Batam Rentan, Krisis Air Baku Jelang Akhir Konsesi dengan PT ATB
Waduk Muka Kuning, salah satu sumber air di Batam juga mengalami penyusutan serupa dengan Waduk Duriangkang. (Foto: Ist/Batamnews)
Batam - Waduk Duriangkang mengalami penyusutan signifikan. Instalasi Pengolahan Air (IPA) Duriangkang terancam berhenti beroperasi akibat menurunnya debit air. IPA ini melayani ratusan ribu pelanggan di Batam, dan merupakan sumber air utama selama ini.
Batas permukaan air di spillway terus menurun hingga -3 meter saat ini. Krisis air bersih yang mengancam Kota Batam 2020 juga bertepatan dengan berakhirnya konsesi antara BP Batam dan PT. Adhya Tirta Batam yang selama ini menjadi operator layanan air bersih di Kota Batam.
Ditengah krisis saat ini, dikhawatirkan proses akan berakhirnya konsesi mempengaruhi layanan ATB terhadap masyarakat. Namun Direktur Badan Usaha Fasilitas dan Lingkungan Badan Pengusahaan (BP) Batam Binsar Tambunan menepis anggapan itu.
"Tidak ada hubungannya konsesi dengan DAM Duriangkang. Proses konsesi akan terus berjalan sampai waktunya. Masalah ini juga akan kita atasi," kata
Head of Corporate Secretary PT. ATB Maria Jacobus mengatakan, pihaknya juga akan menghormati kontrak yang telah disepakati.
"Kami pada prinsipnya kami menghormati sebuah kontrak yang memang harus diakhiri tentu akan kami akhiri. Kami tidak akan ngotot untuk tidak diakhiri," kata Maria.
ATB akan tetap menjalankan tugas sebagai operator dengan hingga kontrak berakhir. Jika memang dalam proses selanjutnya ATB dibutuhkan untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang saat ini tengah terjadi di Kota Batam, mereka mengaku siap untuk menjalankan tugas.
"Tapi bahwa kemudian ada situasi yang dibutuhkan kehandalan ATB untuk berkontribusi, kami siap-siap saja untuk menjalankan jika itu diminta oleh regulator," ucap Maria.
Konsesi ATB dijadwalkan berakhir November 2020. Pengelolaan distribusi air bersih akan diambil alih oleh BP Batam. Belum diketahui apakah ATB akan memperbarui konsesi, atau diganti perusahaan lain, bahkan BUMD yang santer terdengar selama ini.
Namun Maria mengingatkan, jika ATB salah satu perusahaan pengelola air terbaik di Indonesia.
"Kalau kehandalan kami belum dibutuhkan oleh regulator ya kami tidak ngotot juga meminta. Setelah ATB berakhir siapapun operatornya harus lebih baik dari ATB. Dan kami saat ini adalah perusahaan air bersih di Indonesia dengan tingkat kebocoran minim terendah dan terefisien," paparnya.
Terkait krisis air bersih di Dam Duriangkang pada 2020 ini, sebelumnya juga sudah disampaikan ATB 3-4 tahun sebelumnya.
Dam Tembesi, selama ini dinilai sebagai salah satu solusi untuk tambahan air baku dalam distribusi air bersih ke masyarakat yang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.
"Dam tembesi itu ada dalam kalkulasi kami. Tapi bagaimana kalkulasinya mari berdiskusi dengan terbuka. Kami sangat siap membantu BP Batam (jika diminta) dalam mengatasi krisis air bersih yang sudah di depan mata," papar Maria.

Komentar Via Facebook :