Pengangguran Kepri dan Janji 100 Ribu Lapangan Kerja AMAN

Raden Hari Tjahyono (Foto:Istimewa)

Oleh: Raden Hari Tjahyono

MEMBACA berita Batamnews.co.id Jumat (14/05/2021), "Angka Pengangguran di Kepri Tertinggi se-Indonesia" tentu kita prihatin. Persoalan pengangguran ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, karena jika dibiarkan berlarut akan memunculkan persoalan sosial kemasyarakatan lainnya.

Pembukaan lapangan kerja baru dan mendorong pengangguran untuk menjadi pelaku UMKM atau pedagang mungkin bisa menjadi solusi. Angka pengangguran yang dirilis BPS harus menjadi perhatian bersama.

Syukurlah, sebelumnya Gubernur Kepri Ansar Ahmad dan Marlin Agustina sempat mengemukakan hal ini. Bahwa mereka akan menyiapkan 100 ribu lapangan kerja baru dengan memanfaatkan peluang dibukanya kran FTZ BBK yang akan diperluas ceruknya.

Semoga menjelang akhir periodisasi masa kepemimpinannya bisa tercapai. Namun,  persoalannya adalah bagaimana mewujudkannya?

Baca juga: Angka Pengangguran di Kepri Tertinggi se-Indonesia

Saya yakin ini bukan sesuatu hal yang mudah namun juga bukan berarti sulit, jika semua pihak, negara, pengusaha dan masyarakat bersatu padu untuk mengatasinya. Dalam literatur sosiologi para ahli mendefinisikan pengangguran dalam sudut pandang, tapi semuanya mengarah pada satu titik orang-orang yang belum dan tidak bekerja.

Kendati demikian, secara umum, seseorang bisa dikatakan pengangguran jika memenuhi salah satu syarat atau kriteria sebagai berikut; sedang tidak bekerja tetapi sedang mencari pekerjaan, sedang mempersiapkan suatu usaha baru, tidak memiliki pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan, serta sudah mendapat pekerjaan tetapi belum mutlak bekerja.

Nah, bagaimana dengan di Kepulauan Riau? Mana kluster pengangguran yang banyak? Terkait hal ini, bisa berkolaborasi dengan BPS untuk mengurai persoalan ini dari sisi pendataan.

Selanjutnya, dari sisi lain atau jenis-jenis pengangguran yang diungkap oleh sosiolog-sosiolog di Indonesia juga ternyata banyak jenisnya. Mengutip sebuah tulisan di dosensosiologi.com, "Cara Mengatasi Pengangguran dan Solusinya di Indonesia," ada setidaknya beberapa jenis pengangguran.

Pertama, pengangguran friksional dan pengangguran Sukarela. Kedua pengangguran ini merupakan pengangguran yang bersifat sementara.

 

Untuk mengatasi kedua pengangguran itu dapat dilakukan dengan cara, melakukan Proyek Padat Karya. Cara ini dilakukan untuk menambah kesempatan kerja dengan mendirikan industri baru, pembangunan jalan raya, jembatan dan lain-Lain.

Kemudian menarik investor baru dengan cara deregulasi dan debirokratisasi. Selanjutnya pengembangan transmigrasi untuk menambah lapangan kerja baru di bidang agraris dan sektor lain. Memberikan bantuan pinjaman lunak dan bantuan lain untuk memacu kehidupan industri kecil.

Pengangguran jenis kedua yakni, pengangguran konjungtural. Inti permasalahan pada pengangguran konjungtural ini adalah menurunnya tingkat perekonomian masyarakat yang diakibatkan menuju pada resesi dan depresi pemerintah, dengan demikian harus menjaga kestabilan ekonomi.

Untuk mengatasi pengangguran jenis ini yang bisa dilakukan adalah, meningkatkan daya beli masyarakat sehingga pasar menjadi ramai dan akan meningkatkan jumlah permintaan. Dengan demikian, perusahaan harus meningkatkan produksi dengan menambah tenaga kerjanya.

