Harga Bitcoin Pecah Rekor, Tembus Rp 800 Juta di Indodax

Ilustrasi.

Jakarta - Harga 1 Bitcoin kembali cetak rekor tertinggi. Harganya menembus Rp 800 juta di platform jual beli aset kripto Indodax pada Sabtu, 20 Februari 2021.

Nilai ini mengalami lompatan besar dibandingkan hari sebelumnya, di mana Bitcoin berada di level Rp 750 jutaan.

Sentimen positif pada Bitcoin terjadi karena meningkatnya permiuntaan yang terjadi di pasar global. CEO Indodax, Oscar Darmawan, mengatakan bahwa sejumlah perusahaan besar macam Tesla, Square, JP Morgan, dan MicroStrategy, yang diketahui memborong Bitcoin baru-baru ini.

Perusahaan-perusahaan tersebut membeli Bitcoin hingga ratusan juta dolar atau mencapai triliunan rupiah.

"Kenaikan fantastis Bitcoin terjadi karena tingginya permintaan dari dunia korporasi,” kata Oscar Darmawan, CEO Indodax dilansir kumparan.

Pada saat bersamaan, harga altcoin (alternative coin) atau aset kripto lain selain Bitcoin, juga menunjukkan penguatan harga karena tingginya permintaan. Hampir semua aset cryptocurrency mengalami peningkatan harga 100 persen dari awal 2021 hingga saat ini.

Di sisi lain, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengingatkan masyarakat untuk tetap berhati-hati saat investasi pada aset kripto. Karena, pergerakan harganya sangat fluktuatif.

Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan Pasar Bappebti, Sahudi, mencatat, pada 2012 nilai Bitcoin hanya setara USD 5-7 per keping, lalu sempat menjadi seharga USD 970 pada awal 2017. Kemudian, melonjak di perdagangan akhir 2017 menjadi USD 20.000 per keping.

Memasuki awal 2018 harganya turun menjadi setara USD 13.657 per keping, bahkan sempat anjlok di awal 2019 menjadi USD 3.742 per keping. Pada awal 2020 harga kembali naik ke USD 8.400 per keping dan tren kenaikan ini terus berlanjut.

"Dalam nilai rupiah, bayangkan itu harganya sudah hampir sama dengan satu unit rumah, hati-hati ini makannya. Ini menarik memang, karena harganya terus meningkat, tapi bisa saja ke depan malah turun," jelas Sahudi.

(dod)