tidak hanya itu pada Musyawarah Daerah Golkar Tahun 2016 ia dipilih menjadi Ketua Golkar Kota Batam sampai 2021. Ia juga menjadi Wakil Ketua KNPI, Gema Kosgoro dan KONI.

Ruslan menyadari semua yang ia lalui penuh dengan perjuangan dan kerja keras. Terutama dalam dunia politik. Baginya, politik salah satu disiplin ilmu selain itu politik adalah seni.

Ia menyadari memang politik adalah kekuasaan, tetapi tidak semata-mata semuanya kekuasaan.

Maju Pilwako

Pada 2019, Ruslan Ali Wasyim sempat menyatakan dirinya dalam pertarungan Pilwako Kota Batam 2020. Hanya saja, hal itu urung terjadi. Walau proses sempat ia lalui saat itu. Maklum, dunia politik penuh dinamika dan strategi.

Bagi seorang Ruslan, politik tidaklah menjijikkan asalkan dijalankan dengan ikhlas dan seni yang baik juga.

Pria 52 tahun itu kini telah tiada. Namun jejak kisahnya tetap terukir menjadi inspirasi bagi anak-anak muda Pantai Timur Batam, Nongsa.

(fox)