Baca juga: Dilema dan Asa Provinsi Baru

Bisa juga dengan memberikan regulasi dalam bunga bank, hal ini dilakukan agar bunga bank nilainya tidak terlalu tinggi, sehingga dampak positifnya akan dapat menarik para investor menyimpan uangnya di dalam bank.

Ketiga, pengangguran struktural. Perubahan struktur yang terjadi pada sektor ekonomi dan agraris kemudian dalam sektor industri mengakibatkan banyak terjadi pengurangan tenaga kerja manusia. Hal ini lantaran manusia tidak siap melakukan persaingan dengan teknologi.

Solusi atau ikhtiar yang bisa dilakukan untuk menangani pengangguran jenis ini adalah, menyediakan serta memberikan lapangan kerja pada sektor lain yang memiiki nilai lebih postensial guna mendukung sektor perekonomian. Pelatihan tenaga kerja untuk mengisi yang masih membutuhkan. Menarik investor, khususnya merangsang berdirinya industri baru.

Ada juga pengangguran musiman. Pengangguran ini adalah salah satu jenis pengangguran yang paling sering ada di Indonesia. Adapun cara yang dapat diatasi sebagai solusi mengatasi pengangguran musiman ini antara lain adalah sebagai berikut.

Seperti keterampilan lain, selain bidang yang sudah digeluti. Hal tersebut dapat digunakan untuk melakukan pekerjaan lain pada saat musim-musim tertentu (biasanya saat petani menunggu panen). Menginformasikan lowongan pekerjaan yang ada di sektor lain kepada masyarakat.

 

Pengangguran deflasioner. Pengertian pengangguran deflasioner adalah pengguran yang terjadi apabila lowongan pekerjaan yang ada tidak cukup untuk dapat menampung seluruh tenaga kerja.

Solusi dari pengangguran jenis ini bisa dilakukan dengan pelatihan tenaga kerja, terutama diarahkan untuk tenaga kerja yang akan dikirim ke luar negeri, supaya mereka tidak hanya menjadi tenaga kasar, tetapi minimal menjadi tenaga terampil atau bahkan tenaga ahli. Sebagaimana cara untuk mengatasi pengangguran lain, menarik investor baru sangat perlu dilakukan.

Terakhir adalah pengangguran teknologi. Pengangguran teknologi yang ada di dalam kehidupan masyarakat adalah jenis pengangguran sebagai akibat dampak globalisasi yang tidak bisa dielakkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dari persoalan ini hal yang bisa dilakukan adalah mempersiapkan serta membekali masyarakat untuk bisa menerima dan melakukan perkembangan dalam teknologi. Langkah mudahnya bisa dilakukan dengan memasukkan kurikulum tentang teknologi pada sekolah-sekolah atau di universitas.

Baca juga: Bukan Sekadar Angka-angka

Hal ini bertujuan agar masyarakat bisa mengenal perkembangan dan kemajuan teknologi yang ada. Selanjutnya melakukan pengenalan tentang teknologi kepada seseorang anak sejak ia dini, serta memberikan pantauan untuk mengantisipasi hal-hal negatif yang terjadi.

Pelatihan tenaga pendidik yang ada di Lembaga Pendidikan, cara ini dilakukan agar tenaga pendidik mampu dan sanggup menguasai teknotogi baru yang harus disampaikan pada anak didik dalam dunia kerjanya nanti.

Nah, saya berharap persoalan pengangguran di Kepri yang meningkat ini bahkan jadi juara pertama se-Nasional jadi perhatian bersama. Kita ingin Kepri  punya prestasi positif dan juara di segala bidang.

Kita tidak mau Kepri juara dalam beragam persoalan sosial, kita ingin Kepri juara mengatasi persoalan sosial yang ada seperti pengangguran dan kemiskinan.

Ayo bergerak bersama, lakukan apa yang bisa kita lakukan jika negara absen untuk menanganinya dimulai dari diri, keluarga dan masyarakat di sekitar kita, kita berikhtiar menciptakan lapangan kerja tentunya dengan terus mengingatkan Pak Ansar-Bu Marlin dengan janji menciptakan 100 ribu lapangan kerja. Semoga!

Penulis adalah Politisi PKS dan Wakil Ketua II DPRD Kepulauan Riau.


Berita Terkait