Bisnis Kendaraan Bekas Babak Belur Dihajar Corona

Bisnis Kendaraan Bekas Babak Belur Dihajar Corona

Hendi Ong, pemilik diler mobil bekas di kawasan Cikitsu, Batam Centre. (Foto: Diah/batamnews)

Batam - Pandemi Corona menghantam semua sektor usaha. Salah satu sektor yang terdampak adalah pelaku bisnis jual beli kendaraan bekas, baik mobil maupun motor.

Dalam tiga bulan sejak Covid-19 mewabah, omset penjualan pedagang kendaraan bekas turun drastis hingga 70 persen.

Seperti diungkapkan Jimmy, penanggung jawab sebuah diler motor bekas di kawasan Batam Centre, Batam, Kepulauan Riau. 

"Sebelum (pandemi) Corona, kami bisa jual hingga 50 unit motor dalam sebulan. Namun kini paling banyak hanya 15 unit saja," ungkap Jimmy kepada Batamnews, pekan ini.

Kendaraan yang masih laku rata-rata berjenis matik. Sementara, untuk jenis cub dan sport, angka penjualannya bisa dihitung dengan jari satu tangan.

Menurut dia, saat lebih banyak orang yang menjual motor demi menutup kebutuhan. Kalaupun dilernya membeli, maka yang diambil adalah kendaraan yang cepat laku.

"Kami sih kalau motor yang dijual itu yang dicari pelanggan dan kami butuhkan ya kami ambil. Kalau tidak yang tidak kami ambil," ujar Jimmy. 

Lesunya penjualan tak hanya dirasakan pasar motor. Hal yang sama juga diungkapkan Hendi Ong, pemilik diler mobil bekas di kawasan Cikitsu, Batam Centre. 

Hendi mengakui jika selama pandemi harga unit mobil di pasaran ikut anjlok secara signifikan. Remuknya harga mobil disebabkan banyak diler tidak menerima unit, sehingga masyarakat yang membutuhkan uang menjual sendiri.

Akibatnya, harga mobil turun drastis karena masyarakat banyak menjual dengan harga di bawah standar showroom.

"Karena kami kan berpatokan pada pembiayaan juga kalau pembiayaan tidak ada tapi kita nyetok mobil terlalu banyak sedangkan pembiayaan tidak bisa risikonya dana kami terpendam," ucap Ong.

Proses kredit makin ketat

 

Ong juga menyebut penjualannya menurun hingga 50 persen. Namun penurunan omset ini lebih disebabkan ketatnya proses kredit melalui lembaga pembiayaan (finance/leasing).

"80 persen konsumen saya membeli kendaraan secara kredit. Sisanya bisa membayar secara tunai," kata Ong.

Memasuki pandemi Corona, Ong menyebut lembaga pembiayaan kini memperketat, bahkan menutup pintu kredit bagi konsumen.

"Semenjak Corona ini kan banyak perusahaan pembiayaan yang tidak bisa memberikan fasilitas kredit, terus selain itu pengajuan kredit juga diperketat sehingga itu yang membuat masyarakat daya belinya berkurang drastis," kata Ong.

Sementara, untuk kredit motor bekas, Jimmy menyebut hal yang sama. Proses kredit semakin diperketat, dan angka uang muka diperbesar.

"Sedangkan dari leasing sendiri syarat diperketat. Seperti misal mereka harus punya rumah sendiri dan pekerjaan juga harus permanen tidak ada kemungkinan PHK. Dan jika sebelumnya DP boleh 1-2 juta sekarang DP harus 50 sampe 60 persen," jelas Jimmy. 

Baik Jimmy maupun Ong sama-sama berharap pandemi Corona ini segara berakhir agar iklim ekonomi kembali cerah dan tingkat daya beli masyarakat membaik.

(das)