Imlek 2021 Tanpa Festival Perang Air di Meranti
Festival Can Cui saat perayaan imlek sebelum pandemi. Kini festival tersebut ditiadakan. (Foto: Batamnews)
Meranti - Festival Cian Cui (perang air) menjadi helat yang dinanti-nantikan oleh masyarakat maupun wisatawan pada perayaan Imlek di Kota Selatpanjang, Kepulauan Meranti. Namun, di Tahun 2021 ini pagelaran tersebut ditiadakan karena pandemi Covid-19.
Pandemi Covid-19 memang membuat beragam aktivitas tersendat. Tidak dianjurkan mengadakan kegiatan yang sifatnya mengumpulkan banyak orang dan harus taati protokol kesehatan. Di tahun ini, beragam pagelaran Imlek pun ditiadakan.
Perayaan Imlek di Selatpanjang cukup berbeda dengan daerah lain. Ada beragam pagelaran yang digelar; pawai Dewa Co She Kong keliling kelenteng, arak-arakan barongsai, pesta kembang api dan yang paling istimewa Festival Cian Cui.
Cian Cui kini sudah tidak asing lagi bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Festival tersebut juga hanya ada di dua negara, yakni Thailand dan Indonesia (Kota Selatpanjang).
Paguyuban Tionghoa Kepulauan Meranti bersama unsur terkait telah sepakat untuk meniadakan Festival Cian Cui dan sejumlah perhelatan rutin lainnya pada rapat koordinasi beberapa waktu lalu. Hal tersebut juga disetujui oleh Kapolres AKBP Eko Wimpiyanto SIK, Ketua Paguyuban Tionghoa Indonesi (PSMTI) Wanandi Salim, Sekretaris Yayasan Umat Beragama Budha (YSUBB) Tjuan An SH, Ketua Matakin Djalius, Ketua Majelis Tri Darma Sakti Handos, serta Kepala Disparpora Rizki Hidayat.
"Cian Cui ini merupakan perhelatan yang sejatinya memang mengumpulkan atau mengundang kerumunan. Sehingga dapat dipastikan tahun baru Imlek kali ini sepertinya tidak semeriah tahun sebelumnya," tutur Sekretaris YSUBB Kepulauan Meranti Tjuan An SH, Jumat (12/2/2021).
Dia juga mengaku, kegiatan peribadatan pun dibatasi. Masyarakat yang merayakan Imlek juga dianjurkan untuk sembahyang di rumah saja.
"Pelaksanaan ibadah dimasing-masing kelenteng harus menerapkan protokol kesehatan. Pengurus kelenteng juga akan menyediakan alat ukur suhu tubuh dan tempat cuci tangan. Masyarakat juga wajib memakai masker dan menjaga jarak aman," paparnya.
Dari pantauan di lapangan sejak tadi malam hingga saat ini, sejumlah jalan protokol di Kota Selatpanjang terlihat tak begitu ramai. Kemerlap lampion merah khas etnis Tionghoa pun hanya menghiasi beberapa ruas jalan saja.
Biasanya, event tahunan yang digelar di kabupaten termuda di Riau itu mengundang banyak wisatawan. Tak menutup kemungkinan juga bagi turis mancanegara dari berbagai penjuru negara juga hadir untuk ikut dan menyaksikan Festival Cian Cui.
Hal tersebut tentunya mendatang income bagi pengusaha hotel dan restoran. Termasuk juga untuk pendapatan bagi daerah yang menarik pajak sebesar 10 persen dari tamu yang datang.
Dengan tidak digelarnya pagelaran tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Meranti kehilangan sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pajak hotel yang berkisar ratusan juta rupiah. Sebagaimana yang diakui oleh Kepala Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Kepulauan Meranti, melalui Kabid PAD Zulkifli.
"Potensi pajak hotel ketika perayaan perang air sebelumnya itu hampir Rp300 juta. Untuk tahun ini, pendapatan pajak tersebut akan hilang begitu saja. Namun itu semua bukan keinginan kita. Kami siap mendukung kebijakan pemerintah, kita inginkan yang terbaik," jelasnya.
(cr8)

Komentar Via Facebook :