https://www.batamnews.co.id

Ambil Alih dari ATB, BP Batam Siapkan Skema Penyaluran Air

Kepala BP Batam, Muhammad Rudi (Foto:Batamnews)

Batam - Badan Pengusahaan (BP) mulai menyiapkan skema penyaluran air pada saat transisi peralihan pengelolaan air dari PT Adhya Tirta Batam (ATB) ke BP Batam. Untuk diketahui masa konsesi PT ATB berakhir pada bulan November 2020.

Kepala BP Batam, Muhammad Rudi memastikan kelancaran distribusi air baku kepada masyarakat menjadi prioritas. Ada dua skema yang disiapkan untuk masa peralihan tersebut.

Pertama, tetap menjaga struktur pengelolaan air yang ada saat ini dipegang pihak swasta, sampai nantinya Badan Layanan Umum (BLU) di bawah BP Batam siap mengambil alih pengelolaan air di Batam. Alternatif kedua, pengelolaan air di Batam langsung diambil alih BLU.

"Kalau langsung BLU takut itu akan terkendala, itu alternatif yang pertama. Kedua, mungkin juga langsung diambil alih BLU. BLU ini mudah saja sebenarnya, kita hanya minta ijin ke Menpan (Menpan-RB) atas surat dari Bapak Menko (Menteri Perekonomian)," ujar Rudi, Selasa (4/8/2020).

Selanjutnya, Ia akan memilih satu skema yang ada. Rudi juga menambahkan bahwa jika pihak lain melanjutkan pengelolaan air setelah konsesi dengan ATB berakhir maka tidak memikirkan BLU.

Sedangkan jika kerja sama dengan pihak swasta ini tak dilanjutkan, maka BLU harus disiapkan segera. Supaya transisi orang masuk ke BLU dijalankan.

"Kedua alternatif ini mungkin, intinya penyaluran air lancar. BP tidak cari profit, tapi bagaimana layanan itu bisa menjadi profit," kata dia.

Sementara itu, pihaknya juga sedang menyelesaikan perhitungan untuk kebutuhan air baku bagi rumah tangga maupun industri. Sampai saat ini, Rudi menuturkan bahwa belum ada formula untuk menghitung kebutuhan air baku pada masa yang akan datang.

“Misalnya saya butuh satu gelas sehari, berarti dalam satu bulan butuh 30 gelas, jadi untuk air baku, harus tahu kebutuhannya, itu harus disiapkan,” jelasnya.

Menurut Rudi jika telah ditemukan formula untuk menghitung kebutuhan air baku itu, maka masyarakat tidak akan terkena dampak dari rationing.

“Kita mau tidak ada lagi gangguan untuk mendaparkan air baku,” katanya.

(ret)