Siap-siap Penjatahan Layanan Air Bersih di Batam Kian Dekat

Ilustrasi.

Batam - PT Adhya Tirta Batam akan melakukan penjatahan (rationing) layanan air bersih di Kota Batam pada 15 maret 2020. Hal ini diupayakan untuk memperpanjang umur DAM Duriangkang yang terus megalami penyusutan.  

Walaupun hujan sempat terjadi sebentar di Batam beberapa hari lalu, hal ini tidak lantas mempengaruhi debit air di DAM Duriangkang.

Humas PT. ATB Iksa WIjanarko mengatakan level permukaan air terus mengalami penurunan.“Saat ini level permukaan air terus menurun, berada di minus 3,15 meter dari spillway batas pelimpahan air,” ujarnya, Selasa (10/3/2020).

Setiap hari level air di waduk turun 2 Cm. Batam dikatakannya semakin dekat dengan ancaman krisis air baku.

"Jika air menyentuh level minus 3,4 meter di bawah bangunan pelimpah, maka IPA Tanjung Piayu dan pompa intake yang menyalurkan air dari waduk Duriangkang ke IPA Muka Kuning akan berhenti beroperasi," sebutnya.

Kepala BP batam Muhammad Rudi juga mengatakan kebijakan ini merupakan langkah yang saat ini bisa dilakukan untuk menjaga operasional waduk.

“5 hari on 2 hari off ini untuk mencegah, mana tahu perkiraan hujan akan turun di akhir bulan april dan maret,” ujar Rudi.

Selain upaya rationing ini, upaya religi seperti salat istisqa juga telah dilakukan jumat lalu, (6/3/2020). Salat ini juga akan dilakukan rutin minimal satu minggu sekali setiap Jumat oleh BP Bata,.

“Surat edaran sudah kami buat. Kalaupun mau tiap hari dilakukan boleh habis salat zuhur. Kalau engga ya seminggu sekali,” ujar Rudi.

Namun yang pasti, BP batam juga tengah melakukan lelang pipa untuk menyalurkan persediaan air baku di Waduk Tembesi ke Waduk Mukakuning yang memiliki jarak 2,8 Km yang direncakan terlaksana pada Juli 2020.

“Ini juga tidak bisa kita percepat karena proses lelangnya agak panjang. Anggaran sudah ada DED harus diselesaikan dulu baru masuk lelang fisik,” ucapnya.

Pembasmian eceng gondok dipermukaan air untuk mencegah pendangkalan waduk juga terus dilakukan. Penghancuran menggunakan mesin harvester.

Teknologi hujan buatan

BP Batam sebelumnya juga menjalin kerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk membuat teknologi hujan buatan.

Realisasi usaha ini akan memakan waktu pengkajian selama 2 minggu untuk menentukan teknologi yang akan digunakan dan proses uji kelayakan dengan biaya Rp 100 juta utuk proses kajian.

Namun upaya ini ternyata tidak menjamin Batam akan mengalami turun hujan dalam waktu dekat dan menambah debit air di waduk-waduk yang ada di Batam.

“Membuat hujan buatan harus melihat awan juga kalau awannya tidak ada tanda-tanda air tidak bisa dibuat. Awan ada air pun, bisa saja beresiko, misal sekarang di atas Batam tapi datang angin terbawa ke Singapura. Yang hujan malah Singapura,” kata Kepala BP Batam Muhammad Rudi, Selasa (10/3/2020).

Realisasi teknologi hujan buatan ini akan dilakukan dalam Maret ini, setelah studi kelayakan dilakukan. Teknologi ini rencananya akan dilakukan di Batam selama 1 tahun hingga waduk Duriangkang kembali ke titik normal.

(das)