Heboh Nicki Minaj Sebut Vaksin Buat Testis Bengkak-Impoten

Heboh Nicki Minaj Sebut Vaksin Buat Testis Bengkak-Impoten

Nicky Minaj. (Foto: Reuters/Eduardo Munoz)

New York, Batamnews - Rapper Nicki Minaj membuat berita. Penyanyi Amerika Serikat (AS) itu mendapat sejumlah kecaman setelah mencuitkan hal yang dianggap tidak akurat soal vaksin Covid-19.

Selasa (14/9/2021), ia menyebut seorang teman sepupunya mengalami pembengkakan testis karena vaksin, bahkan menjadi impoten. Ia pun menolak imunisasi sampai menemukan penelitian yang cukup.

Baca juga: Instagram Akan Penjarakan Selebgram yang Diam-diam Edit Foto Rampingkan Tubuh

"Sepupuku di Trinidad tidak akan divaksin karena temannya mendapatkan itu dan menjadi impoten. Testisnya menjadi bengkak. Padahal temannya sebentar lagi akan menikah dan sekarang pacarnya memutuskan membatalkan hal tersebut," ujarnya dikutip dari akun @NICKIMINAJ.

"Berdoalah dan yakinkan kamu nyaman dengan keputusanmu. No bulli."

Minaj juga menyebut ia kini menghindari acara publik karena memiliki bayi di rumah. Ia tahun ini juga tak tampil di acara amal Met Gala, yang mengharuskan semua tamu divaksin Covid-19.

"Saya punya bayi tanpa pengasuh selama Covid. Tak mau ada risiko karena berkeliaran," uajrnya.

Hal ini menimbulkan kritikan tajam. Seorang koresponden media AS dari MSNBC mengecam Minaj.

"Anda memiliki 22 juta pengikut di Twitter. Anda bisa menggunakan platform untuk mendorong komunitas kita untuk tidak melindungi diri mereka sendiri dan menyelamatkan hidup mereka. Demi Tuhan, Anda dapat melakukan "lebih bai" dari itu," kata Joy Ann Reid.

Baca juga: Ayu Ting Ting Saingi Jennie BLACKPINK Nominasi Selebritis Paling Cantik Sedunia

Sementara itu, seorang dokter yang dikutip CNBC Internasional menulis belum ada kaitannya testis bengkak dengan impotensi dan vaksin Covid-19. Namun manusia memang cenderung mengaitkan segala macam hal.

"Seringkali, hal-hal yang tidak terkait menjadi terkait, dan bagi orang itu, asosiasi itu sangat kuat. Inilah mengapa kita memiliki sains," katanya.

Di AS, keragu-raguan akan vaksin menjadi penyebab kembali meledaknya kasus. Dari jajak pendapat CNBC/Change Research, 34% responden enggan divaksin karena takut efek samping. Sementara 34% lainnya merasa curiga ke pemerintah federal.

(fox)