IPAL Solusi Ketersediaan Air Bersih Batam di Masa Depan

IPAL Solusi Ketersediaan Air Bersih Batam di Masa Depan

Instalasi pengelolaan air limbah yang dibangun di Kota Batam.

Batam - Ketersediaan air bersih yang dimiliki Kota Batam, Kepulauan Riau sangat terbatas. Pasokan air baku yang ada di sejumlah waduk tidak mampu mencukupi kebutuhan masyarakat dalam jangku waktu lama. 

Terbatasnya ketersediaan air bersih di Batam seiring dengan jumlah penduduk yang terus meningkat serta tingginya konsumsi air yang mencapai 200 liter per orang perhari. 

Batam sendiri sempat dua kali mengalami krisis air bersih. Pertama saat pasokan air di Waduk Sei Harapan mengalami penyusutan yang tajam dan berakibat pada masyarakat di area Sekupuang dan sekitarnya pada 2019. 

Terakhir adalah defisit air bersih yang terjadi di Waduk Duriangkang hingga 225 liter perdetik dalam beberapa bulan belakang yang mengancam distribusi air bersih ke 80 persen pelanggan. 

Melihat tingginya kebutuhan air bersih di Batam, Badan Pengusahaan (BP) Batam terus menggesa pengerjaan proyek Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). 

Proyek ini diharapkan mampu mengatasi ketersediaan air bersih di Batam dengan mengolah limbah domestik menjadi air siap pakai. 

Limbah Domestik dari pemukiman warga yang telah terpasang sambungan pipa akan diolah di Waste Water Treatment Plan (WWTP) Bengkong Sadai yang menghasilkan air baku yang jernih, tidak berbau, dan bersih dari bakteri. 

Kapasitas air yang dihasilkan sebanyak 230 liter perdetik tersebut akan dialirkan ke dua waduk yang ada di Batam yaitu Waduk Baloi dan Duriangkang. Dengan air daur ulang dari hasil olahan limbah domestik tersebut diharapkan mampu menjad alternatif ketersediaan air baku di Batam. 

Ke depannya air minum di Batam tidak lagi digunakan untuk keperluan produksi industri, menyiram taman, maupun mencuci, Sehingga Batam bisa aman dari ancaman krisis air bersih dan kekeringan. 

(ADV)