Trauma Pabrik Pindah dari Batam, Pengusaha Deg-Degan UMK Naik

Ketua Apindo Batam, Rafki Rasyid. (Dok. Batamnews)

Batam - Kalangan pengusaha di Batam mensyukuri jika UMK 2021 tidak naik. Isu mengenai kenaikan upah minimum kota (UMK) di berbagai wilayah tengah 'ramai' jelang batas terakhir penetapan UMK 21 November 2020.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Batam Rafki Rasyid mengatakan, masih ada trauma ketika puluhan industri cabut ramai-ramai dari Batam beberapa tahun silam. Ia mengklaim itu terjadi akibat adanya kenaikan upah yang tinggi.

"Kalau kita paksakan naik, kita khawatir terjadi seperti 2017. Banyak yang pindah ke Myanmar, ke Vietnam juga banyak pindah. Ada 64 perusahaan langsung dalam setahun pindah, ini nggak kita inginkan," kata Rafki via CNBC Indonesia, Jumat (20/11/2020).

Ia menyebut hengkangnya puluhan perusahaan itu karena mencari upah murah di negara lain. Sementara investor menilai Batam tidak kompetitif dalam hal upah. Bagi industri padat karya, upah murah menjadi kunci untuk bertahan.

"Kamboja, Myanmar upah minimal di bawah Rp 2 juta, Vietnam aja Rp 3 juta. Kita sekarang di atas Rp 4 juta," sebutnya.

Ia menyebut UMK Batam menjadi salah satu yang tertinggi di wilayah Sumatera. Meski diakui masih berada di bawah beberapa wilayah seperti Kabupaten Karawang, DKI Jakarta, Kota dan Kabupaten Bekasi, namun itu tidak bisa menjadi patokan yang kuat dalam penetapan UMK.

"Mungkin Karawang, Bekasi, DKI Jakarta ada yang lebih tinggi. Namun, perlu dilihat kita nggak bersaing dengan Karawang, Bekasi, DKI, tapi Batam bersaing dengan Myanmar, Kamboja, Vietnam, kan Batam perbatasan, jadi kita rebut-rebutan investor dengan negara tetangga," jelasnya.

(fox)