Curhat Warga Pulau Terluar di Batam: Kurang Perhatian hingga Susahnya Belajar Daring

Curhat Warga Pulau Terluar di Batam: Kurang Perhatian hingga Susahnya Belajar Daring

Yurmalis dan Yani saat menceritakan pengalaman warga Pulau Jaloh selama PPKM Level 4 (Foto:Yude/Batamnews)

Batam, Batamnews - Pemerintah Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri), tampaknya masih belum sepenuhnya memperhatikan kebutuhan masyarakat-masyarakat yang tinggal di wilayah hinterland selama PPKM Level 4 kemarin.

Salah satunya seperti yang dirasakan oleh warga di Pulau Jaloh, Kelurahan Gelam, Kecamatan Bulang, Kota Batam ini.

Pulau yang berada di sisi barat Kota Batam, atau tepatnya di sekitaran Pulau Bulan ini dapat ditempuh selama 1 jam menggunakan jasa boat pancung dari pelabuhan rakyat di Sagulung dengan tarif Rp 30 ribu per orangnya.

Baca: Pemerataan Jaringan Telekomunikasi Belum Sampai ke Pulau Laut di Natuna

Mayoritas warga di pulau ini hampir seluruhnya berprofesi sebagai nelayan, yang pada umumnya hasil tangkapannya di jual ke Singapura.

Selama PPKM Level 4 kemarin, salah satu warga di Pulau Jaloh, Yurmalis bercerita kalau warga di sana merasakan penderitaan yang cukup sulit.

Pasalnya, nelayan tidak bisa menjual ikan hasil tangkapannya ke Singapura karena terdampak lockdown dan PPKM Level 4. Kebanyakan ikan yang mereka jual itu seperti ikan kerapu, ikan dingkis dan lainnya.

“Biasanya kami jual ke toke, nanti dia yang ngantarin ke Singapura. Tapi waktu PPKM Level 4 kemarin nggak bisa kirim ke sana, jadi hasil tangkapan kami kelola sendiri,” kata dia, Minggu (22/8/2021).

Tidak hanya menjual ikan, mereka juga tidak bisa masuk ke Batam karena tidak diizinkan selama PPKM Level 4. Hanya tekong kapal yang diizinkan.

“Jadi kalau belanja, kami titiplah ke tekong kapal untuk beli kebutuhan di sini. Nanti dia yang carikan di Batam,” katanya.

 

Bantuan yang mereka harapkan dari pemerintah pun juga tidak begitu banyak membantu. Warga lainnya, Yani mengaku baru dua kali desa itu mendapatkan bantuan berupa sembako.

“Kemarin itu baru dari Pemko, itupun tidak semuanya dapat, yang terdata saja yang dapat,” ucapnya.

Curhatan warga pun tidak berhenti di sana, selain pendapatan yang terdampak, ternyata akses sekolah online untuk anak-anak mereka pun juga sangat terganggu. Pasalnya sinyal komunikasi sangat susah di sana.

“Tinggal di pulau ini, tidak guna handphone mahal, yang penting kemampuan menangkap jaringan telekomunikasi saja," ungkap Irman.

Baca: Peningkatan Jaringan Telekomunikasi di Senempek Lingga Tunggu Rekomendasi Pusat

Sulitnya akses jaringan telekomunikasi ini, membuat para anak yang tengah sekolah daring, setiap harinya harus mencari dataran tinggi, hanya untuk sekedar mengikuti jadwal pembelajaran sekolahnya.

"Tempat favorit anak-anak di lapangan sebelah sana, itu tepat di dekat bendungan yang baru dibangun Pemerintah Kota," ujarnya.

Walau demikian, proses belajar mengajar secara daring ini biasanya hanya diikuti oleh anak sekolah yang telah duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

Sementara, bagi anak yang duduk di bangku SD dan SMP, hingga saat ini masih tetap menjalankan pembelajaran tatap muka.

"Karena di pulau ini gak ada SMA, hanya ada SD dan SMP saja. Untuk anak kami yang di SD dan SMP, masih belajar tatap muka di rumah gurunya masing-masing," terang Irman.

(ude)